Islamic Article

HAKIKAT MANUSIA MENURUT IBNU MISKAWAIH

Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik. Karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam artian tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai. Selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia. Manusia merupakan makhluk yang paling menakjubkan, makhluk yang unik multi dimensi, serba meliputi, sangat terbuka, dan mempunyai potensi yang agung.

Timbul pertanyaaan siapakah manusia itu? Pertanyaan ini nampaknya amat sederhana, tetapi tidak mudah memperoleh jawaban yang tepat. Biasanya orang menjawab pertanyaan tersebut menurut latar belakangnya, jika seseorang yang menitik beratkan pada kemampuan manusia berpikir, memberi pengertian manusia adalah “animal rasional”, “hayawan nathiq”, “hewan berpikir”. Orang yang menitik beratkan pada pembawaan kodrat manusia hidup bermasyarakat, memberi pengertian manusia adalah “zoom politicon”, “homo socius”, “makhluk sosial”. Orang yang menitik beratkan pada adanya usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup, memberi pengertian manusia adalah “homo economicus”, “makhluk ekonomi”. Orang yang menitik beratkan pada keistimewaan manusia menggunakan simbul-simbul, memberi pengertian manusia adalah “animal symbolicum”. Orang yang memandang manusia adalah makhluk yang selalu membuat bentuk-bentuk baru dari bahan-bahan alam untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya, memberi pengertian manusia adalah “homo faber”, dan seterusnya.

Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk berpribadi, sebagai makhluk yang hidup bersama-sama dengan orang lain, sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam dan sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh oleh Allah. Manusia sebagai makhluk berpribadi, mempunyai fungsi terhadap diri pribadinya. Manusia sebagai anggota masyarakat mempunyai fungsi terhadap masyarakat. Manusia sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam, berfungsi terhadap alam. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh, berfungsi terhadap yang menciptakan dan yang mengasuhnya. Selain itu manusia sebagai makhluk pribadi terdiri dari kesatuan tiga unsur yaitu : unsur perasaan, unsur akal, dan unsur jasmani.

Dalam tulisan ini akan dibahas tetang hakikat manusia menurut Ibnu Miskawaih. Disamping membahas hakikat manusia Ibnu Miskawaih juga mempunyai banyak karya dalam bidang Etika. Semua itu akan dibahas dalam pembahasan berikut ini.

Riwayat Hidup dan Karya-karya Ibn Miskawaih

Nama kepanjangannya adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Ja’qub ibn Miskawaih, panggilannya Abu Ali al – Khazin. Mengenai kelahirannya tidak diketahui dengan pasti, ada yang berpendapat tahun 320 H / 932 M, namun ada yang mengatakan tahun 330 H / 941 M di Ray (sekarang Teheran). Ia mempelajari sejarah yaitu Tarikh al – Thabari dari Abu bakar Ahmad ibn Khamil al-Qadhi pada tahun 350 H / 960 M, kemudian belajar filsafat dengan berguru kepada Ibn al-Khamar; kimia dari Abu al Thayyib al-Razi. Ibnu Miskawaih hidup bersama Abu Fadhl ibn al-Amid (seorang ahli pustaka) pada tahun 360 H / 970 M, sesudah pustakawan itu meninggal, lalu ia mengabdi pada putranya yang bernama Abu al-fath Kifayatain dan akhirnya Ibnu Miskawaih mengabdi kepada Adhuh al-Daulah dari Bani Buwaih yang masih keturunan bangsawan kerajaan Persi. (Widyastini, 2004: 52).

Ibnu Miskawaih mendapat gelar sebagai Bapak Etika Islam, karya – karya Ibnu Miskawaih dalam bidang Etika antara lain adalah :
1. Fauz al – Akbar adalah buku yang membahas masalah etika.
2. Tartib al – Sa’adah adalah buku yang membahas masalah akhlaq dan politik.
3. Al – Siyar adalah buku yang membahas masalah norma-norma kehidupan.
4. Tahdzib al – Akhlaq dan
5. Jawidan Khirad adalah buku-buku yang membahas masalah akhlaq. (Widyastini, 2004: 53).
Ibn Miskawaih memiliki keahlian dalam berbagai bidang ilmu. Ia telah menulis 41 buah buku dan artikel yang selalu berkaitan dengan filsafat akhlak. Dari 41 karyanya itu, 18 buah dinyatakan hilang, 8 buah masih berupa manuskrip, dan 15 buah sudah dicetak. Dari 15 naskah yang sudah dicetak penulis hanya menemukan 9 judul, yaitu Tahdzib al-Akhlak wa Tathhir al-A’raq, Kitab al-Sa’adat, al-Hikmat al-Khalidat, Kitab al-Fauz al-Ashghar, Maqalat fi al-Nafs wa al-Aql, Risalat fi al-Ladzdzat wa al-Âlam, Risalat fi Mahiyyat al-‘Adl, Kitab al-Aql wa Al-Ma’qul, dan Washiyyat Ibn Miskawaih.
2. Ibnu Miskawaih
Ibn Miskawaih adalah seorang filosof dan sejarawan, nama lengkap beliau Abu Ali, Ahmad bin Muhammad bin Ya’kub bin Miskawayh. Berasal dari Ray sebuah tempat di Iran, menetap di Isfahan, dan meninggal dunia di kota ini pada tahun 421 Hijriah, bertepatan dengan tahun 1030 Masehi. Menekuni bidang kimia, filsafat dan logika untuk waktu yang lama. Kemudian menonjol dalam bidang sastra dan sejarah. Beliau terkenal dengan julukan al-Khazin (Pustakawan), karena dipercaya untuk menangani buku-buku Ibn Al-Amid dan Adhud Al-Daulah bin Suwaihi. Kemudian beliau mengkhususkan diri mengabdi pada Baha’ Al-Daulah Al-Buwaihi yang memberinya kedudukan tinggi.
Beliau menulis banyak buku, di antaranya Tajarib al-Umam (Pengalaman bangsa-bangsa) yaitu sebuah karya monumental yang memuat tentang sejarah, Uns al-Farid (Kesenangan tiada tara) sebuah koleksi anekdot yang ditulis dengan gaya bahasa yang tinggi dan penuh dengan sentuhan moral, dalam bidang kedokteran beliau menulis buku al-Syaribah (Minuman), al-Fauz Akbar, al-Fauz Asygar serta karya-karya lainnya.

Menurut Al-Labib, dulunya Ibn Miskawayh adalah seorang Majusi yang kemudian masuk Islam. Tapi barangkali juga yang dimaksudkan adalah kakeknya, Al-Qifthi. Andaipun betul begitu adanya, hal itu tidak harus berarti bahwa beliau tercela gara-gara Majusi lalu masuk Islam. Bahkan hal itu justru mengangkat derajatnya, Karena, ternyata beliau mendapat petunjuk setelah sekian lama terjerembab dalam kesesatan. Bersama seluruh jiwa raganya, beliau telah selamat dari kelamnya selimut kesesatan. Al-Labib pernah juga mengungkapkan bahwa beliaulah orang yang paling agung, yang paling terhormat dari kalangan orang non-arab. Beliau pulalah orang yang paling kharismatik di antara orang-orang Persia. Menurut beberapa orang yang disebut-sebut ‘Miskawaih’ adalah kakeknya bukan ayahnya.

Ibn Miskawayh adalah seorang filsuf muslim yang telah mengabdikan seluruh perhatian dan upayanya-yang barangkali jauh melebihi pemikir Islam lain manapun dalam bidang etika, tetapi beliau bukan hanya peduli pada etika melainkan juga pada filsafat yang mengandung ajaran-ajaran etika yang sangat tinggi. Selain itu beliau banyak merujuk sumber-sumber asing, seperti Aristoteles, Plato dan Galen dan beliau membandingkannya dengan ajaran-ajaran Islam.

Beliau berusaha menggabungkan doktrin Islam dengan pendapat filsuf Yunani, sehingga filsafat beliau termasuk filsafat eklektik. Menurut Ibn Miskawayh, moral atau akhlak adalah suatu sikap mental (halun li al-nafs) yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa berfikir dan pertimbangan. Sikap mental ini terbagi dua ada yang berasal dari watak dan ada pula yang berasal dari kebiasaan dan latihan. Dengan demikian, sangat penting menegakkan akhlak yang benar, sebab dengan landasan yang begitu akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik tanpa kesulitan. Akhlak terpuji sebagai manifestasi dari watak tidak banyak dijumpai. Yang banyak dijumpai di kalangan manusia adalah mereka yang memiliki sifat-sifat kurang terpuji (asyrar) karena watak. Karena itu kebiasaan atau latihan-latihan dan pendidikan dapat membantu seseorang untuk memiliki sifat-sifat terpuji tersebut, sebaliknya juga akan membawa orang kepada sifat-sifat tercela.
Ibn Miskawayh menolak pendapat sebagian pemikir Yunani yang mengatakan akhlak yang berasal dari watak tidak mungkin berubah. Oleh Ibn Miskawayh ditegaskan kemungkinan perubahan akhlak itu terutama melalui pendidikan. Dengan demikian, dijumpai di tengah masyarakat ada orang yang memiliki akhlak yang dekat kepada malaikat dan ada pula yang lebih dekat kepada hewan. Ibn Miskawayh memulai pembahasan etikanya dengan menganalisa kebahagiaan dan mendefinisikan kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia. Kebahagian dimaksud harus menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya, karena berhubungan dengan akal, suatu hal yang paling mulia pada manusia. Masalah pokok yang dibicarakan dalam kajian tentang akhlak adalah kebaikan (al-Khair), kebahagiaan (al-Sa‘adah), dan keutamaan (al-Fadhilah).

Menurut Ibn Miskawayh, kebaikan adalah suatu keadaan di mana kita sampai kepada batas akhir dan kesempurnaan wujud. Kebaikan adakalanya umum, dan adakalanya khusus. Di atas semua kebaikan itu terdapat kebaikan mutlak yang identik dengan wujud tertinggi. Semua bentuk kebaikan secara bersama-sama berusaha mencapai kebaikan mutlak tersebut. Kebaikan Umum tadi adalah kebaikan bagi seluruh manusia dalam kedudukannya sebagai manusia. Sedangkan kebaikan khusus adalah kebaikan bagi seseorang secara pribadi. Kebaikan dalam bentuk terakhir inilah yang dinamakan kebahagiaan. Dengan demikian antara kebaikan dan kebahagiaan dapat dibedakan. Kebaikan mempunyai identitas tertentu yang berlaku umum bagi manusia, sedangkan kebahagiaan berbeda-beda tergantung pada orang-orang yang berusaha memperolehnya. Pengertian kebahagiaan telah banyak dibicarakan oleh pemikir-pemikir Yunani yang pokoknya terdapat dua versi, yaitu pandangan pertama yang diwakili oleh Plato, mengatakan bahwa hanya jiwalah yang dapat mengalami kebahagiaan. Karena itu selama manusia masih hidup atau selama jiwa masih terkait dengan badan, maka selama itu pula tidak akan diperoleh kebahagiaan itu.
Sedangkan pandangan kedua yang diwakili oleh Aristoteles, mengatakan bahwa kebahagiaan itu dapat dinikmati oleh manusia di dunia, kendatipun jiwanya masih terkait dengan badan. Hanya saja kebahagiaan itu berbeda menurut masing-masing orang. Seperti orang miskin memandang kebahagiaan itu pada kekayaan, dan orang sakit pada kesehatan, dan seterusnya. Ibn Miskawayh tampil di antara dua pendapat yang tidak selaras itu secara kompromi. Menurutnya, karena pada diri manusia ada dua unsur, yaitu jiwa dan badan, maka kebahagiaan meliputi keduanya. Kebahagiaan itu ada dua tingkat. Pertama, ada manusia yang terikat dengan hal-hal yang bersifat benda dan mendapat kebahagiaannya dengannya, namun ia tetap rindu dengan kebahagiaan jiwa, lalu berusaha memperolehnya. Kedua, manusia yang melepaskan diri dari keterikatannya kepada benda dan memperoleh kebahagiaan lewat jiwa. Kebahagiaan yang bersifat benda tidak diingkarinya, tetapi dipandangnya sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah.

Kebahagiaan yang bersifat benda menurut Ibn Miskawaih, mengandung kepedihan dan penyesalan, serta menghambat perkembangan jiwanya menuju ke hadirat Allah. Kebahagiaan jiwalah yang merupakan kebahagiaan yang paling sempurna dan mampu mengantar manusia yang memilikinya ke derajat malaikat. Dalam pandangan Ibn Miskawayh manusia terdiri dari tiga jiwa, yaitu:
1. Jiwa bernafsu (an-nafs al-bahimiyyat) sebagai jiwa terendah,
2. Jiwa berani (an-nafs al-ghadhabiyyat) sebagai jiwa pertengahan
3. Jiwa berfikir (an-nafs an-natiqat) sebagai jiwa tertinggi.
Ketiga jiwa ini merupakan unsur ruhani manusia yang asal kejadiannya berbeda

Sesuai dengan pemahaman tersebut di atas, unsur ruhani berupa an-nafs al-bahimiyyat dan an-nafs al-ghadhabiyyat berasal dari unsur materi, sedangkan an-nafs an-nathiqat berasal dari ruh Tuhan. Karena itu Ibn Miskawayh berpendapat bahwa kedua an-nafs yang berasal dari materi akan hancur bersama hancurnya badan dan an-nafs an-natiqat tidak akan mengalami kehancuran.
Filsafat etika yang dipopulerkan oleh Ibn Miskawayh adalah filsafat etika yang berdasarkan pada doktrin jalan tengah. Doktrin jalan tengah (al-wasath) yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah The Doctrin of The Mean atau The Golden. Ibn Misykawaih secara umum memberi pengertian pertengahan (jalan tengah) tersebut antara lain dengan keseimbangan, moderat, harmoni, utama, mulia, atau posisi tengah antara ekstrem kelebihan dan ekstrem kekurangan masing-masing jiwa manusia. Dari sini terlihat bahwa Ibn Miskawayh memberi tekanan yang lebih untuk pertama kali buat pribadi.

Ibn Miskawayh menegaskan bahwa setiap keutamaan akhlak memiliki dua sisi yang ekstrem. Yang tengah bersifat terpuji yang ekstrem bersifat tercela. Dalam menguraikan sikap tengah dalam bentuk akhlak tersebut, Ibn Miskawayh tidak membawa satu ayat pun dari al-Qur‘ân dan tidak pula membawa satu dalil dari hadis. Namun demikian menurut penilaian al-Ghazâlî, bahwa spirit doktrin jalan tengah ini sejalan dengan ajaran Islam. Hal demikian dapat dipahami, karena banyak dijumpai ayat-ayat al-Qur‘ân yang memberi isyarat untuk itu, seperti tidak boleh kikir tetapi juga tidak boleh boros, melainkan harus bersifat di antara kikir dan boros. Hal ini sejalan dengan ayat al-Qur‘ân surat al-Isra : 29 dan al-Furqon : 67. Ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa sikap pertengahan merupakan sikap yang sejalan dengan ajaran Islam.
Doktrin jalan tengah ini juga dapat dipahami sebagai doktrin yang mengandungan arti dan nuansa dinamika. Letak dinamikanya paling tidak pada tarik-menarik antara kebutuhan, peluang, kemampuan dan aktivitas. Sebagai makhluk sosial, selalu berada dalam gerak (dinamis), mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, ekonomi dan lainnya merupakan pemicu bagi gerak zaman. Ukuran akhlak tengah selalu mengalami perubahan menurut perubahan ekstrim kekurangan maupun kelebihannya. Ukuran tingkat kesederhanaan di bidang materi untuk masyarakat kalangan mahasiswa misalnya tidak dapat disamakan dengan ukuran kesederhanaan pada masyarakat dosen. Demikian pula ukuran tingkat kesederhanaan pada masyarakat negara maju akan berbeda dengan tingkat kesederhanaan pada masyarakat negara berkembang. Hal tersebut akan berbeda lagi dengan tingkat kesederhanaan pada masyarakat miskin.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa doktrin jalan tengah ternyata tidak hanya memiliki nuansa dinamis tetapi juga fleksibel. Oleh karena itu, doktrin tersebut dapat terus-menerus berlaku sesuai dengan tantangan zamannya tanpa menghilangkan nilai-nilai esensial dari pokok keutamaan akhlak. Jadi dengan doktrin jalan tengah manusia tidak akan kehilangan arah dalam kondisi apapun.
Sementara itu, mengingat pentingnya pembinaan akhlak, Ibn Miskawayh memberikan perhatian yang cukup besar terhadap pendidikan anak-anak. Ia menyebutkan bahwa masa kanak-kanak mata rantai jiwa hewan dengan jiwa manusia berakal. Pada jiwa anak berakhirlah ufuk hewani dan dimulailah ufuk manusiawi. Karena itu anak-anak harus dididik dengan akhlak yang mulia. Sedini mungkin anak-anak harus mendapat pendidikan akhlak mulia, sebab “kesan” pada pendidikan dini inilah yang akan berakar kuat dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Konsep Manusia Menurut Ibnu Miskawaih

Menurut Ibn Miskawaih penciptaan yang tertinggi adalah akal sedangkan yang terendah adalah materi. Akal dan jiwa merupakan sebab adanya alam materi (bumi), sedangkan bumi merupakan sebab adanya tubuh manusia. Pada diri manusia terdapat jiwa berfikir yang hakikatnya adalah akal yang berasal dari pancaran Tuhan. Dalam diri manusia terdapat tiga daya jiwa, yaitu daya bernafsu (al-Nafs al-Bahimiyyah), daya berani (al-Nafs al-Sabu’iyyah), dan daya berfikir (al-Nafs al-Natiqah). Daya bernafsu dan berani berasal dari unsur materi, sedangkan daya berfikir berasal dari ruh Tuhan yang tidak akan mengalami kehancuran. (http://abiisyarfaq.multiply.com/journal/item/4).
Berkaitan dengan masalah akhlaq Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa kebaikan bagi makhluk hidup adalah usahanya untuk mencapai sesuatu yang menjadi tujuan. Setiap yang ada itu dapat berubah menjadi baik, apabila ia memiliki kesanggupan yang memadai utnuk mencapai tujuan yang akan dicapai, namun setiap orang terdapat perbedaan yang prinsip sesuai dengan minat dan bakatnya, sehingga seseorang dapat menjadi baik dan selalu memperoleh keuntungan, jika amal perbuatannya dilandasi dengan harkat dan martabat kemanusiaannya.
Ibnu Miskawaih tidak menjelaskan filsafat sampai kepada definisinya, tetapi hanya membedakan filsafat dalam dua bagian yaitu teoritis dan praktis. Teoritis adalah keutamaan manusia dalam memenuhi bakatnya agar dapat mengenali segala sesuatu, disebut al-quwwah al-alimah, sehingga dengan ilmu yang telah dicapainya dapat menghasilkan pemikiran, kepercayaan untuk mendapatkan kebenaran; sedang yang praktis adalah keutamaan manusia dalam memenuhi bakatnya agar dapat melaksanakan perilaku-perilaku moral, disebut al-quwwah al-alimah. Keutamaan moral ini diawali dari kesanggupan memelihara bakat-bakatnya dan perilaku-perilaku yang berhubungan dengan hal tersebut, sehingga semua perilaku dapat sama dengan bakat intelektualnya yang mampu memilah-milahkan yang baik dengan yang tidak baik, yang benar dengan yang tidak benar sesuai dengan proporsi yang sebenarnya. Keutamaan moral pada akhirnya mampu memelihara hubungan di antara manusia yang satu dengan yang lain sampai terwujud kehidupan bersama yang bahagia; apabila manusia dapat menguasai filsafat yang teoritis dan praktis, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. ( Widyastini 2004: 53-54).

Dan berkaitan dengan filsafat manusia, Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa kodrat manusia itu ada yang baik dan ada yang buruk. Kodrat manusia itu baik sesuai dengan anggapan kaum Stoa yang menyatakan bahwa manusia diadakan (diciptakan) dalam kondisi baik, namun selanjutnya menjadi buruk disebabkan manusia berpotensi kearah keburukan: sedang kodrat manusia itu buruk, hal ini sesuai pendapat Gelenus yang mengatakan bahwa kodrat manusia itu buruk dapat berubah menjadi baik jika dibina melalui pendidikan.

Selanjutnya Ibnu Miskawaih menyatakan bahwa jiwa manusia mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari jiwa hewan, hal ini disebabkan adanya daya pikir yang merupakan pusat pertimbangan perilaku yang senantiasa bertujuan kearah kebaikan. Jiwa manusia memiliki tiga tingkatan, adalah :
a. An Nafs al-bahimiyah adalah jiwa hewan yang buruk; terdiri dari sifat-sifat tidak bertanggung jawab, sombong, pembohong, dan sifat-sifat buruk lain.
b. An Nafs as-sabu’iyah adalah jiwa hewan buas yang dimiliki oleh manusia, kadang-kadang manusia itu dikendalikan oleh jiwa hewan yang buruk, namun juga dikendalikan oleh jiwa intelektual yang baik.
c. An Nafs an-nathiqah adalah jiwa intelektual yang baik; terdiri dari sifat-sifat keadilan, harga diri, pemberani, pengasih dan suka kepada kebenaran. Manusia dapat menjadi manusia sesungguhnya, apabila mempunyai jiwa intelektual, maka manusia akan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi bahkan setaraf dengan malaikat, dan dengan jiwa intelektualnya manusia berbeda dengan hewan. Manusia termulia adalah paling tinggi jiwa intelektualnya, maka hidup dan kehidupannya senantiasa menuruti jiwa intelektualnya, sedang manusia yang dikendalikan oleh jiwa hewan yang buruk dan buas, maka kedudukannya akan menurun dari sifat-sifat kemanusiaannya. Oleh karena itu manusia harus dapat memilih, menentukan pribadinya dalam tingkatan mana yang sesuai dengan dirinya.

Manusia dapat merubah perilakunya dengan melaui berbagai macam pendidikan, baik dengan petuah-petuah, adat kebiasaan, akhlaq yang seluruhnya dapat menjadikan manusia memanfaatkan akal pikirannya untuk menentukan yang seharusnya dilaksanakan dan ditinggalkan, maka pendidikan lingkungan mempunyai makna yang demikian penting, terutama dalam kaitannya dengan pembinaan akhlaq.
Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa kebaikan (al khair) dibedakan dengan kebahagiaan (as-sa’adah). Al Khair merupakan sesuatu yang akan dituju oleh setiap orang dan berlaku bagi semua umat manusia dalam dalam peranannya selaku manusia, sedang as-sa’adah merupakan kebaikan yang berhubungan dengan individu, maka al-khair memilki ciri-ciri yang tetap, sedang as-sa’adah bermacam-macam tergantung pada seseorang yang berupaya mendapatkannya, sehingga memiliki ciri-ciri yang tidak tetap. Tujuan paling tinggi yang akan dicapai oleh seluruh umat manusia adalah kebaikan mutlak yang berupa kebahagiaan yang paling tinggi. Manusia dalam berusaha memperoleh kebahagiaan senantiasa membutuhkan syariat-syariat yang berasal dari Allah agar dapat meraih kebijaksanaan sampai pada akhir hidupnya. Ibnu Miskawaih memberi penegasan bahwa hakikat manusia adalah makhluk sosial; maka sebaiknya tidak cukup hanya dengan mengutamakan akhlaq bagi dirinya sendiri, namun juga harus berperan serta memelihara akhlaq bagi masyarakat. ( Widyastini, 2004: 55-56).

Hasil Titik Temu

Tujuan paling tinggi yang akan dicapai oleh seluruh umat manusia adalah kebaikan mutlak yang berupa kebahagiaan yang paling tinggi. Manusia dalam berusaha memperoleh kebahagiaan senantiasa membutuhkan syariat-syariat yang berasal dari Allah agar dapat meraih kebijaksanaan sampai pada akhir hidupnya. Ibnu Miskawaih memberi penegasan bahwa hakikat manusia adalah makhluk sosial; maka sebaiknya tidak cukup hanya dengan mengutamakan akhlaq bagi dirinya sendiri, namun juga harus berperan serta memelihara akhlaq bagi masyarakat.

Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa manusia yang berintelektual tinggi adalah manusia yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Dan beliau berpendapat bahwa manusia mempunyai kodrat kebaikan dan keburukan. Dan Manusia akan menjadi lebih baik dan berkembang melalui berbagai pendidikan.

Standar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s