analisis filsafat

Paradoks Antara Sains dan Agama

Foto 0780

Di Indonesia, pengajaran kepada siswa kadang dibingungkan oleh dua spectrum besar pengetahuan, yakni berupa sekolah formal yang lebih banyak mengajarkan sains, dan sekolah agama (madrasah) yang lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama. Tentang penciptaan misalnya: saat pagi anak dihadapkan pada pelajaran untuk percaya pada evolusionisme, namun ketika sore hari tiba di madrasah, ia mesti mengubur dalam-dalam pelajaran pagi tadi, karena agama mengajarkan kreasionisme.

Tentu hal tersebut berakibat pada kekacauan berpikir jika, secara epistemologis, tidak diterangkan dengan baik.

Idealnya, penjelasan secara memadai, bagaimanapun, mesti tetap dilakukan. Tetapi hal itu hingga saat ini belum bisa dilakukan, lantaran di antara masing-masing “pegiat” pengetahuan tersebut jarang melakukan proses mediasi pengetahuan. Sehingga, dampak terburuknya menghinggap pada obyek pendidikan, yakni siswa.

Proses mediasi yang saya maksud ialah: hendaknya seorang pengajar, di wilayah manapun, memberi arahan bahwa pengetahuan yang sedang digeluti tersebut, walau bagaimanapun, masih bersifat hipotesis. Demikian pula dalam ilmu-ilmu agama. Hal ini penting untuk menjamin bahwa di antara dua wilayah tersebut tidak terjadi semangat “–isme” pengetahuan, yang kemudian menjadikannya menutup diri dari siraman model pengetahuan yang lain.

-isme pengetahuan—saintisme, religisme, filsafatisme, dan isme-isme yang lain—dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan. Pengetahuan apabila berada dalam derajat –isme, berarti ia tak lagi terbuka, ia sudah absolute, mengabsolutkan dirinya sendiri. Pertanyaan sederhananya, bagaimana mungkin suatu pengetahuan dapat berkembang dengan baik jika ia tidak mau membuka diri dari referensi pengetahuan yang lain?

Karena upaya pengabsolutan pengetahuan tidak lagi sesuai, maka jika kembali ke perbicangan awal, mengabsolutkan pengetahuan formal saja, atau pengetahuan non-formal saja tentu juga tidak benar—baik itu berupa produknya (ijazah, gelar dll), maupun materinya (evolusionisme, kreasionisme, dll). Yang mesti dilakukan adalah mendamaikan keduanya.

Lantas, pertanyaannya, di level mana rekonsiliasi itu diupayakan?

Jawaban atas persoalan ini masih dilema. Tetapi saya berpendapat, persandingan antara sains dan agama hanya mungkin dilakukan di wilayah praktis. Selagi ia berada di wilayah metodologis, tentu itu tidak bisa dilakukan. Pasalnya, sains dan agama, masing-masing memiliki karakter penyelidikan yang khas. Secara metodologis, tak bisa saling melengkapi.

Akhirnya, untuk persolan peniadaan dikotomi antara sains dan agama, maka secara policy, pemerintah hendaknya lebih peka terhadap gejala-gejala hilangnya lilin-lilin religiusitas akibat terlalu terdesak oleh lilin-lilin produk sains, yakni diantaranya, bernama teknologi.
Peka disini, bukan kemudian mencampuri urusan religi individu, namun lebih pada menegaskan garis demarkasi, sekali lagi secara praktis, antara sains dan agama, supaya kebingungan yang dialami oleh siswa tadi tidak terjadi lagi. Berupa kebijakan yang seperti apa dan bagaimana? Dari sini, saya belum menemukan jawabannya.

 

Standar
analisis filsafat

Dakwah Metafisika di Radio Buku

IMG-20131008-01005Berawal dari twitter yang iseng-iseng mem-follow Radio Buku, aku kemudian mencari tahu apa sih Radio Buku (@radiobuku) itu. Timeline yang tiap hari nongol dan nyari 24 jam update terus tak jemuh-jemuh memberikan ‘cuap-cuap’ berbagai hal tentang buku, dan pengetahuan baru, maupun yang sifatnya klasik. Aku janjian bersama kang Solahuddin, sesepuh filsafat yang mengabdikan dirinya pada masyarakat dengan cara jurnalistik untuk bertemu di Radio Buku. Akhirnya, aku bertandang ke markas Radio Buku pada saat sabtu malam (05/10/2013). Sebenarnya, sabtu malam atau malam minggu adalah waktunya pacaran, tapi aku gak pacaran (alasan ini sering dipakai agar tidak dikatakan jomblo). Bersama Haji Imam Wahyuddin, nuansa hangat di dalam udara dingin Yogyakarta, menghangatkan candaan kami, ditemani kretek dan segelas teh panas yang sangat nikmat di markas Radio Buku. Candaan kami makin hangat, ketika Kang Solah mengeluarkan humor-humor segar dan mendidik. Kami saling berbagi pengalaman, baik itu dari jurnalistik, maupun masalah ‘kewanitaan’.

IMG-20131008-01003Radio Buku adalah TBM (Taman Baca Masyarakat) yang memiliki visi dan misi yaitu mengembalikan minat membaca masyarakat. Radio Buku juga memiliki perpustakaan, yang didukung oleh buku-buku, jurnal, kliping koran yang cukup banyak. Pada saat itu juga aku memberikan beberapa karyaku sebagai sumbangsih pada keilmuan. Pada saat itu, Direktur Radio Buku, Fairuzul Mumtaz (Mas Firuz), yang sedang sibuk twitteran menyapa pemirsa dunia maya, menyela obrolan dan candaan kami. Mas Sidqi, “bukumu ini di launching di Radio Buku saja”. Kaget, terharu dan meminta untuk on air hari Selasa (09/102013) pukul 16.00 WIB. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. Maklum, aku di kota Yogya, hanya menunggu wisuda Pascasarjana.

Tepat hari Selasa (09/10/2013) sore hari, aku menjemput kakanda Imam Wahyuddin di kosannya untuk menemaniku lagi. Dengan motor perjuanganku yang telah menjelajah Jawa-Tengah dan Jawa Timur ini kupacu dengan kencang “Broom Broooom”. Okey, sampainya aku di radio Buku, aku langsung duduk manis di warung kopinya. Tak lama, ada dua mahasiswi kampus Sanata Dharma menyapa, mungkin ia mengira aku pengurus Radio Buku. Akhirnya, aku panggilkan mas Firuz di dalam ruangan.  Dua Mahasiswi ini sedang riset tentang radio streaming. On air-ku tertahan satu jam. Sambil menunggu on air, aku menikmati kopi yang disuguhkan. Pukul 17.00 WIB, akhirnya aku on air. Tak banyak yang kubahas mengenai isi bukuku. Hanya poin-poin terpenting yang menurutku wajib disampaikan. Untuk mendengarkan rekaman suaraku, kuunggah di http://www.4shared.com/mp3/gn-6Qqqp/VN_20131008_00022.html

Sekian ya, Salam

Standar
analisis filsafat

Catatan Buku An Introduction to Political Philosophy Jonathan Wolff.

 

ImageSelasa, 01 Oktober 2013 menjadi momentum yang luar biasa. Bukan karena memperingati Gestok (Gerakan satu Oktober) atau memperingati hari kesaktian Pancasila. Tapi momentum ini dikarenakan saya mendapatkan buku luar biasa dari seorang translator yang bernama M. Nur Prabowo (Sarjana Filsafat sekaligus pengabdi Pondok Pesantren Krapyak). Aktivitasnya adalah ‘doyan’ baca buku dan menerjemahkan buku-buku filsafat. Sudah lima buku filsafat diterjemahkan. Kesempatan hari ini aku juga berbagi karyaku, sebuah buku yang berjudul “Filsafat ‘Ada’ Seyyed Hossein Nasr” yang baru terbit beberapa hari lalu. Buku pemberian Gus Prabowo ‘Stoic’ (panggilan akrab) adalah Pengantar Filsafat Politik karya Jonathan Wolff (An Introduction to Political Philosophy). Alhamdulillah, original text karya Wolff sudah saya baca. Namun Gus Stoic mampu membumikan bahasa Wolff yang agak sulit. Ada beberapa poin penting yang membuat aku terkesima di kontain buku Wolff, terutama pada bab pertama tentang “Keadaan Alamiah”.

Hobbes dengan “Keadaan Alamiahnya”

 

Thomas Hobbes percaya bahwa keadaan yang berdasarkan atas tindakan-tindakan kealaman yang tidak dikehendaki yang memiliki sifat alamiah, kodrat. Dia juga percaya, bahwa hasil dari keadaan alam dapat bersifat negatif seperti sifat kenekatan yang berujung pada peperangan, baik itu peperangan dari individu dengan individu, individu dengan kelompok bahkan kelompok dengan kelompok. Intisari dari pendapat Thomas Hobbes dengan “state of nature” nya, dapat dilihat dari ketiadaan pemerintah manusia akan secara alamiah tidak dapat dielakkan akan membawa kita pada konflik yang berat(Wolff, 2006:8) .Bagi Hobbes, yang pertama kali kita pelajari adalah tentang “state of nature”, adalah dengan mempelajari tentang sifat-sifat dasar manusia secara alamiah.

Hobbes sebenarnya ingin mendeskripsikan dan memberi kesan, dengan memberi dua kunci agar memahami teorinya yaitu yang pertama adalah pengetahuan dari diri sendiri. Pengetahuan adalah sebuah bentuk kejujuran dari instropeksi yang menyebutkan tentang keberadaan manusia, seperti pemikiran yang alamiah, pengharapan, dan kekhawatiran. Alat penangkap pengetahuan adalah panca indera. Panca indera sebagai alat penangkap dari sifat manusia bisa terjadi pengurangan.

Panca indera terbagi empat macam; Kekuatan jasmani, pengalaman, alasan, penderitaan (nafsu. mengambil permulaan dari semua dokrin yang berikut ini dari ini, kita akan mengenalkan pada pokoknya apa yang cara kecenderungan-kecenderungan orang-orang yang dimiliki dengan panca indera telanjang ini ke arah satu sama lain, dan apakah, dan dengan apa yang panca indera, mereka dilahirkan siap untuk bersosialisasi, dengan demikian memelihara diri mereka dengan melawan terhadap kekerasan, kekejaman yang bersifat bersama; lalu melanjutkan, dengan memberi sebuah nasihat yang perlu kira ketahui akan persaingan manusia ini, dan apakah ini yang merupakan kondisi-kondisi sosial (http://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/works/en/decive1.htm)

            Teori yang kedua adalah dengan pemahaman atas konsep materialis (Wolff, 2006: 8). Yaitu konsep dimana Hobbes mengikuti pemahaman Galileo, yaitu segala sesuatu adalah obyek yang bersifat nyata, riil. Sifat manusia inilah yang membuat sebuah gerakan-gerakan dari manusia itu sendiri untuk mempertahankan hidupnya, seperti memperebutkan lahan untuk tempat tinggal, memperebutkan lahan untuk bercocok tanam, ini membuat persaingan dengan manusia yang lainnya.

            Ketiadaan sebuah institusi atau pemerintahan yang mengatur hidup manusia, membuat persaingan, peperangan, bahkan pertikaian. Inilah yang disebut oleh Hobbes dalam “state of war”. State of war dari pemahaman teori Hobbes adalah konsekuensi dari “state of nature”nya. Ini merupakan keadaan alamiah dimana manusia mempertahankan apa yang dibutuhkannya, apa yang dikehendakinya, dan apa yang diperlukannnya. Semua itu adalah alamiah, berkelanjutan, berusaha untuk menaikkan kekuatan, mempunyai kekayaan, reputasi, dll.

            Hobbes melihat tiga prinsip digerakan untuk menyerang di dalam state of nature; yaitu untuk keuntungan, untuk keamanan,dan kejayaan, atau reputasi (Wolff, 2006: 11). Hobbes mempercayakan gagasannya dari keberadaan manusia,di dalam pencarian kebahagiaan, tepatnya untuk menaikkan kekuatan dari segala kebutuhan.

 

Bagaimana Pandangan Anarkhisme Tentang State of War?

 

“”The annals of the French Revolution prove that the knowledge of the few cannot counteract the ignorance of the many . . . the light of philosophy, when it is confined to a small minority, points out the possessors as the victims rather than the illuminators of the multitudeGodwin (http://www.historyguide.org/intellect/godwin.html”.

 Anarkhisme adalah sebuah ide tentang hidup dengan cara yang lebih baik. Sedangkan Anarkhi adalah sebuah cara untuk hidup. Anarhkisme menganggap bahwa pemerintahan ( Negara ) itu bukan saja tidak diperlukan tapi juga berbahaya. Para anarkis adalah mereka yang mempercayai anarkisme dan memiliki hasrat untuk hidup di dalam anarki sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para leluhur kita dulu. Mereka yang mempercayai pemerintahan ( seperti kaum liberal, Marxis, Konservatif, sosialis dan fasis) dijulukisebagai“statist.”
Awalnya anarkisme mungkin terkesan sangat negatif – karena oposisinya yang mentah. Namun sebenarnya, para anarkis memiliki banyak ide positif mengenai hidup di dalam sebuah masyarakat tanpa pemerintahan. Tidak seperti para Marxis, Liberal dan konservatif, mereka sama sekali tidak menawarkan sebuah cetak biru dari masyarakat. Anarkhisme merupakan sebuah deskripsi tentang penggabungan dokrin-dokrin, sikap dan gerakan-gerakan dengan sifat dan ciri yang menyatukannya adalah keyakinan bahwa pemerintah pada dasarnya bersikap opresif. Kaum anarkhisme ini berpendapat bahwa manusia harus membersihkan dirinya dari semua bentuk pemerintahan sebelum membangun pemerintahan yang baru yang didasarkan atas keadilan, cinta damai,dan semangat kerjasama. Anarkisme menawarkan sebuah jalan penyelesaian atas semua hal diatas, dengan meneliti, merunut semua problema tersebut hingga ke akar permasalahannya. Dan menurut analisa yang diyakini oleh kaum anarkis, dapat diambil diambil kesimpulan bahwa semua masalah pokok tersebut disebabkan oleh sistem hierarki yang disebarkan dan dimapankan oleh kapitalisme, yang termasuk juga di dalamnya adalah semua institusi-institusi yang mengandalkan kekuatan hanya pada satu titik teratas dari sebuah struktur (seperti contohnya perusahaan korporasi multinasional, birokrasi pemerintah, partai-partai politik yang hanya mengandalkan para elit politik, tentara, universitas dan sekolah, organisasi-organisasi keagamaan, dan lain sebagainya). Hal-hal tersebut pada prakteknya telah memperlihatkan bagaimana hubungan antar manusia yang otoriter hanya akan menyebabkan efek-efek negatif pada setiap individu, masyarakat dan budayanya. Dapat dikatakan juga bahwa selain anarkisme hanya merupakan kritik terhadap kehidupan masyarakat yang sakit, anarkisme adalah juga merupakan sebuah proposal untuk sebuah kehidupan masyarakat yang bebas

Salah satu pemikir yang mengutarakan anarkhisme adalah William Godwin, yang karya utama dikenal adalah The Inquiry Concerning Political Justice di tebitkan pada tahun 1793. Pokok filsafat Godwin adalah bahwa penderitaan manusia pada intinya disebabkan oleh ketidakadilan. Kekuasaan negara yang menghalangi individu bertindak sesuai dengan akal dan kebajikan harus dilenyapkan (Riff, 1995: 2).  Dari pemahaman Godwin di atas, Godwin mengusulkan bahwa masyarakat masa depan adalah masyarakat yang ideal, harus terdiri dari unit-unit kecil di mana tak seorangpun tidak perbolehkan untuk memaksakan kehendaknya pada orang-orang lain.

            Sebuah permasalahan tentang anarkhisme, Bagaimana gerakan anarki saat ini dan masa mendatang? Saat ini sesungguhnya gerakan anarkisme tengah mengalami kemunduran. Kecuali di Spanyol gerakan anaki dihancurkan dimana-mana. Anarkhisme di pandang tidak menarik dikarenakan sebuah sistem negara yang berbeda-beda, seperti Indonesia dengan sistem demokrasinya, sehingga masyarakat dapat diberikan hak-hak untuk berbicara, mengeluarkan pendapat, dan mengapresiasikan apa yang ada dibenaknya, begitu juga dengan negara yang berpahamkan sosialis, liberalis, dll. Inilah faktor utama yang membuat paham anarkhisme tidak berkembang secara pesat.

 Image

 Salam Hangat, sehangat teh tubruk, di  Warung Kopi “Mato”, 19.09 WIB

Standar
analisis filsafat

Catatan Kecil Riset Amerika

Pada tahuGamping-20130321-00265n 1736, yang kala itu Amerika Serikat belum merdeka, ada seorang intelektual yang bernama John Harvard, yang mendirikan sekolah untuk para pembaca Bible dengan tradisi Protestan, secara ‘fasih dan benar’. John Harvard kemudian mengembangkan sekolah Reader Bible yang akhirnya berkembang pesat kemudian berubah menjadi Universitas Harvard. Lulusan Harvard pada saat itu difokuskan menjadi spiritual guild, dan menjadi seorang pemuka agama yang cerdas.  Alumni Harvard justru mengkritik keras sistem pemikiran Universiras Harvard karena terlalu bebas menafsirkan Bible. Akhirnya, para intelektual Harvard beralih untuk mendirikan sekolah Katolik yaang bernama Universitas Yale. Memang disadari bahwa Universitas Yale bernafaskan sistem pendidikan konservatif. Semenjak itu ‘letupan perang pemikiran’ makin dahsyat, sehingga terbukalah ruang kompetensi keilmuan.

Bagaimana dengan Riset di Amerika Serikat?

Tradisi riset di Amerika Serikat mulai bermunculan dengan gagasan Research University dan Teaching University. Kedua bentuk dari sistem riset ini di bawah community teaching yaitu dari United Nation University  yang berada di kota Tokyo, Jepang. United Nation University merupakan penjembatan tradisi riset di Amerika Serikat yang mana di bawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Tradisi riset tidak bisa dilepaskan dari apa yang namanya anggaran riset. Di Amerika kampus, kampus wajib memenuhi permintaan peneliti untuk basic keilmuan secara inovatif dan mandiri. Maka, pemerintah tidak membagikan anggaran pendidikan untuk riset, secara spontan kampus mencari dana riset sendiri yang didukung oleh industri dari hasil Corporate Social Responsibility. Berdasarkan data 2010, jika dilihat per fakultas di Harvard, maka Medical School memiliki endowment tertinggi, yaitu 3 miliar dolar atau 30 triliun rupiah, disusul oleh Business School (28 triliun), Law School (17 triliun), Public Health (12 triliun), dan Kennedy School (11 triliun). Fakultas lain tidak saya sebutkan karena ‘di bawah’ 10 triliun. Dengan dana sebesar ini, jangan heran bahwa sampai setidaknya 10 tahun ke depan, mau hujan badai perang petir atau negara lain berpacu, masih agak susah untuk menyundul. Pada tingkat universitas, untuk di US, urutan lima besar universitas dengan cadangan endowment tertinggi per mahasiswa adalah Princeton, Yale, Harvard, MIT, dan Stanford. Uang memang bukan segala-galanya. Tapi dengan uang yang cukup, apalagi endowment, maka pendidikan berkualitas menjadi lebih mudah. Jumlah endowment ini didata sangat rapi, karena biasanya endowment menunjukkan tingkat prestisius. Semakin prestis sebuah institusi, sumbangan yang diterima semakin banyak.

 

 

 

*Tulisan ini Merupakan Hasil Diskusi dengan Bapak Joko Murdianto, MA (Dosen Sastra Inggris UGM). Pondok Pesantren Aswaja Nusantara, Pojok Mlangi, Yogyakarta

Standar
analisis filsafat, Analisis Politik

MATERIALISME DIALEKTIKA HISTORIS

Oleh: Ahmad Sidqi*

 

” Karl Marx menyatakan pola perkembangan sistem sosial masyarakat terbagi dalam lima tahap. Tahap pertama, terbentuknya sistem komunal primitif. Kedua, tahap terbentuknya pembagian kerja dan kepemilikan dalam sistem perbudakan. Ketiga tahap terbentuknya masyarakat feodalisme. Keempat tahap terbentuknya masyarakat kapitalis dan kelima tahap terbentuknya masyarakat sosialis komunis ”.

Historis Materialisme  dalam Serba-Serbi

 

T14622646_karl_marx1eori ini dimulai dari satu kaidah bahwa produktifitas materi adalah asas kehidupan manusia dan sejarahnya. Marx memandang bahwa menjadi keharusan bagi manusia untuk menjadi pusat yang mampu menempatkannya dalam kehidupan ini, sebagaimana ia dituntut untuk mampu menciptakan sejarah. Sebagaimana diketahui bahwa hidup ini tidak lain hanya sebatas makan, minum, tempat tinggal, pakaian dan sebagainya, maka kerja sejarah adalah bagaimana mampu menciptakan sarana-sarana yang layak untuk memenuhi kebutuhan tadi. Kongkritnya kerja menciptakan materi. Oleh karena itu, kekuatan manusia untuk mampu menciptakan materi merupakan unsur yang paling penting dalam kehidupan. Karena ia merupakan ukuran dari segala sesuatu.

Produksi gagasan, konsep dan kesadaran yang pertama semua langsung terjalin dengan hubungan material manusia, bahasa kehidupan nyata. Kesadaran tidak menentukan kehidupan tetapi kehidupan menentukan kesadaran.

Materialisme historis adalah suatu proses intepretasi sejarah manusia dengan dasar materi. Menurut Marx, sejarah ummat manusia sejak zaman primitif dibentuk oleh faktor-kebendaan. Sederhananya disini Marx menganggap sejarah manusia sebagai materi yang memuat berbagai kontradiksi dan berjalan sesuai dengan hukum materi

Materalisme Dialektika Historis

Pemikiran Marx berpengaruh pada abad ke dua puluh. Ketika itu, Marx memformulasikan pemikiran Hegel tentang eksistensi pikiran sebagai sebuah jiwa universal. Dalam analisis Hegel melalui metode dialetika, menurut Hegel proses dialektika ini sejenis oposisi dinamis dan progresif dimana gagasan awal, tesis dihadapkan dengan anti tesis yang sifatnya bertentangan, dan perlawanan ini berakumulasi dalam sintesis yang menjaga dan menggabungkan apa yang rasional dalam dua posisi yaitu pertama dan dan kemudian membentuk tesis baru.

Filosofi materialisme yang dikatakan Marx adalah materialisme yang menggerakkan pikiran. Penggabungan dua teori antara materialisme dan metode dialektika ini menghasilkan metode materialisme dialektika. Marx dengan jelas menolak pandangan Hegel bahwa dan mengikuti jalur pemikiran Feueurbach. Dalam proses analis metode dialektika materialisme, Marx melihat materi, perlahan-lahan Marx menganalisis hubungan-hubungan sosial yang berhubungan dengan ekonomi, tenaga kerja, politik, dll dalam analisa sosial sebagai kekuatan-kekuatan yang menentukan dalam sejarah manusia.. Inilah yang dikatakan oleh Marx sebagai historis materialis yang berepisentrum pada materi.

Marx membangun teori historis materialisme sebagai syarat mutlak dialektika materialis. Marx menilai bahwa pada dasarnya manusia itu bebas, namun hegemoni ekonomi yang besar merubah dan menentukan karakter manusia. Marx menyatakan:

Model produksi dalam kehidupan material menentukan karakter umum proses sosial, politik dan spiritual dari kehidupan. Adalah bukan kesadaran manusia yang menentukan eksistensinya, tetapi sebaliknya, eksistensi sosialnya yang menetapkan kesadaran mereka (Marx, 1859: ii).

 

Marx menganggap bahwa ketika perkembangan ini berlangsung, di sana terdapat titik ketika kekuatan-kekuatan material produksi memasuki arena konflik dengan hubungan-hubungan produksi yang ada, yang berakibat pada bahwa apa yang ada yang menjadi ikatan dan belenggu bagi manusia.

Nilai kerja merupakan suatu keadaan alamiah antara manusia dan alam. Marx mengatakan tentang ’ nilai kerja ’dalam bukunya Capital I bahwa konsep nilai tidak saja sepenuhnya, tidak dilenyapkan tetapi sesungguhnya diubah menjadi sebaliknya. Ia merupakan sebuah pernyataan yang sama imajinernya seperti nilai bumi. Ungkapan-ungkapan ini lahir dari hubungan-hubungan produksi itu sendiri. Mereka adalah kategori-kategori bagi bentuk-bentuk penampilan dari hubungan-hubungan esensial. Bahwa dalam penampilannya segala sesuatu sering menyatakan diri mereka dalam hubungan terbalik sudah diketahui betul dalam setiap ilmu pengetahuan, kecuali ekonomi politik. Dalam menganalisis tentang kerja, perlu menekankan psedo-psedo berikut (Marx, 2004: 584)

  1. Pada dasarnya prinsip kerja adalah sebuah keadaan dimana manusia secara alamiah dari hukum-hukum.
  2. Manusia bekerja tidak lain untuk memenuhi hidupnya dengan nilai ’kebutuhan’, dan alam pun bekerja untuk memenuhi kebutuhan manusia.
  3. Hubungan bipolaritas alam dan manusia sebagai bentuk hukum kausalitas.

Nilai kerja berubah ketika nilai komoditas, ketika adanya persaingan antar individu, sehingga yang memenangkan persaingan individu itu menjadi subjek superior. Persaingan individu digambarkan oleh Marx pada zaman purbakala untuk memperebutkan ’kepemilikan’ wilayah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan komunalnya. Manusia superior ini menjadi pemimpin atau raja daripada manusia-manusia lain (rakyat), yang dikatakan Marx sebagai masyarakat feodalisme. Rakyat kehilangan hak untuk merdeka dan kebebasan, dan rakyat hanya dijadikan budak bagi para raja. Rakyat tidak tersadarkan bahwa hak mereka hilang dikarenakan hanya seorang superior.

Hegemoni Kapitalisme

 

            Kapitalisme merupakan sebuah keadaan masyarakat tingkat lanjut dari masyarakat feodalis. William Outwaite mendefinisikan pemikiran Karl Marx (Capital, 1867, Vol I) mendifinisikan kapitalisme sebagai masyarakat yang memproduksi komodititas, dimana alat-alat produksi utama dimiliki oleh kelas khusus, yaitu borjuis dan tenaga buruh juga menjadi komoditas yang dibeli dan dijual (Outhwaite, 2008: 84). Kaum borjuis selaku pemodal memiliki kuasa penuh untuk menjalankan sistem perekonomian, sedangkan tenaga buruh hanya dijadikan mesin-mesin perusahaan. Tenaga buruh menjadi komoditas yang dibeli dan dijual dikarena buruh menjadi pengendali perusahaan dalam menjalankan produksi. Kaum buruh (proletar) diperbudak oleh kaum borjuis dengan mengatasnamakan keuntungan. Kaum borjuis menginginkan akumulasi modal dengan cepat, sehingga buruh diperbudak untuk meningkatkan hasil produksi dan dibandingkan dengan upah penghasil buruh yang tidak stabil dengan waktu (jam kerja) memproduksi dalam teori nilai lebih.

Marx mengkritik Ricardo dan Adam Smith (Invisible Hand). Bahwa, Adam Smith dan Ricardo tidak melihat harga alamiah terdiri dari rata-rata upah dan rata-rata keuntungan. Konsep dari Adam Smith dan Ricardo tidak bisa dijelaskan dengan “harga” karena harga yang rata-rata upah dan rata-rata keuntungan tadi. Karena menurut Adam Smith dan Ricardo itu adalah “harga yang terpusat”, dengan “hasrat pasar”. Sehingga yang terjadi adalah produksi secara besar-besaran, tanpa adanya mampu membeli karena. situasi masyarakat yang menjadi miskin dan dimiskinkan oleh kapitalisme itu sendiri (Oishi, 2001: 101). Untuk itulah adanya Manifesto Politik dalam hal ini Marxisme menjadi ideologi dengan prinsip keadilan sama rata (equality).

Marx membentuk sebuah kekuatan dalam mengkonsolidasikan kaum proletar dalam satu partai, yaitu komunis. Dalam manifesto komunis, ajaran-ajaran marx berkembang pesat. Marx menjelaskan dalam dua poin dalam ajaran komunisme (Marx, Engels: 1962: 21-22).

  1. Komunisme telah diakui oleh semua kekuasaan di Eropa sebagai suatu kekuasaan pula.
  2. Telah tiba waktunya bahwa kaum komunis harus dengan terang-terangan terhadap seluruh dunia, menyiarkan pandangan-pandangan mereka, tujuan mereka, aliran mereka, dan komunisme ini dengan sebuah manifes dari partai sendiri.

Apa yang kaum marxis perjuangkan adalah tidak lain melawan sistem borjuasi dalam sistem kapitalismenya. Industri modern telah menciptakan pasar dunia dengan perdagangan yang sangat besar.

Proses perjuangan kelas sebagai antisesa pergerakan kapitalisme disinyalir adalah syarat utama sebuah revolusi. Lenin mengatakan bahwa;

Perjuangan kelas adalah sebuah perjuangan politik.  Kalimat yang dikutip itu adalah suatu lukisan susunan jaring perhubungan-perhubungan sosial dan tingkatan-tingakatan peralihan antara satu kelas dengan yang lainnya, antara yang lampau dengan yang dikemudian hari (Lenin, 1963: 28).

 

Historis materialisme Marx yang ditelaah oleh Lenin menekankan masalah masyarakat. Lenin menafsir pemikiran Marx dalam manifesto komunis, bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah adanya kelas-kelas sosial, dan hal ini harus direvolusikan melalui sebuah politik. Dengan satu partai politik dan menguatkan massa proletar. Marx menganggap hegemoni kapitalisme membuat sekat antara yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Cita-Cita Perjuangan Kelas

 

Perubahan sejarah umat manusia dalam masyarakat hanya tercapai dengan jalan kekerasan yaitu melalui suatu revolusi. Karl Marx pada dasarnya menentang semua bentuk usaha untuk memperdamaikan kelas-kelas yang bertentangan. Reformasi pada kelas atas dan usaha pendamaian antar kelas hanya akan menguntungkan kelas penindas. Karl Marx menekankan bahwa perjuangan kelas yaitu penghancuran penindasan yang terjadi dalam masyarakat.  Engels mengatakan:

Semakin kuat sosialisme lebih dini ini menolak eksploitasi kelas pekerja, yang adalah tidak terelakkan dalam kapitalisme, semakin kurang mampulah ia untuk secara jelas menunjukkan atas apakah eksploitasi ini terdiri dan bagaimana ia timbul (Engels, 2005: 38).

Engels menguatkan pemikiran Marx dalam perampasan Hak kepemilikan dan bagaimana mekanisme kapitalisme mengekploitasi proletar dalam teori nilai lebih.

Perlawanan kaum proletar dalam menuntut keadilan, Lenin menerapkan tindakan politik praksis dalam melawan bentuk alienasi manusia. Lenin mengerti aparatur negara dalam masyarakat diklasifikasikan dalam mengedepankan sebagai kelembagaan dominasi sosial pemilik kemiskinan atas orang-orang yang harus hidup dengan bekerja untuk mereka, yang berubah dari sebuah kekuatan sosial, terasing dari massa sehingga masyarakat dan di luar kendali. Bagi Lenin dengan menerapkan diktarator proletariat dapat membabaskan kaum proletar dari kung-kungan kapitalisme.

Marxisme berjuang untuk penaklukan kekuasaan politik oleh kelas pekerja dan pembangunan masyarakat sosialis, dimana negara akan lenyap. Sebelum itu, haruskah buruh menjauhkan diri dari aktivitas politik? Haruskah mereka menolak semua perubahan kecil yang dapat meningkatkan keberadaan mereka? Tentu saja tidak, kita harus membela perjuangan untuk setiap manfaat sekecil apapun, dan menggunakan setiap kesempatan yang terbuka untuk kita. Hanya orang yang bodoh saja yang dapat menolak gaji yang lebih baik atau sistem kesehatan masyarakat. Melalui perjuangan tersebut, dan perjuangan untuk merubah organisasi buruh, serikat buruh, dan partai buruh, kita belajar dan menjadi lebih kuat dan membawa lebih dekat hari dimana adalah mungkin untuk merubah masyarakat secara permanen. Kaum Marxis berjuang untuk setiap perubahan kecil, dan pada saat yang sama menjelaskan bahwa perubahan-perubahan ini tidaklah aman kalau kapitalisme berlanjut. Hanya sosialisme yang dapat menyelesaikan problem-problem masyarakat.

Keadilan dan Perjuangan Kelas

           

Teori nilai-lebih yang digaris besarkan oleh Marx dalam karyanya Capital jilid I membuktikan bahwa buruh (proletar) secara mudah diekspoitasi dan marjinalkan melaui atas nama “pasar ekonomi”. Secara langsung Demokrasi yang digembar-gemborkan oleh kaum liberal, sebagai persamaan kesempatan maupun persamaan Hak Asasi Manusia adalah keadilan hanya bagi kaum borjuis dan pemodal.

Selain konsepsi Marx tentang materialisme dialektika historis dan kelas sosial, masih ada satu lagi yang juga penting, yakni konsep alienasi. Alienasi berarti hilangnya perwujudan diri manusia secara utuh dan runtuhnya hubungan harmonis dan tulus antara manusia satu dengan yang lain. Seperti kita lihat di atas, kerja berarah ganda, pada diri sendiri – objektivasi dan pada orang lain – sosialisasi. Dalam kerja, manusia mewujudkan dirinya sendiri secara nyata dan sebagai hasilnya ia berbagi dengan sesamanya. Alienasi merupakan kebalikan dari arah ganda kerja produksi manusia. Tetapi, kerja yang demikian terjadi dalam hubungan produksi kerjasama dan tidak ada kepmilikan pribadi atas alat produksi. Tidak ada dominasi satu dengan yang lain. Tetapi, dalam masyarakat berkelas, manusia terbagi secara tidak adil dan sebagian hasil kerjanya diambil oleh manusia lain. Dalam situasi itu, manusia menjadi tidak secara penuh mengembangkan seluruh potensi perwujudan diri. Manusia pun saling bersaing untuk memperebutkan kesempatan perwujudan diri dan hasil kerjanya. Sesama kelas atas saling bersaing untuk menumpuk hak milik pribadi, sesama kelas bawah berebutan memperoleh kesempatan bekerja dan antar kelas atas dan bawah saling berkontradiksi berdasarkan kepentingan sosial berbeda. Kalau kita runut ulang, dasar dari alienasi manusia adalah hak milik pribadi.

Dalam kritik post-modernisme, bahwa konsep tradisi liberal merupakan otonomi diri dari satu perantara bagian rasional yang sanggup  untuk semua aspek subjek yang dinilai sebagai kevalidannya.(umumnya adalah valid, penyesuaian untuk beberapa konsep dari otonomi) (Cristman, 2002: 200). Yang diharapkan dari kaum liberal sebenarnya adalah hanya mengharapkan keadilan di satu sisi untuk kedamaian dan dengan rasa hormat  yang bertambahnya tempat pluralisme tetapi berhubungannya dunia. (Cristman, 2002: 213).

Tulisan ini untuk KTD GMNI Filsafat-Hukum DPC GMNI Yogyakarta 18-20 Januari 2013.

Standar
analisis filsafat, Islamic Article

Islamic Philosophy, Modern Science and Wisdom

alim   I often encounter this expression when I meet fellow Muslims at social events and I state that I am a scientist during  the perfunctory revealing of professions. Not infrequently, my discussion partners start talking about “Islamic Science” with a certain degree of nostalgia and pride, because for them it conjures up the names and works of Muslim scientists such as Ibn Sina (Avicenna) and Al-Biruni (Alberonius) who lived in the 10th and 11th centuries CE. It is important to realize that they are just two of the most famous representatives of the large scientific enterprise that has flourished in Muslim history.

As shown by Seyyed Hossein Nasr, one of the world’s foremost contemporary Muslim philosophers, Muslim scientists have pursued scientific research since the 8th century CE, covering a vast range of disciplines ranging from astronomy and mineralogy to zoology and the medical sciences. However, the expression “Islamic Science” does not necessarily only refer to the fact that these scientists were Muslims. Instead, as suggested by another leading contemporary Muslim philosopher of science, Osman Bakar, the expression “Islamic Science” characterizes sciences “that were directly based upon and conceptually in harmony with the belief system of Islam.”

Nasr and Bakar contrast such “Islamic Science” with the modern science which emanated from Europe in the 17th century CE and has since become the dominant force of scientific inquiry in the world. In their view, modern science is nearly exclusively based on a rationalist and materialist view of the world, and therefore does not require that the scientific methodology and interpretation are integrated with any faith-based system. The dominance of modern science resulted in the decline of the more traditional “Islamic Science”, because even though numerous Muslims have continued to work as scientists, they no longer try to harmonize their scientific findings with the sacred concepts in traditional Islamic thought. Bakar and Nasr emphasize that modern science is not a value-free approach to knowledge, and that it carries within itself a rejection of the sacred dimension of knowledge. In Nasr’s view, modern science has monopolized the concept of science itself, whereas traditionally, science was a much more generalized term (derived from the Latin scientia = knowledge) that permitted the integration of the sacred with scientific concepts. He calls for a restoration of a more comprehensive “sacred science”, which would unify the wisdom and knowledge of all faiths with that of scientific inquiry.

I first encountered Nasr’s ideas as a university student and became enamored with the possibility of unifying the process of scientific inquiry with faith and spirituality. This was probably a reflection of a basic human desire to integrate and unify knowledge. I had already experienced a similar excitement in the late 80s when fractals and chaos theory were becoming fashionable in popular culture. I still remember that in my German high school, those of us who were science geeks would sit down during recess and talk about the beauty of a Grand Unified Theory of particle physics or how chaos theory would allow us to unite biology, chemistry and physics. We did not have any clue as to what “chaos theory” or the Grand Unified Theory actually entailed, but we were simply enthralled by the idea of unifying and integrating the various sciences with a few basic mathematical equations. So when I read Nasr’s books in the 90s, I felt that the “scientia sacra” (sacred science) would allow for an even more comprehensive integration of knowledge.

I grew up as a Muslim with an interest in Islamic thought and philosophy, and I also had a passion for the natural sciences. But I had not really given much thought to the possibility that these two domains of knowledge could be integrated. In many ways, Nasr’s ideas were quite inspiring, because he emphasized that Islam was not only compatible with science, but actually encouraged scientific inquiry.

It was only when I became a scientist that I realized the challenge of actually unifying two bodies of knowledge that at their very core are completely distinct. Modern scientific knowledge consists of theories and models that are based on results of experiments which empirically test specific hypotheses. Spiritual knowledge is based on the study of sacred scriptures and metaphysical experiences. This fundamental disparity between modern science and spirituality results in a very different view of reality, as has been eloquently shown in Taner Edis’ excellent book An Illusion of Harmony, and unifying modern science and spirituality seems like trying to fit a square peg into a round hole. Nasr’s approach of transforming the modern concept of “science” to a more traditional, pre-modern and expansive view of science would indeed allow for a resolution of the disparity.

A “sacred science” would indeed permit the integration of spiritual knowledge and scientific knowledge, but in practice, such a re-interpretation of the nature of “science” is not practical. During the last centuries, modern science has developed its own methodologies of how experiments are conducted and interpreted and these processes are constantly undergoing change. Globally speaking, modern scientists hail from very different cultures and speak different native languages, but share common conceptions of the nature of science and scientific experiments so that they can communicate results to each other. It is not uncommon at a scientific conference to have speakers from Japan, Germany and the USA give presentations in the same session and have some degree of consensus as to the nature and interpretations of their results.

If a group of scientists began to redefine their basic conception of science, so that it would allow for the integration of sacred knowledge, would they still be able to communicate scientific knowledge with colleagues who maintained the current modern day definition of science? Since “sacred knowledge” is defined so differently even by individuals within a single faith, how would scientists who incorporate “sacred knowledge” into their scientific inquiry share their results with colleagues who have a very different concept of “sacred knowledge” or perhaps even reject it completely?

These practical considerations have not deterred many contemporary Muslim scientists and philosophers, who are still actively trying to develop practical approaches to a modern day “Islamic Science”. However, there are also other voices that see modern science and religion as two distinct bodies of knowledge that allow us to view different but complementary aspects of reality. We do not advocate a unification of knowledge, but a form of mutual respect and dialogue so that each body of knowledge can draw from their partner’s strengths and wisdom.

Standar
analisis filsafat

Pentingkah (Ber) Filsafat ?

Ahmad Sidqi, S. Fil *

 

           IMG-20121209-00452 Terkadang bila kita mendengar kata “Filsafat” di dalam benak kita selalu berasumsi negatif. Gosip negatif dari kalangan masyarakat kita menganggap bahwa orang yang belajar filsafat, berfilsafat, dan para filsuf dianggap sesat. Kesesatan yang terjustifikasi oleh masyarakat tidak berdasar pada argumen yang jelas. Kalangan tertentu yang menganggap filsafat itu sesat, identik dengan ateis, orang liberal, komunis, bahkan ada pula yang menganggap filsafat itu mempelajari “perdukunan”. Semua paradigma yang salah tersebut harus didekonstruksi total.

Semua orang pasti berfilsafat. Berfilsafat sudah kodrat manusia. Mengapa? Alasanya adalah manusia pasti berpikir, dan berpikir adalah epistemologi dari filsafat. Manusia yang pasti berfilsafat dari mulai yang sangat termudah, hingga mulai dari yang tersulit. Contoh berfilsafat yang termudah;

Seorang balita bertanya pada orangtuanya, “Ayah itu apa” ? (menunjuk pada kursi). Sang ayah menjawab; “itu namanya kursi nak”. Sang balita melontarkan pertanyaan lagi: “Kursi terbuat dari apa ayah? Dan fungsinya kursinya apa ayah?”. Sang ayah menjawab lagi; kursi itu terbuat dari kayu, kursi berfungsi sebagai tempat duduk.

Contoh di atas menggambarkan filsafat secara mudah, yang ‘tidak tersadarkan’ oleh kita. Kemudian dari cerita singkat diatas, diperkuat dengan pertanyaan anak kecil yang sederhana namun filosofis.

Di dalam ilmu filsafat dikenal dengan tiga asas filsafat. Pertama adalah ontologi. Ontologi adalah asas filsafat yang menegaskan “hakikat sesuatu dibalik sesuatu”. Kedua adalah epistemologi. Epistemologi diartikan kerangka berpikir (cara berpikir) untuk menelaah suatu objek. Ketiga, adalah aksiologi. Aksiolologi diartikan pada nilai (value) objek.

Ilmu filsafat memiliki aliran-aliran (mazhab). Rasionalisme, empirisme, intuisionisme. Rasionalisme adalah aliran filsafat yang mengunggulkan akal (rasionalitas) manusia untuk menjustifikasi sebuah kebenaran. Aliran rasionalisme sudah diproklamirkan Socrates di zaman yunani kuno. Socrates memandang kejadian pada saat itu di Yunani mengalami krisis pemikiran, mengapa? Karena Socrates melihat gejolak sosial yang “tidak beres”, masyarakat Yunani menyembah dewa-dewa yang mereka buat sendiri. Melalui mitologi Dewa Zeus, Dewa Atlas, dll yang bagi masyarakat itu adalah Tuhan. Socrates menilai, mana mungkin Tuhan diciptakan oleh mereka  sendiri dalam bentuk seni rupa (patung). Penyebaran ajaran rasionalisme oleh Socrates dianggap menyesatkan oleh otoritas raja Yunani. Akhirnya, Socrates dihukum minum racun hingga wafat.

Aliran kedua adalah empirisme. Empirisme adalah sebuah aliran dalam filsafat yang mengunggulkan pengamatan inderawi (common sense). Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.

Aliran Ketiga adalah aliran intuisionisme. Intuisionisme adalah suatu aliran filsafat yang menganggap adanya satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Tokoh aliran ini diantaranya dalah Henri Bergson. Intuisionisme selalu berdebat dengan rasionalisme.

Ketiga aliran dalam ilmu filsafat tersebut. Menyebar secara sporadis dengan berbagai pisau analisis kehidupan. Agama, Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, dll. Penyebaran filsafat untuk mengalisis segala bentuk sendi kehidupan manusia. Perkembangan pemikiran multidisipliner ilmu pengetahuan, baik dari yang begitu besar hingga sekarang ini. Para filsuf dari zaman Yunani kuno, hingga zaman posmodernisme (zaman sekarang ini) merupakan perkembangan dari campur tangan filsafat. Mungkin tak banyak yang diketahui orang kalangan masyarakat bahwa filsafat memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Karakteristik dalam filsafat yang begitu bervarian dikarena paradigma pemikir tersebut dengan konteks (lingkungan) yang mempengaruhinya. Pemikir Yunani kuno seperti Socrates tentu tidak sama dengan pemikiran Konfucius di China. Konfucius sangat mengedepankan etika dan moralitas.

 

 

Apa Kontribusi Filsafat Untuk Indonesia ?   

Jas Merah! Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah ! Begitu kata Bung Karno. Indonesia menjadi sebuah negara yang merdeka tidak instan, Indonesia bukan negara common wealth seperti Malaysia, Singapore, dll. Indonesia berdiri sendiri atas perjuangan bangsa Indonesia yang kritis, rasional dan bertumpah darah.

Filsafat menjadi ujung tombak perjuangan bangsa Indonesia. Para founding father kita membaca karya-karya filsafat dari para filsuf. Bung Karno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Sutan Takdir Alisyahbana, dll merupakan cetakan filsafat. Walaupun mereka tidak membidangi filsafat dibangku sekolah. Soekarno dalam karya-karyanya seperti; Indonesia menggugat Di bawah Bendera Revolusi, dll  sangat dipengaruhi oleh Plato dalam karyanya “The Republic” dan Karl Marx dalam karyanya “Das Capital. Tidak hanya itu, Hatta turut menganalisis dalam filsafat ekonomi keynesian dan Adam Smith yang beraliran kapitalisme. Hatta sangat anti terhadap kapitalisme yang menjadikan Indonesia objek dari eksploitasi sumberdaya alam dan manusia demi income dari negarapenjajah.

Inilah sebabnya mengapa para pahlawan kita disebut sebagai founding father, karen mereka bukan hanya berjiwa pejuang, tepi juga pemikir. Melalui landasan kritis, filsafat mampu merubah dunia.

 

Filsafat Dalam Titik Lemah

Penulis mengakui filsafat memiliki titik kelemahan. Apa ya mendasari kelemahan filsafat adalah bahasa. Bahasa dalam filsafat memiliki makna yang luas, asing di dengar orang. Tidak dilepaskan dari mana asal bahasa tersebut. Misalkan Yunani, German, Amerika Serikat, Inggris, Arab dll. Untuk memahami bahasa filsafay dari berbagai negara, tentu kita harus menguasai bahasa tersebut. Konsekuensi itu bukanlah sebuah kendala atau hal yang menyulitkan bagi penggiat filsafat. Akan tetapi, anggap saja sebagai sebuah tantangan demi meningkatkan intelektualitas kita.

Kesulitan terakhir, adalah mentransformasikan filsafat dalam kehidupan. Caranya, ambil filsafat sesuai dengan basic bidang keilmuan kita, misalkan mengambil jurusan ilmu budaya, maka ambillah filosofi dari kearifan lokal suatu suku/ budaya tertentu. Dengan demikian wawasan keilmuan kita akan bertambah dan kebijaksaan dalam hidup.

 

 

Salam hangat, Yakusa !!

 

 

 

 

 

 

 

Term of reference ini untuk LK HMI Komsat FIB (9 Desember 2012)

Standar