Feeds:
Tulisan
Komentar

Topik yang mengerucut dari permasalahan-permasalahan yang coba dibahas oleh Emha dalam bukunya secara khusus diambil dari serangkaian opini dimana filsuf atau Cak Nun itu menolak apabila buku tersebut membahas sebuah tema politik akan tetapi politik dalam tanda petik. Dalam buku titik Nadir Demokrasi, jika dipahamkan kepada pembaca memiliki suatu sisi lain dimana Emha atau Cak Nun berharap pembaca memahami karya tersebut menggunakan imajinasi dimana menyediakan ruang yang lebih luas untuk menampung sebanyak mungkin cakrawala, yang titik baliknya pada demokrasi dan analisis kritis.

Ada beberapa hal yang ingin disampaikan melalui buah pemikiran “Titik Nadir demokrasi” dimana filsuf menggunakan senjata yang beragam, keris sejarah, silet kesenian, celurit ekonomi, pedang agama, panah mistik dalam hal ini beliau menggunakan media falsafah jawa dan dunia wayang serta tokoh-tokoh mitologi jawa. Hal-hal yang dapat ditangkap antara lain; analisis tentang situasi politik di Indonesia yang semakin panas dan dinamis kian menguak dan memperjelas posisi rakyat Indonesia saat itu. Berikutnya yang coba disampaikan yakni ada semacam segmen-segmen praktis dari dunia politik yang beliau paparkan, misalnya menyangkut kekuasaan, ambisi dan kekerdilan.

Emha Ainun Nadjib kita kenal sebagai tokoh yang memiliki cakrawala yang tidak hanya berkutat pada satu bidang, dia adalah teolog dan ideolog, budayawan, dan sejumlah persepsi lain mengenai Cak Nun. Dari sini sedikit lebih terlihat jelas darimana Cak Nun memperoleh kerangka pikirnya. Beliau menyebutkan dalam tulisannya sesungguhnya dia telah membuat puluhan atau mungkin ratusan tulisan lain yang bisa dimasukkan dalam buku “Titik Nadir Demokrasi”.

Oleh karena itu pandangan yang tercantum dalam buku ini banyak berbicara tentang aktualitas “apa yang sudah, apa yang sedang, serta apa yang belum”. Cak nun mengakui dengan segala kerendahan hati dan meletakkan tulisannya sebagai sebuah amanat yang datangnya dari hati. Maka dari itu ada beberapa argumen yang sebenarnya sangat ironis dan disampaikan melalui media-media bahasa yang konotatif

Kita tentunya menyadari akan keterbatasan manusia, dan beratus macam pernik mutiara aspirasi yang menegaskan keberlangsungan dialektika itu. Dengan demikian sebatas ide dan pemikiran tentunya tidak ada yang mengatasi kekuasaan Tuhan, untuk memaparkan demokrasi, saya setuju dengan bahasa demokrat bahwa kehendak rakyat adalah suara Tuhan yang bersimbolkan demokrasi. Dalam pergumulan itu politik bisa dikatagorikan sebagai syaratnya, dan yang terjadi saat ini kita belajar tentang aspirasi yang diambil dari negara- negara tetangga yang jauh dan tidak menggunakan idiom dari akar masyarakat kita sendiri. Setelah memahami beberapa analisis kondisi negara Indonesia dimana mengalami pasang surut, ada post-post tertentu yang memposisikan satu negara harus memperhatikan sejarahnya atau secara tidak langsung belajar dari kesalahan. Pada sisi tertentu kesadaran akan kondisi perpolitikan yang semakin dinamis dengan nasib ratusan juta saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air dan kita hanya bisa melihat performance para penghuni kursi kekuasaan dan tentunya kita berhak atas nasib kita sendiri dan kita haris tahu itu.

Penelusuran melalui kosmos budaya seni tokoh yang dianggap oleh cak nun memiliki persamaan yang relevan dengan kondisi sekarang, misal para tokoh pada cerita Ramayana ataupun mahabarata, kita ambil perumpamaan tokoh Semar yang didimbolisasikan sebagai kekuatan demokrasi yang mengatasi raja dari semua raja dan dewa. Perdebatan yang coba didialektisasikan berkaitan dengan simbol- simbol ideologi yang ditempatkan pada kondisi sosial sebagai kerangka teori penafsiran demokrasi menurut cak Nun

Dalam menamai karyanya cak Nun menggambarkan bahwa para pelaku monopoli, oligopoly, subjektivisme, kekuasaan dan hedonisme keduniaan, bisa dengan gampang mengubah kebusukan menjadi menjadi seakan- akan berbau harum sampai pada titik tertentu inilah moral yang merusak dan harus dihindari penyebarannya. Penyakit dalam kalbu, yang merusak kalbu, yang merusak pikiran, menyelewengkan energi mental dan mengikis moral.

Beberapa argumen yang menjadi perenungan antara lain” inilah hari- hari dimana manusia terbumerangi oleh bangunan dan sistem- sistem kekuasaan yang ia ciptakan sendiri”, ini mungkin yang disebut Tuhan memperingatkan manusia menganiaya dirinya sendiri. Ini mungkin yang juga dianalogikan sebagai rentetan historis bangsa Indonesia dari kepemimpinan sebelum-sebelumnya.

Filsuf yang didudukkan sebagai penulis titk nadir demokrasi ingin menunjukkan bahwa saat ini adalah hari-hari dimana titik nadir demokrasi yang budaya otoritarianisme semakin tidak bisa dikontrol, dimana terputus dan terbenturnya akal sehat politik. Filsuf berusaha menunjukkan kesalahan yang harus dicamkan melalui beberapa bab- bab dalam setiap judul yang memuat idea yang bersangkutan.

Koreksi logis yang perlu diperhatikan dalam mensinkronkanyya dengan aktualitas terdapat bagian-bagian yang hasilnya relatif dari setiap pembaca. Penelusuran yang diharapkan Cak Nun dari visi dan misi yang dipaparkan apabila direalisasikan mungkin memang agak memakan waktu jika dipadankan dengan kondisi detil politik dan bangsa Indonesia akan tetapi beberapa argumen dan deskripsi dari Cak Nun memang memiliki nilai folosofis yang perlu dijadikan perenungan kritis bagi seluruh masyarakat Indonesia karna cita- cita bangsa masih jauh dari terwujud dan masih perlu lagi pembenahan yang patut diperhatikan.

Baruch de Spinoza ( 1632 – 1677 ) adalah orang yahudi yang melarikan diri spanyol ke Amsterdam akibat terjadinya konflik keagamaan di sana.semula ioa di harapkan keluarganya di harapkan menjadi Rabbi. Namun ia membuat marah komunitas yahudi dan keluarganya karena pada usia 18 tahun Spinoza meragukan kitab suci sebagai wahyu Allah, mengecam posisi para imam yahudi, serta mempertanyaakan kedudukan bangsa Yahudi sebagai “ umat pilihan Yahweh “ dan keterlibatan Allah secara pribadi dalam sejarah manusia. Akibatnya pada tahun 1656 ia di usir oleh keluarganya dan di kucilkan oleh komunitasnya dengan berbagai cacian dan kutukan yang antara lain berbunyi “terkutuklah dia ( Spinoza ) pada siang dan malam hari, terkutuklah saat ia berbaring dan bangun, terkutuklah kedatangan dan kepergianya; semoga Allah tidak akan pernah sudi mengampuninya dan semoga murka-Nya turun atas orang ini ”. tidak lama setelah itu, Spinoza menderita penyakit TBC. Karena mengalami percobaan pembunuhan oleh seorang Yahudi fanatic, Spinoza meninggalkan Amsterdam dan pergi ke Den Haag ( 1670 ). Di kota tersebut ia hidup sederhana ( tidak merokok, jarang minum anggur, makan bubur encer, dan minum sedikit susu ). Dan undangan untuk mengajar di Universitas Heidelberg. Perguruan tinggi paling terkenal di Jerman saat itu, ditolaknya, agar ia terhindar dari publikasi dan tidak merasa terikat ( 1673 ). Spinoza mencari nafkah dengan bekerja sebagai pengasah lensa kacamata dan menjadio guru pribadi pada keluarga kaya. Kemudian ia, berkenalan dengan tokoh-tokoh partai politik Belanda saat itu, seperti Jan de Witt. Spinoza sempat di kunjungi Leibnez, beberapa waktu sebelum penyakit TBC yang di deritanya semakin kronisdan merenggut nyawanya pada usia 47 tahun ( 1677 ).

PEMIKIRANYA TENTANG TUHAN

Ajaran tentang Substansi Tunggal; Allah atau Alam ( Deus sive Natura )

Bagaimanakah Allah, jiwa, dan dunia material bisa di pikirkan sebagai satu kesatuan utuh.? Inilah persoaalan utama dari filsafat Dascartes. Dalam bukunya yang berjudul Eticha, Ordine Geometrico Demonstrata ( Etika yang di buktikan secara Geometris, 1677 ) 1 Spinoza menjawab persoalaan ini. Ia memulai filsafatnya dengan pengertian “ sebstansi “. Spinoza mendefinisikan substansi sebagai “ sesuatu yang ada dealam dirinya sendiri dan di pikirkanoleh dirinya sendiri. Artinya yang Sesutu konsepnya tidak membutuhkan konsep lain untuk membentuknya “. Jadi substansi adalah apa yang berdiri sendiridan ada oleh dirinya sendiri. Spinoza membedakan substansi dengan atribut, yakni sifat atau ciri khas yang melekat pada substansi. Sifat substansi adalah abadi, tidak terbatas, mutlak ( artinya tidak tergantung kepada yang lain ) dan tunggal. Menurut Spinoza, hanya ada satu yang memenuhi semua definisi ini, yaitu Allah! Ya hanya Allah yang mempunyai sifat abadi, tidak terbatas, mutlak, tunggal, dan utuh. Jelas implikasinya Spinoza menolakAllah yang bersifat personal, dengan kata lain Allah disapa manusia dengan kata “ engkau ” atau “ bapa ” seperti yang di yakini oleh agama monoteisme, khususnya agama Yahudi atau Kristen. Sebab menurut Spinoza manusia hanyalah bersifat fana, relatif dan terbatas, yang sesungguhnya dalam hal ini adalah sifat Allah.

Selanjutnya Spinosza mengajarkan bahwa kalau Allah adalah satu-satunya substansi, maka yang ada harus di katakana berasal dari Allah. Bahwa ini semua bentuk pluralitas alam, yang sifat jasmaniah ( baik manusia, hewan, dan tumbuhan ) ataupun yang bersifat rohaniah ( pemikiran, perasaan, atau bukan kehendak ) bukan hal yang berdiri sendiri, melainkan keberadaanya mutlak bergantung pada Allah. Untuk menyebut gejala ini Spinoza memakai istilah modi yang berarti berbagai bentuk atau cara keberadaan dari substansi. Dengan demikian realitas yang kita temukan di alam hanyalah modi dari Allah sebagai substansi tunggal. Alam dengan segala isinya identik dengan Allah. Dengan kata kunci ajaran Spinoza adalah Deus Sive Natur ( Allah atau Alam ). Sebagai Allah, alam adalah natura-naturans ( alam yang di lahirkan ), sebagai dirinya sendiri natura naturata ( alam yang di lahirkan ) namun substansinya adalah satu dan nama, yaitu Allah atau (juaga) alam.

Spinoza juga menolak ajaran Descartes, bahwa realitas terdiri dari tiga substansi ( Allah, Jiwa, dan materi ). Bagi Spinoza hanya ada satu substansi, Yakni Allah atau Alam. Selain itu juga persoalaan dualisme dalam filsafat Descartes juga berhasil di atasi. Menurut Spinoza; Descartes dalam memandang pemikiran ( res cogitans, hakikat jiwa ) dan keluasan ( res extensa, hakikat tubuh ) sebagai substansi yang berbeda pada manusia. Menurut Spinoza, jiwa pemikiran dan tubuh atau keluasan bukanlah dua substansi, melainkan dua atribut illahi, yakni dari sekian banyak sifat Allah atau alam yang bisa di tangkap manusia.

Dua atribut ini membentuk manusia dan menjadikanya modus atau cara keberadaan Allah atau alam. Secara substansial alam pemikiran Spinoza tidak ada tempatbagi adanya “ jiwa “ dan “ tubuh “ individual pada manusia, seba manusia adalah modus Allah dan terstukan denga-Nya. Dalam hal ini manusia hanyalah modus Allah dan terstukan denga-Nya, maka individualitas mutlak dan kebebasan manusia – dua hal yang justru di tekankan dalam agama-agama monoteis – harus di tolak. Menurut ajaran agama-agama monoteis , khususnya filsafat kristiani., setiap secara individual mutlak. Artinya Allah mencintai individu-individu secara pribadi dan menghendaki mereka tanpa kenal batas waktu. Kenyataan bahwa manusia bisa menirima atau menolak Allah bahwa manusia mempunyai kebebasaan. Dengan ini kalau manusia wafat, ia tidak larutdalam alam semesta, melainkan secara individual datang pada Allah untuk memperoleh cinta-Nya ( “surga” ) atau binasa selamanya ( “neraka” ). Kepercayaan akan adanya kehidupan sesudah kematian juga mengimplikasikan bahwa jiwa adalah abadi. Orang Yahudi, Kristen, dan Islam mengharapkan bahwa sesudah kematian akan bertenu mereka yang sudah meninggal.

Bagi Spinoza, indivudualitas, jiwa dan kebebasan manusia yang di ajarkan oleh agama-agama monoteistik tidak ada dasrnya. Menurutnya manusia hanyalah modus Allah dan oleh karena itu ia tidak abadi dan tidak mutlak pada dirinya sendiri. Ia bergantung sepenuhnya pada Allah, substansunya, sehingga tidak ada kebebasaan dan individual sesudah kebangkitan. Surge dan neraka tidak ada di kerangka pikiran Spinoza3.

AJARAN TENTANG ETIKA

Spinoza yang menyangkal kebebasan dan individualitas, namun menekankan determinise Allah atau alam atas manusiaia tidak mempertimbangkan tentang suatu etika yang menganjurkan perubahan hidup. Spinoza dalam etukanya menjawab bagau manakah orang yang bijaksana bisa hidup dengan lebih tenang dan mantap.? Apakah kwajubanku..? “Apakah kebahagiaanku” bagaimana bisa aku memperolehnya..? ( pertanyaan keharusaan tidak akan menjadi bermakna dengan latar belakang determinisme di mana segala sesuatunya di tentukan oleh Allah ).

Spinoza menyusun etikamya dengan prinsip ilmu ukur ( ordine geometric ) atau suatu dalil umum. Menurut Spinoza dalil umum yang bisa ditemukan dari semua pengada adalah “ usaha untuk m,empertahankan diri “ ( conatus ) “ setiap mahluk berusaha sekuat tenaga untuk mempertahnkan keberadaanya “ ( conatus sese conservandu ). Pada manusia usaha tersebut sebagai keinginan atau dorongan yang di dasari secara intelektual. Apabila sebaliknya ( musalnya, keinginan itu padam, tidak bergairah, terhambat ) maka akan menjadi kesedihan atau bdrasa sakit. Spinoza busa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk bagi manusia. Yang baik adalah yang mendukung dae memenuhi keinginan kita untuk memperoleh kenikmatan. Sedangkan yang buruk adalah yang menghambat dan membuat kita sedih. Kebahagaiaan akan terwujud jika kita tidak merasa sedih, tetapi nikmat.4

Di lain pihak, emosi aktif adalah perasaan senang yang kita peroleh berkat aktuvutas mental atau kegiatan juwa. Emosi aktif di dapatykan jika kita mengalami peningkatan pengertian. Saya bukan lagi objek pasif emosi, melainkan emosi mengikuti pengertian saya. Pemahaman yang paling tinggi yang bisa di capai manusua adalah mengenal Allah. Allah adalah keseluruhan realitas. Semaikn kita mengerti Allah, semakin kita mencintai-Nya. Cinta yang didasarkan pada pemahaman intelektualtentang Allah adalah puncak etika dan kebahagiaan manusia. Kalau pemahaman kita sudah mencapai tertinggi ( mengenal dan mencintai Allah ) maka kita bisa menerima segala sesuatuyanga ada di dalam sebagai kehendakn-Nya dan sanggup menyerahkan diri kepada-Nya. Ada dua hal yang penting menurut Spinoza yang berkaitan dengan kebebasaan dan kebahagiaan manusia. Pertama menurut Spinoza kebebasan tudak bersifat pasif, melainkan aktif. Dalam hal ini kita mengenal dan menyerahkan diri , secara intelektual menunjukan usaha atau kgiatan aktif. Kerua cinta kepada Allah juga bersifat intelektual bersifat karena didsarkan pengertian atau pemahaman belaka, bukan memerupakan hubungan pribadiyang mengandaikan adanya keterkaitan adanya keterkaitan dalam mencuntai. Dalam cinta intelektual kepada Allah menurut Spinoza, kita bisa melihat segala sesuatu subspecie aeternitatis ( dari sudut kebandinganya ). Artinya, dalam diri Allah kita bisa memendang dalam sesuatu yang ada di dalam semesta ini secara menyeluruh, sehingga tudak ada lagi bagian-bagian yang saling terpisah kan entah berdasarkan ruang atau waktu. Bagi Spinoza Allah adalah alam dan alam adalah Allah. Tidak lebih dan tidak kurang.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas tudak bisa di pungkiri bahwa Spinoza adalah seorang pemikir yang logis, konsisten, dan konsikuen. Dari satu prinsip utama ( Allah-alam ) ia secara deduktif mendasarkan semua hal lain. Spinoza mengajarkan bahwa manusia merupakan satu kesatuan utuh; satu substansi yang mempunyai dua aspek yakni “ jiwa “ dan “ tubuh “. Dengan demikian menganggap manusia hanya sebagau karung beras ( yang penting isinya )atau mesin otomatis (yang tudak “ berjiwa “ ) dengan sendirinya tidak di pertimbangkan. Dalam hal ini, Spinoza termasuk penikir yang memberikan sumbangan pengertian yang tepat tentang manusia sebagai ( suatu ) mahluk yang berdimensi jamak. Masalah utamanya justru teletak dalam dasar seluruh bangunan filsafatnya, yaitu menyamakan Allah dengan alam. Allah atau alam adalah satu-satunya substansi, sedangkan yang lain adalah perwujudan atau cara keberadaan ( modi ) dari Allah atau alam dari substansi yang satu dan sama. Dalam pandangan ini tidak heran bila Spinoza menolak individualitas, kebebasan, dan tanggung jawab manusia. Secara teorits bagaimana kuta bbusa menjelaskan fakta tentang adanya unsur-unsur yang bertentangan dan saling meniadakan ( mis, air dengan api, kebaukan dengan kejahatan ) adalah berasal dari prinsip atau substansi yang satu dan sama. Bagaimana alam yang konkrit ini bisa di turunkan langsung begitu saja dari satu prinsip yang sama sekali abstrak ( Allah sebagai Substansi ). Spinoza memahami Allah secara apersonal sehingga beranggapan cunta kepada Allah juga bersifat intelektual belaka. Secara praktis muncul pertanyaan; terhadap Allah yang tidak personal ltu, apakah kuta busa menaruh cinta kasih yang benar? Kalau manusia hanyalah modi dari Allah atau alam, dimanakah personalitasnya? Secara moral kita du hadapkan pada pertanyaan; dimnakah tanggung jawab pribadinya. Beberapa pertanyaan ini menunjukan bhwa di samping ada beberapa hal hal yang baik, Spinoza menekankan pada kesadaran atau pengertian dalam usaha moral, di damping petimbangan perasaan. Filsafat Spinoza pada umumnya dan ajaran tentang etuka pada khususnya mengandung banyak kontradiksi. Kecermatan metodenya bukan merupakan kendaran bagi etika yang serius dan menghukumi; sebaliknya ia menghsilkan dikta dari common sense yang adil dan halus

1. Pendahuluan

Salah satu bidang penjelajahan metafisika (ontologi) adalah pengembaraan terhadap akal budi manusia untuk mencari dasar-dasar realitas. Pencarian terhadap dasar-dasar realitas tersebut dapat dijumpai dalam suatu pemahaman yang rasional dengan menggambarkan Ada sebagai realitas murni. Pemahaman terhadap Ada dalam metafisika teologi, bukan suatu ada sebagaimana kita jumpai dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Misalnya: ada dua pulpen, ada orang yang lewat di depan rumah, atau ada empat ekor anak anjing yang baru lahir, dan lain sebagainya. Ada itu juga bukan sesuatu yang dapat diraba, dipegang, dilihat, dan disentuh oleh manusia. Tetapi, pemahaman terhadap Ada yang dimaksud dalam metafisika teologi adalah sebuah pemahaman terhadap “realitas murni.” Realitas murni itulah yang disebut “itu” sebagai yang Absolut, tidak dapat dibagi-bagi atau dikelompokkan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Ada itu adalah “itu” yang utuh, tunggal, satu, dan sempurna. Oleh karena itu, Aristoteles menyebutnya sebagai actus purus, motor immobilis, causa prima non causata, dan lain sebagainya.

Pemahaman terhadap Ada sebagai realitas Yang Absolut melalui penjelajahan akal budi manusia, khususnya dalam metafisika teologi dapat kita jumpai dalam beberapa pandangan para filosof terkemuka, seperti dalam gagasan-gagasan Baruch de Spinoza dan Hegel. Dengan gaya berpikir yang cemerlang, kedua filosof ini (Spinoza dan Hegel) mencoba menguraikan siapakah Allah itu. Apakah ada pemahaman lain yang lebih orisinil untuk mengetahui identitas sang causa prima non causata itu? Spinoza dan Hegel mencoba memecahkan persoalan ini. Spinoza melihat bahwa realitas Yang Absolut itu adalah Substansi. Sebaliknya, Hegel mendasarkan filsfatnya pada Roh Mutlak sebagai itu Dia Yang Absolut atau Allah. Bagaimana kedua filsuf ini memahami Substansi dan Roh Mutlak sebagai realitas Yang Absolut, coba saya uraikan di bawah ini.

2. Pengertian Panorama Metafisika

Apa itu panorama? Panorama diartikan sebagai pemandangan alam yang bebas dan luas (KBBI, 2003:825). Disebut sebagai pemandangan yang bebas dan luas, karena dalam mengamati sesuatu, sesuatu itu tidak dipandang secara partikular, melainkan dipandang secara menyeluruh tanpa ada pengklasifikasian terhadap realitas itu sendiri. Dalam kaitannya terhadap panorama filsafat, itu berarti filsafat dilihat atau dipandang secara menyeluruh dan bukan sebagian atau partikular saja. Misalnya: pemahaman terhadap filsafat Yunani Awali (Ancient Greek) sampai ke postmodernisme. Pemahaman ini sangat penting untuk melihat berbagai realitas yang terjadi dalam periode perkembangan filsafat secara menyeluruh.

Panorama metafisika teologi melukiskan suatu penjelajahan akal budi manusia yang tidak pernah berhenti pada suatu pemahaman terhadap pengertian Ada secara partikular, melainkan metafisika teologi memahami Ada secara menyeluruh bahkan berlanjut pada pemahaman akan eksistensi Allah1 sebagai realitas Yang Absolut atau dalam bahasa Aristoteles disebut sebagai itu Dia causa prima non causata. Panorama metafisika sebagai pengembaraan akal budi manusia tidak pernah kunjung selesai melainkan mengalami suatu pemahaman yang berkembang secara terus menerus. Jadi, panorama metafisika teologi adalah suatu pemahaman terhadap realitas Ada yang terus menerus dibingkai dalam suatu pemahaman secara menyeluruh dan bukan secara partikular.

2.1. Riwayat Hidup Spinoza

Baruch de Spinoza lahir di Amsterdam pada tahun 1632 dari sebuah keluarga Yahudi yang melarikan diri dari Portugal, karena pada saat itu orang Yahudi dipaksa untuk menjadi penganut agama Katolik.2 Gagasan-gagasan Spinoza banyak dipengaruhi oleh pemikiran Descartes terutama pemikiran terhadap Substansi yang pada akhirnya disebut oleh Spinoza sebagai realitas Aboslut.

Perkembangan pemikiran Spinoza yang semakin brilian dalam bidang filsafat, membuat para tokoh agama Yahudi merasa gelisah dan cemas, karena ajaran-ajaran Spinoza dianggap tidak ortodoks.3 Akibatnya, pada tahun 1656 Spinoza dikucilkan dari Sinagoga di Amsterdam. Setelah keluar dari Sinagoga, Spinoza mengalami suatu perubahan dalam hidupnya dan pada saat itulah dia mengganti namanya menjadi Benedictus de Spinoza sebagai tanda kehidupan barunya. Pada tahun 1677 Spinoza meninggal di Den Haag.

2.1.1. Gagasan Spinoza Terhadap Substansi

Salah satu gagasan yang diajukan oleh Spinoza dalam memahami realitas Yang absolut adalah Substansi Tak Terhingga atau Allah.4 Gagasan-gagasan Spinoza dalam mengungkap realitas yang Absolut ini, ia banyak dipengaruhi oleh rasionalisme Descartes. Namun, pengaruh Descartes yang telah membentuk pola pemikirannya, tidak semuanya diamini dengan baik oleh Spinoza terutama dalam memahami Substansi sebagai realitas murni yang Absolut. Dalam memahami Substansi, Descartes melihat bahwa Substansi itu merupakan suatu realitas yang tidak membutuhkan sesuatu yang lain.5 Dengan kata lain, Descartes melihat Allah sebagai Substansi yang tidak membutuhkan yang lain untuk berada. Tetapi, disamping Substansi sebagai realitas Absolut, Descartes menerima substansi yang lain kendatipun substansi yang dimaksud tidak berlaku secara Absolut melainkan relatif.

Berkaitan dengan Substansi yang diajukan oleh Descartes, Spinoza melihat bahwa Descartes tidak memiliki sebuah komitment yang akurat untuk mendefinisikan Substansi itu sendiri, karena dalam kenyataannya Descartes masih menerima adanya Substansi yang lain. Di sinilah Spinoza tidak setuju dengan gagasan yang disodorkan oleh Descartes. Tetapi, di sisi lain, Spinoza menerima gagasan yang disodorkan oleh Descartes yang mengatakan bahwa Substansi itu adalah sesuatu yang tidak membutuhkan yang lain, artinya bahwa Substansi itu adalah suatu realitas yang mandiri, otonom, utuh, satu dan tunggal.

Untuk memahami Substansi yang disodorkan oleh Descartes, Spinoza berpendapat bahwa Substansi itu adalah merupakan sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri atau sesuatu yang tidak membutuhkan aspek lain untuk membentuk dirinya menjadi ada. Jadi, dia itu berdiri sendiri dan membentuk dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai causa prima non causata. Oleh karena itu, dalam tatanan ada (Primum Ontologicum), Substansi itu disebut sebagai yang pertama dan yang asali. Sedangkan dalam sistem kelogisan (Primum Logicum), Substansi merupakan realitas yang pertama dan yang Absolut.6 Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam pandangan Spinoza hanya ada satu Substansi dan Substansi itu adalah itu” Dia yang Tak Terhingga atau Allah. Konsep metafisika Spinoza terhadap Substansi sebagai realitas Yang Absolut, mau memperlihatkan dengan jelas obyek penjelajahan refleksi metafisika terhadap realitas Ada yang paling tinggi dan sempurna, yaitu refleksi tentang Allah sebagai realitas yang Absolut, murni, tunggal dan sempurna.

Tetapi, selain Allah sebagai Substansi. Spinoza juga melihat Alam sebagai substansi. Dengan kata lain, dalam pandangan Spinoza Allah atau Alam adalah merupakan suatu kenyataan tunggal yang memiliki satu kesatuan. Pemahaman ini berangkat dari suatu pemahaman terhadap pembedaan antara Substansi yang oleh Spinoza disebut sebagai atribut-atribut dan modi. Modi adalah cara berada dari atribut-atribut dan secara tidak langsung adalah dari Substansi. Memang benar bahwa Spinoza mengakui hanya ada satu Substansi, tetapi di dalam substansi itu terkandung atribut-atribut (sifat hakiki) yang tak terhingga jumlahnya. Namun, dari sekian banyak sifat hakiki itu hanya ada dua yang dapat diketahui oleh manusia, yaitu keluasan dan pemikiran (extensio dan cogitatio). Dalam hal ini, Spinoza melihat Allah sebagai keluasan (Deus est res extensa) dan pemikiran (Deus est res cogitans).7 Keluasan dan pemikiran merupakan dua hal yang memiliki substansi yang sama. Spinoza menggagas ini dalam ajarannya tentang Substansi tunggal yaitu Allah atau Alam (Deus Sive Natua). Menurut Spinoza, realitas Yang Absolut itu memiliki sifat yang abadi, tak terbatas, dan tunggal. Maka, dari pemahaman seperti ini Spinoza melihat bahwa karena Allah adalah satu-satunya Substansi, maka segala sesuatu yang ada di bumi atau alam ini adalah berasal dari Allah. Di sinilah Spinoza terus menerus tenggelam dalam suatu refleksi tentang hubungan antara Allah dan manusia sebagai satu kesatuan. Maka, untuk sampai kepada Allah, Spinoza mengatakan bahwa perlu ada cinta. Cinta merupakan suatu bentuk pengenalan tertinggi terhadap Tuhan. Melalui cinta, Spinoza melihat bahwa kita dapat menerima segala sesuatu yang ada di alam, dan dengan demikian manusia menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan sebagai realitas Yang absolut. Berawal dari sinilah Spinoza disebut sebagai filsuf yang tenggelam dalam Tuhan.

2.1.2. Riwayat Hidup Geoge Wilhelm Frederich Hegel

Hegel adalah seorang filsuf yang lahir di Stuttgart, Jerman pada tahun 1770. Ia belajar filsafat dan teologi di Tubingen bersama dengan Schelling. Pada saat Napoleon menguasai kota Jena, Hegel mengungsi ke Nunberg dan di sana ia menjadi Rektor Gymnasium. Pada tahun 1831 dia meninggal dunia di Berlin.

2.1.3. Gagasan Hegel Tentang Roh Mutlak

Hegel merupakan seorang filsuf yang memiliki pemikiran cemerlang dalam bidang filsafat. Ia sangat berpengaruh dalam memahami realitas yang terjadi di Jerman pada saat itu. Karyanya sebagai seorang filsuf banyak memberikan sumbangan pemikiran kepada setiap orang yang mencoba memahami realitas Absolut atau lebih tepatnya Tuhan sebagai puncak dari pencarian manusia. Dalam sistem filsafat Hegel, ada tiga bagian besar yang harus diketahui, yaitu: ilmu logika, filsafat alam, dan filsafat Roh. Dari ketiga bagian ini, saya memfokuskan diri hanya pada gagasan Hegel tentang filsafat Roh.

Dalam pandangan Hegel, seluruh kenyataan merupakan suatu kejadian dan kejadian itu merupakan kejadian Roh. Dan Roh itu adalah “itu Dia yang Absolut atau Allah. Menurut Hegel, Roh sebagai realitas Absolut sesungguhnya merupakan suatu ide yang melewati alam. Sekadar untuk diketahui bahwa dalam memahami alam, Hegel berbeda dengan Spinoza. Spinoza memahami alam sebagai satu Substansi yang memiliki satu kesatuan, sedangkan Hegel memahami alam sebagai satu tahap dalam kejadian Allah. Oleh karena itu, Hegel mengajukan bahwa dalam Roh mutlak itu terdapat Roh subyektif, yaitu subyek yang memiliki kesadran terhadap dirinya sendiri. Apa yang disebut sebagai Roh subyektif ini mengalami suatu perubahan menjadi Roh obyektif yang menciptakan suatu gambaran tentang hukum, moral, dan lain sebagainya. Karena Roh ini mengalami perubahan, maka puncak dari perkembangan Roh ini adalah Roh Absolut sebagai realitas yang sempurna. Di dalam Roh yang Aboslut ini, terkandung seni, agama, dan filsafat yang memiliki realitas Absolut atau Yang Tak Terhingga sebagai obyek perefleksiannya. Ketiganya merefleksikan yang Absolut itu dalam cara pandang yang berbeda-beda. Misalnya: seni memahami yang Absolut melalui pengamatan inderawi, yaitu melalui lukisan-lukisan. Melalui keindahan sebuah karya seni, Hegel melihat bahwa manusia dapat menunjukkan kemampuannya untuk memahami keindahan alam yang merupakan kesaksian sempurna terhadap fakta bahwa manusia dapat mengintuisi keindahan. Namun, alam hanyalah sebagai simbol yang ada dalam pikiran manusia, karena ada yang lebih indah dari alam, yaitu Allah sebagai realitas murni yang tak terbagi. Demikian juga agama mamahami Yang Absolut dalam imajinasi, yaitu melalui refleksi atau permenungan sehari-hari. Sedangkan filsafat memahami Yang absolut melalui rasionalitas atau pencarian akal budi manusia. Kendatipun ketiga unsur ini memiliki cara tersendiri untuk memahami Yang Absolut itu, namun mereka mempunyai obyek pengamatan yang sama, yaitu Allah sebagai realitas murni, tunggal, utuh dan tak terbatas.

3. Relevansi

Tidak dapat disangkal bahwa persoalan tentang Yang Absolut atau Allah dalam metafisika menimbulkan begitu banyak problem bagi para filsuf. Ada banyak interpretasi tentang Tuhan yang diajukan dengan tujuan bagaimana agar manusia sampai kepada pemahaman akurat tentang Yang Absolut itu sendiri. Bahkan dalam arti tertentu mereka merasa ragu untuk menjelaskannya. Namun, dalam keraguan mereka, mereka berusaha untuk terus menerus mencari dan merefleksikan siapakah Tuhan itu dalam kehidupan mereka.

Kendatipun banyak mengalami kesulitan dalam menginterpretasikan Yang absolut, namun para filsuf mencoba menjembatani bebagai keraguan manusia dengan menyodorkan berbagai gagasan yang mengarahkan manusia sampai kepada pemahaman akan Tuhan sebagai akhir dari pencarian manusia sepanjang hidupnya.

Apa yang digagas oleh Spinoza dan Hegel berkaitan dengan tema tentang Yang Absolut, saya tidak mengklaim bahwa kedua filsuf ini mengajukan gagasan yang salah untuk memahami siapakah Tuhan itu. Pun juga tidak mengatakan bahwa mereka menyodorkan gagasan-gagasan yang benar. Dengan kata lain, saya mau mengatakan bahwa apa yang mereka gagas tentang Allah bukanlah puncak pemahaman dan pencarian akan Yang Absolut. Buktinya, bahwa masih ada begitu banyak filsuf yang mencoba menggeluti dunia metafisis untuk memahami Allah sebagai realitas terakhir dari penjelajahan pencarian manusia. Menurut saya, Spinoza dan Hegel telah berjuang dan memiliki cara tersendiri untuk menginterpretasikan siapakah Tuhan dalam kehidupan mereka. Misalnya: Spinoza memahami Substansi sebagai “itu Dia yang Tak Terhingga atau Allah. Sedangkan Hegel memahami seluruh kenyataan Roh Mutlak sebagai Yang Tak Terbatas dan itulah Allah. Jadi, menurut saya tema yang disodorkan oleh Spinoza dan Hegel merupakan sumbangan pemikiran yang sangat penting dalam membangun keseluruhan gagasan-gagasan panorama metafisika teologi yang berbicara tentang Allah.

Saya melihat bahwa panorama metafisika Spinoza dan Hegel memberikan suatu arti penting dalam pencarian manusia akan realitas Yang Absolut. Pada zaman sekarang misalnya, ada banyak orang mencari Tuhan dalam kehidupan mereka dengan berbagai cara sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Akibatnya, agama ditinggalkan karena mereka tidak menemukan apa yang mereka idam-idamkan dalam hidup mereka, yakni Tuhan sang Maha cinta. Maka, melihat realitas yang demikian, saya berpendapat bahwa sangat penting bagi manusia zaman sekarang untuk mempelajari berbagai konsep yang diajukan oleh para filsuf yang pada akhirnya membawa manusia sampai kepada pemahaman akan Allah sang realitas Absolut. Tetapi, dalam memahami realitas Yang Absolut itu, kita tidak boleh berhenti pada satu pandangan saja. Pun juga kita tidak boleh dipengaruhi oleh pandangan tertentu untuk berbalik dari iman kita. Sebaliknya, kita memahami semua gagasan yang ada dengan tujuan untuk membantu kita berpikir dan berefleksi sejauh mana kita memahami siapakah Allah itu. Karena hanya dengan cara demikian kita dibantu untuk sampai kepada pemahaman akan Allah sebagai tujuan terakhir dari pencarian dan pergulatan batin di dunia ini.

4. Kesimpulan

Apa yang dapat disimpulkan dari gagasan yang disodorkan oleh kedua filsuf ini berkaitan dengan pemahaman mereka terhadap Yang Absolut itu? Menurut saya, ada dua poin yang dapat disimpulkan dari filsafat Spinoza dan Hegel atas sumbangan mereka terhadap pertanyaan siapakah Allah. Pertama: Spinoza memperlihatkan konsep metafisika teologi dari sudut pandang Substansi sebagai itu Dia Yang Tak Terhingga dan akhirnya dipahami sebagai Allah. Bagi Spinoza, segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah berasal dari Allah. Jadi, alam juga merupakan suatu substansi. Dengan kata lain, Allah dan alam merupakan satu kenyataan tunggal yang memiliki satu Substansi. Kedua: Dalam filsafat Hegel, konsep Allah secara metafisis dilihat dari sudut pandang Roh Mutlak sebagai “itu” Dia Yang Absolut, yang Murni, dan yang tunggal. Bagi Hegel, seluruh kenyataan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Roh Mutlak. Manusia dan substansi duniawi lain adalah fase dan bagian dari proses penjelmaan dari Roh Mutlak.

Sebagai catatan kritis saya terhadap filsafat Spinoza adalah bahwa Spinoza tidak konsisten dengan gagasan yang dia ajukan, karena ia menggabungkan Allah dan Alam menjadi satu realitas yang memiliki satu kesatuan. Menurut saya, dengan menggabungkan Allah dan alam menjadi satu kesatuan yang memiliki substansi yang sama, maka Spinoza mereduksi individualitas, kebebasan, dan tanggungjawab manusia. Dengan kata lain bahwa Spinoza menolak personalitas. Lalu, pertanyaannya adalah di manakah tanggungjawab manusia?

PANDANGAN THOMAS HOBBES DALAM STATE OF NATURE

Thomas Hobbes percaya bahwa keadaan yang berdasarkan atas tindakan-tindakan kealaman yang tidak dikehendaki yang memiliki sifat alamiah, kodrat. Dia juga percaya, bahwa hasil dari keadaan alam dapat bersifat negatif seperti sifat kenekatan yang berujung pada peperangan, baik itu peperangan dari individu dengan individu, individu dengan kelompok bahkan kelompok dengan kelompok. Intisari dari pendapat Thomas Hobbes dengan “state of nature” nya, dapat dilihat dari ketiadaan pemerintah manusia akan secara alamiah tidak dapat dielakkan akan membawa kita pada konflik yang berat[1].Bagi Hobbes, yang pertama kali kita pelajari adalah tentang “state of nature”, adalah dengan mempelajari tentang sifat-sifat dasar manusia secara alamiah.

Hobbes sebenarnya ingin mendeskripsikan dan memberi kesan, dengan memberi dua kunci agar memahami teorinya yaitu yang pertama adalah pengetahuan dari diri sendiri. Pengetahuan adalah sebuah bentuk kejujuran dari instropeksi yang menyebutkan tentang keberadaan manusia, seperti pemikiran yang alamiah, pengharapan, dan kekhawatiran. Alat penangkap pengetahuan adalah panca indera. Panca indera sebagai alat penangkap dari sifat manusia bisa terjadi pengurangan. Panca indera terbagi empat macam; Kekuatan jasmani, Pengalaman, Alasan, Derita (nafsu. mengambil permulaan dari semua dokrin yang berikut ini dari ini, kita akan mengenalkan pada pokoknya apa yang cara kecenderungan-kecenderungan orang-orang yang dimiliki dengan panca indera telanjang ini ke arah satu sama lain, dan apakah, dan dengan apa yang panca indera, mereka dilahirkan siap untuk bersosialisasi, dengan demikian memelihara diri mereka dengan melawan terhadap kekerasan, kekejaman yang bersifat bersama; lalu melanjutkan, dengan memberi sebuah nasihat yang perlu kira ketahui akan persaingan manusia ini, dan apakah ini yang merupakan kondisi-kondisi sosial atau dari kedamaian manusia[2].

Teori yang kedua adalah dengan pemahaman atas konsep materialis[3]. Yaitu konsep dimana Hobbes mengikuti pemahaman Galileo, yaitu segala sesuatu adalah obyek yang bersifat nyata, riil. Sifat manusia inilah yang membuat sebuah gerakan-gerakan dari manusia itu sendiri untuk mempertahankan hidupnya, seperti memperebutkan lahan untuk tempat tinggal, memperebutkan lahan untuk bercocok tanam, ini membuat persaingan dengan manusia yang lainnya.

Ketiadaan sebuah institusi atau pemerintahan yang mengatur hidup manusia, membuat persaingan, peperangan, bahkan pertikaian. Inilah yang disebut oleh Hobbes dalam “state of war”. State of war dari pemahaman teori Hobbes adalah konsekuensi dari “state of nature”nya. Ini merupakan keadaan alamiah dimana manusia mempertahankan apa yang dibutuhkannya, apa yang dikehendakinya, dan apa yang diperlukannnya. Semua itu adalah alamiah, berkelanjutan, berusaha untuk menaikkan kekuatan, mempunyai kekayaan, reputasi, dll.

Hobbes melihat tiga prinsip digerakan untuk menyerang di dalam state of nature; yaitu untuk keuntungan, untuk keamanan,dan kejayaan, atau reputasi[4]. Hobbes mempercayakan gagasannya dari keberadaan manusia,di dalam pencarian kebahagiaan, tepatnya untuk menaikkan kekuatan dari segala kebutuhan.

Pandangan Anarkhisme Tentang Negara Dan Teori Anarkhisme Dipandang Tidak Menarik ( William Godwin)

“”The annals of the French Revolution prove that the knowledge of the few cannot counteract the ignorance of the many . . . the light of philosophy, when it is confined to a small minority, points out the possessors as the victims rather than the illuminators of the multitude [5]””.

Anarkhisme adalah sebuah ide tentang hidup dengan cara yang lebih baik. Sedangkan Anarkhi adalah sebuah cara untuk hidup. Anarhkisme menganggap bahwa pemerintahan ( Negara ) itu bukan saja tidak diperlukan tapi juga berbahaya. Para anarkis adalah mereka yang mempercayai anarkisme dan memiliki hasrat untuk hidup di dalam anarki sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para leluhur kita dulu. Mereka yang mempercayai pemerintahan ( seperti kaum liberal, Marxis, Konservatif, sosialis dan fasis) dijulukisebagai“statist.”
Awalnya anarkisme mungkin terkesan sangat negatif – karena oposisinya yang mentah. Namun sebenarnya, para anarkis memiliki banyak ide positif mengenai hidup di dalam sebuah masyarakat tanpa pemerintahan. Tidak seperti para Marxis, Liberal dan konservatif, mereka sama sekali tidak menawarkan sebuah cetak biru dari masyarakat. Anarkhisme merupakan sebuah deskripsi tentang penggabungan dokrin-dokrin, sikap dan gerakan-gerakan dengan sifat dan ciri yang menyatukannya adalah keyakinan bahwa pemerintah pada dasarnya bersikap opresif. Kaum anarkhisme ini berpendapat bahwa manusia harus membersihkan dirinya dari semua bentuk pemerintahan sebelum membangun pemerintahan yang baru yang didasarkan atas keadilan, cinta damai,dan semangat kerjasama. Anarkisme menawarkan sebuah jalan penyelesaian atas semua hal diatas, dengan meneliti, merunut semua problema tersebut hingga ke akar permasalahannya. Dan menurut analisa yang diyakini oleh kaum anarkis, dapat diambil diambil kesimpulan bahwa semua masalah pokok tersebut disebabkan oleh sistem hierarki yang disebarkan dan dimapankan oleh kapitalisme, yang termasuk juga di dalamnya adalah semua institusi-institusi yang mengandalkan kekuatan hanya pada satu titik teratas dari sebuah struktur (seperti contohnya perusahaan korporasi multinasional, birokrasi pemerintah, partai-partai politik yang hanya mengandalkan para elit politik, tentara, universitas dan sekolah, organisasi-organisasi keagamaan, dan lain sebagainya). Hal-hal tersebut pada prakteknya telah memperlihatkan bagaimana hubungan antar manusia yang otoriter hanya akan menyebabkan efek-efek negatif pada setiap individu, masyarakat dan budayanya. Dapat dikatakan juga bahwa selain anarkisme hanya merupakan kritik terhadap kehidupan masyarakat yang sakit, anarkisme adalah juga merupakan sebuah proposal untuk sebuah kehidupan masyarakat yang bebas

Salah satu pemikir yang mengutarakan anarkhisme adalah William Godwin, yang karya utama dikenal adalah The Inquiry Concerning Political Justice di tebitkan pada tahun 1793. Pokok filsafat Godwin adalah bahwa penderitaan manusia pada intinya disebabkan oleh ketidakadilan. Kekuasaan negara yang menghalangi individu bertindak sesuai dengan akal dan kebajikan harus dilenyapkan[6]. Dari pemahaman Godwin di atas, Godwin mengusulkan bahwa masyarakat masa depan adalah masyarakat yang ideal, harus terdiri dari unit-unit kecil di mana tak seorangpun tidak perbolehkan untuk memaksakan kehendaknya pada orang-orang lain.

Sebuah permasalahan tentang anarkhisme, Bagaimana gerakan anarki saat ini dan masa mendatang? Saat ini sesungguhnya gerakan anarkisme tengah mengalami kemunduran. Kecuali di Spanyol gerakan anaki dihancurkan dimana-mana. Anarkhisme di pandang tidak menarik dikarenakan sebuah sistem negara yang berbeda-beda, seperti Indonesia dengan sistem demokrasinya, sehingga masyarakat dapat diberikan hak-hak untuk berbicara, mengeluarkan pendapat, dan mengapresiasikan apa yang ada dibenaknya, begitu juga dengan negara yang berpahamkan sosialis, liberalis, dll. Inilah faktor utama yang membuat paham anarkhisme tidak berkembang secara pesat.

Pengertian Tentang Unsur Intrinsik Dalam Demokrasi

Sebelum kita memasuki unsur-unsur intrinsik dalam pemerintahan demokrasi, kita harus mengetahui pengertian dari demokrasi. Demokrasi adalah faham dimana bentuk pemerintahannya dan cara hidup yang tidak terlalu ideal, tidak terlalu buruk, tetapi cocok dengan kehidupan masyarakat, dan dapat dinikmati oleh masyarakat. Demokrasi membutuhkan sebuah prospek ke depan, faktor-faktor yaitu; factor ekonomi, faktor sosial, faktor eksternal, dan kultural[7].

Pendekatan alternatif menerima demokrasi sebagai “sebuah kebijakan intrinsik” yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Bubarnya Uni Sovyet menandai berakhirnya komunisme, satu-satunya pesaing utama demokrasi yang masih tersisa sejak berakhirnya PD II.. Di saat bersamaaan, pendekatan ini, juga dalam banyak hal, menerima pembangunan ekonomi yang menekankan pertumbuhan sebagai tak terelakkan. Sudah tentu model pertumbuhan memiliki sejumlah kekurangan. Hanya saja persoalannya tidak lagi mengganti model itu dengan model lain, tetapi melengkapi gagasan pertumbuhan dengan pendekatan pemerataan atau partisipatif[8].

Boleh dibilang pendekatan alernatif mendukung wacana yang sedang dominan yang meyakini demokrasi sebagai prakondisi yang tak terbantahkan bagi pertumbuhan ekonomi. Menurut keyakinan ini, demokrasi mengutamakan kebebasan, kompetisi, rule of law, transparansi dan akuntabilitas publik. Unsur-unsur demokrasi itu merupakan prasyarat yang diperlukan sebuah ekonomi pasar agar bisa bekerja secara optimal. Jika pasar bisa bekerja optimal dan menghasilkan pertumbuhan, maka pembangunan ekonomi akan memproduksi kesejahteraan yang amat diperlukan bagi keberlangsungan demokrasi.

Unsur normatif politik itu yakni kebaikan dan jaminan keadilan untuk semua orang. Praktik politik yang mengorbankan martabat manusia secara politis dapat dikatakan bertentangan dengan tujuan esensial dan akhir politik itu sendiri yakni kebahagiaan hidup manusia yang kita sebut rakyat. Tujuan etis kegiatan politik adalah untuk humanisasi hidup. Artinya, dengan berpolitik manusia makin berkembang untuk mewujudkan hak-hak dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Politik yang benar adalah membebaskan dan memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, pemerasan, pemerkosaan, manipulatif, ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan dalam kehidupan bersama.

Faktor utama dari unsur instrinsik adalah kemakmuran ekonomi dan persamaan, dengan mengkolerasikan keduanya. Maksudnya adalah pertama,baik demokrasi maupun kemakmuran dapat disebabkan oleh faktor ketiga (eksternal).Protenstantisme misalnya disebutkan sangat berperan dari lahirnya kapitalisme, perkembangan ekonomi, dan demokrasi. Kedua adalah demokrasi dapat menimbulkan kemakmuran[9].

Faktor kedua adalah struktur sosial. Faktor kedua ini melibatkan masalah sampai sejauh mana struktur sosial dibedakan dan diartikulasi secara luas dengan kelas-kelas social, kelompok regional, kelompok profesi, kelompok etnis, dll. Oleh karena itu lembaga-lembaga politik demokrasi dipandang sebagai sarana yang efektif untuk melaksanakan kendali tersebut[10].

Faktor ketiga adalah faktor lingkungan luar. Pengaruh luar dapat berperan dalam mempengaruhi apakah suatu masyarakat bergerak menuju demokrasi atau tidak, sejauh mana pengaruh demikian itu lebih penting dibanding dengan faktor-faktor asli, maka demokratisasi adalah akibat dari fusi dan bukan akibat perkembangan [11].

Faktor yang keempat adalah Kebuadaayaa. Kebudayaan politik berakar dalam kebudayaan dalam kebudayaan masyarakat yang lebih luas lagi, yang melibatkan keyakinan, dan nilai-nilai mengenai hakikat manusia dan masyarakat, hubungan individu dengan sang Pengada yang sifatnya transenden[12].

Selama hampir 57 tahun sebagai bangsa merdeka kita dihadapkan pada panggung sejarah perpolitikan dan ketatanegaraan dengan dekorasi, setting, aktor, maupun cerita yang berbeda-beda. Setiap pentas sejarah cenderung bersifat ekslusif dan Steriotipe. Karena kekhasannya tersebut maka kepada setiap pentas sejarah yang terjadi dilekatkan suatu atribut demarkatif, seperti ORDE LAMA, ORDE BARU dan kini ORDE REFORMASI.

Karena esklusifitas tersebut maka sering terjadi pandangan dan pemikiran yang bersifat apologetik dan keliru bahwa masing-masing Orde merefleksikan tatanan perpolitikan dan ketatanegaraan yang sama sekali berbeda dari Orde sebelumnya dan tidak ada ikatan historis sama sekali

Orde Baru lahir karena adanya Orde Lama, dan Orde Baru sendiri haruslah diyakini sebagai sebuah panorama bagi kemunculan Orde Reformasi. Demikian juga setelah Orde Reformasi pastilah akan berkembang pentas sejarah perpolitikan dan ketatanegaraan lainnya dengan setting dan cerita yang mungkin pula tidak sama.

Dari perspektif ini maka dapat dikatakan bahwa Orde Lama telah memberikan landasan kebangsaan bagi perkembangan bangsa Indonesia. Sementara itu Orde Baru telah banyak memberikan pertumbuhan wacana normatif bagi pemantapan ideologi nasional, terutama melalui konvergensi nilai-nilai sosial-budaya (Madjid,1998) Orde Reformasi sendiri walaupun dapat dikatakan masih dalam proses pencarian bentuk, namun telah menancapakan satu tekad yang berguna bagi penumbuhan nilai demokrasi dan keadilan melalui upaya penegakan supremasi hukum dan HAM. Nilai-nilai tersebut akan terus di Justifikasi dan diadaptasikan dengan dinamika yang terjadi.

Dalam arti ini, apa yang disuarakan Soekarno tentang ‘negara kebangsaan’ di tahun 1945 tidak berbeda jauh dengan konsep ‘pembangunan bangsa’ yang digelorakan orde baru hingga (orde) reformasi sekarang ini. Karena itu benar bahwa pembangunan yang digiatkan dalam orde reformasi dan selama orde baru merupakan mata rantai dari perjuangan menuju pintu gerbang kemerdekaan yang digelorakan Soekarno ketika bersama para pemuda menyatakan kemerdekaan bangsa ini. Perjuangan menuju pintu gerbang ini bertali temali dengan landasan persatuan yang ditonggaki Budi Utomo. Seterusnya semangat Budi Utomo ini ditiupi oleh nafas yang ada dalam dada para pahlawan yang menentang penjajah.

Masing-masing era, kurun waktu, orde, karena itu, tidak terlepas satu sama lain dan saling mengeksklusifkan. Setiap orde, kurun, waktu, masa itu kerap diterima sebagai babak baru yang lahir sebagai reaksi sekaligus koreksi terhadap orde sebelumnya. Semangat Budi Utomo digelorakan kembali oleh Soekarno melalui proklamasi kemerdekaan dan orde lama. Berjalan di luar rel, orde lama kemudian diganti dengan orde baru. Kendati banyak ketimpangan, harus diakui bahwa orde lama merupakan anak zaman pada masanya.

Tesis politik yang dicetuskan orde baru di awal kelahirannya sangat jelas, yakni demokratisasi politik di samping perbaikan ekonomi. Tesis inilah yang meromantisasikan perlawanan sosial menentang sistem politik yang tidak demokratis dan sistem ekonomi yang hancur-hancuran di zaman orde lama. Gilang gemilang hasil pembangunan orde baru memang sungguh menakjubkan. Masyarakat di bawah orde baru telah berkembang sangat pesat. Namun harus diterima bahwa perkembangan itu adalah perkembangan elitis dalam sistem politik yang tunggal dan monolitik. Pilihan model pembangunan yang bercorak teknokratis yang secara sengaja memperlemah kekuatan politik non negara untuk menghindari bargaining politik kemudian melahirkan begitu banyak ketimpangan dalam orde baru. Karena itulah ketika desakan arus bawah semakin kuat dan dengan didorong hasrat mau maju, orde baru kemudian ditentang. Orde yang berjalan lebih dari tiga dasawarsa ini kemudian tumbang dan lahirlah orde yang lebih lazim disebut sebagai (orde) reformasi.

ABORSI

Aborsi bukanlah satu-satunya jalan tempuh untuk menyelesaikan masalah dalam mengahadapi hidup, apalagi bayi yang di kandung dalam perut wanita (ibu) adalah janin yang masih bersih dan tidak tahu apa-apa. Seluruh masyarakat harus di sadarkan akan pentingnya perlindungan terhadap janin dalam kandungan. Akan tetapi aborsi merupakan masalah delematika yang tidak harus kita hindari. Namun demikian, aborsi banyak di perdebatkan di negara-negara barat maupun timur, di negara bagian texsas undang-undang aborsi bertentangan dengan hak yang terjamin dalam konstitusi amerika, khususnya the right of personal privacy (hak atas lingkup pribadi)1 . dari sudut pandang hukum sangatlah di jamin karena aborsi selain menghilangkan nyawa seseorang, juga membahayakan kondisi seseorang tersebut. Aborsi tanpa alasan yang amat berat sama sekali tidak dapat di benarkan dari segi moral hidup, yang menuntut kita untuk menghormati hidup manusia sejak dalam kandungan ibunya2. Dari sekian banyak kasus masalah-masalah moral, aborsi merupakan masalah modern yang paling tajam, penggunaan aborsi sebagai jalan keluar kontrasepsi dan menghilangkan rasa malu terhadap orang lain, Dalam beberapa tahun terahkiri di amerika serikat mencapai rata-rata 1,5 juta aborsi per tahun. Secara garis besar tindakan aborsi sangat berbahaya bagi ibu dan juga janin yaitu bisa menyebabkan kematian pada keduanya.

Aspek Hukum dan Medikolegal Aborsi Povocatus Criminalis Aborsi telah dilakukan oleh manusia selama berabad-abad, tetapi selama itu belum ada undang-undang yang mengatur mengenai tindakan abortsi. Peraturan mengenai hal ini pertama kali dikeluarkan pada tahun 4 M di mana telah ada larangan untuk melakukan abortus. Sejak itu maka undang-undang mengenai abortus terus mengalami perbaikan, apalagi dalam tahun-tahun terakhir ini di mana mulai timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat dan pemerintah di berbagai negara di dunia terhadap tindakan abortus. Hukum abortus di berbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai berikut: A

• Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda.

• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosio-medik, seperti di Eslandia, Swedia, Inggris, Scandinavia, dan India.

• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti di Jepang, Polandia, dan Yugoslavia.

• Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan tanpa memperhatikan indikasi-indikasi lainnya (Abortion on requst atau Abortion on demand), seperti di Bulgaris, Hongaria, USSR, Singapura.

1. Pengantar Bioetika. A Shaman, Thomas

2. Moral dan Masalahnya. Hadiwardoyo, Al Purwa.

• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi eugenistis (aborsi boleh dilakukan bila fetus yang akan lahir menderita cacat yang serius) misalnya di India

• Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi humanitarian (misalnya bila hamil akibat perkosaan) seperti di Jepang

Negara-negara yang mengadakan perubahan dalam hukum abortus pada umumnya mengemukakan salah satu alasan/tujuan seperti yang tersebut di bawah ini:

• Untuk memberikan perlindungan hukum pada para medisi yang melakukan abortus atas indikasi medik.

• Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya abortus provocatus criminalis.

• Untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk.

• Untuk melindungi hal wanita dalam menentukan sendiri nasib kandungannnya.

• Untuk memenuhi desakan masyarakat.

Di Indonesia, baik menurut pandangan agama, Undang-Undang Negara, maupun Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan pengguguran kandungan (abortus provokatus). Bahkan sejak awal seseorang yang akan menjalani profesi dokter secara resmi disumpah dengan Sumpah Dokter Indonesia yang didasarkan atas Deklarasi Jenewa yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates, di mana ia akan menyatakan diri untuk menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. Dari aspek etika, Ikatan Dokter Indonesia telah merumuskannya dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia mengenai kewajiban umum, pasal

Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pada pelaksanaannya, apabila ada dokter yang melakukan pelanggaran, maka penegakan implementasi etik akan dilakukan secara berjenjang dimulai dari panitia etik di masing-masing RS hingga Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK). Sanksi tertinggi dari pelanggaran etik ini berupa “pengucilan” anggota dari profesi tersebut dari kelompoknya. Sanksi administratif tertinggi adalah pemecatan anggota profesi dari komunitasnya.

Ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus justru tidak bersifat mutlak. Abortus buatan atau abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua golongan yakni: 1. Abortus buatan legal Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Populer juga disebut dengan abortus provocatus therapeticus, karena alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa ibu. Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan:

PASAL 15: 1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. 2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) hanya dapat dilakukan: a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut; b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli; c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya; d. Pada sarana kesehatan tertentu. 3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai berikut: Ayat (1) : Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu Ayat (2) Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu sebab tanpa tindakan medis tertentu itu,ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut. Butir Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan wewenang untuk melakukannya yaitu seorang dokter ahli kandungan seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. Hak utama untuk memberikan persetujuan ada ibu hamil yang bersangkutan kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,dapat diminta dari semua atau keluarganya. Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh pemerintah. Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk. 2. Abortus Provocatus Criminalis ( Abortus buatan illegal ) Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan atau menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Beberapa pasal yang mengatur abortus provocatus dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP):

Dalam hal ini ada beberapa jenis aborsi, Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.

Study kasus aborsi

Saat itu pas jam 7 malam, kami baru saja selesai makan malam dan bersantai untuk menonton berita sore. Handphone suami saya berdering terlihat nama Laura dilayar handphone. Kami selalu senang mendengarkan kabar darinya. Laura begitu penuh dengan gairah hidup, roh anda akan terbakar hanya dengan berbicara dengannya. Kecuali untuk kali ini itu bukanlah suaranya. Ada jeritan serak dan isak tangis diseberang sana oleh suara yang saya tidak dapat cepat mengenalinya. Saya mendengar kata2 “Laura”, “Rumah Sakit” dan yang terburuk, “Tidak Bernafas” dan kemudian “aborsi”

Otak saya oleng, hati saya tertekan dan kehidupan yang saya ketahui berhenti. Yang tadi menelepon adalah teman dari Laura, Karen. Ia berkata pada saya apa yang terjadi, bahwa Laura sedang melakukan aborsi dan sesuatu berjalan sangat buruk. Karen sedang berada di ruang emergensi dan dokter memerlukan untuk berbicara dengan saya. Apa yang Karen tidak ketahui bahwa Laura saat datang ke ruang emergensi sudah dalam keadaan meninggal. Laura meninggal di ruang aborsi. Rumah sakit pertama2 hanya mencari keluarga terdekat untuk memberitahukan berita ini dan Karen bukanlah sanak keluarga.

Laura meninggal kata dokter itu padaku. Saya ingin mendengar “50-50” kesempatan hidup … Aku bahkan akan menerima “90-10” kesempatan hidup. Tapi kata “kesempatan hidup” tidak ada dalam perkataan dokter itu. Seluruh harapan telah pergi, bersama dengan putriku.

Putriku yang cantik, yang berharga, yang kami telah adopsi saat berumur 5 tahun, dan secepat itu terlupakan kalau kami bukanlah yang melahirkannya. Laura sudah menjadi bagian kami sebagaimana anak kami sendiri. Ia adalah sebuah pemberian yang tidak kami minta dan harta kami yang berharga. Saya mempunyai pertanyaan yang saya tidak akan dapat jawabannya, “kata kenapa.” Kenapa ia tidak datang kepada kami? Kenapa ia tidak memberitahukan kami ia sedang hamil? Kenapa ia berpikir bahwa aborsi adalah solusi untuk masalahnya?

Laura di besarkan di dalam keluarga Kristen yang penuh kasih. Laura menjadi marah ketika orang lain yang ia kenal melakukan aborsi. Laura mencintai anak2. Laura mengandung bayi dari tunangannya: tunangannya mengasihinya dan berkata ia tidak percaya-setuju akan praktek aborsi.

Ada beberapa pertanyaan yang saya dapatkan jawabannya. Saya bertemu dengan dokter yang menggugurkan cucu saya, dan yang melihat putri saya mengambil nafas terakhir. Ia hanya akan menemui saya di tempat umum, tanpa suami saya. Kami berbicara selama satu jam setengah. Berdasarkan pertemuan itu saya percaya saya tau apa yang terjadi dengan Laura. Ia tidak mengakui melakukan sesuatu yang menyebabkan kematian Laura. Ketika kami selesai berbicara mengenai Laura, saya berdoa, dan tanya Tuhan apakah ada sesuatu yang Ia ingin aku katakan kepada dokter ini. Ini yang saya katakan selajutnya … “Darah dari putriku ada atas tanganmu, darah dari cucuku ada atas tanganmu; darah dari setiap nyawa yang pernah kau ambil ada di atas tanganmu,” dan saya beranjak dari sana. Ia terdiam dengan kepala tertunduk.

Saat saya bersiap untuk pergi, saya bertanya padanya apakah ia akan berpikir mengenai putriku, dan mempertimbangkan untuk tidak melakukan lagi aborsi-ia berkata akan memikirkan hal itu. Saat saya meninggalkan tempat itu saya berdoa, dan berkata kepada Tuhan, “Dapatkah ia menyetop pria ini dari praktek aborsi? Apakah ini yang ada di pikiran-Mu, bahwa ia bahkan berhenti untuk melakukannya? Saya berpikir begitu sempit. Saya berpikir jika seorang gadis mengubah pikirannya (mengenai melakukan aborsi), saya dapat menemukan sepenggal penghiburan. Saya kemudian menyadari bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih besar. Saya belum pernah mengalami dalam hidup saya, suatu yang tragis, juga suatu kasih karunia yang luarbiasa.

Dari kematian putiku, saya tau’ bahwa Tuhan akan membawa kebaikan. Suatu yang mengenaskan; untuk putriku di hubungkan dengan praktek aborsi. Namun, jika Tuhan akan pakai untuk kebaikan dan kemuliaan-Nya, maka jadilah.

Saya percaya kebenaran akan tampil, dan terang Tuhan akan bercahaya di atasnya. Kematian Laura memiliki dampak luarbiasa di seluruh negeri, dan bahkan sampai ke Kanada, tanpa ada berita lokal menyebutkannya. itu hanya keluar di media sekuler minggu ini-lima minggu setelah kematian Laura.

Saya sekarang percaya bahwa ini adalah panggilan saya untuk terus menceritakan kisah Laura kepada Gereja, dan dunia. Saya sungguh percaya bahwa aborsi bukanlah pilihan bagi gadis Kristen. Seorang Gembala bahkan meminta maaf pada saya dan Tuhan, karna tidak berbicara mengenai hal ini di mimbar. Kita sama2 memiliki asumsi yang salah. Ini adalah sebuah masalah di Gereja, dan satu isu yang perlu di khotbahkan dari mimbar. Kita harus bawa itu keluar, dan mendiskusikannya. Dan mungkin jika dapat, kita harapkan, kita bahkan menjadi aktif untuk menolak aborsi.

Saya mohon tetaplah berdoa untuk keluarga kami, dan beritahukan kepada yang lain kisah Laura.

Ibu Eileen percaya bahwa kisah Laura musti di ceritakan, dalam harapan bahwa ada kehidupan yang diselamatkan-baik bayi dan ibu muda-sehingga kematian putrinya tidaklah sia2. (Itu sebabnya saya memposting hal ini di Indonesia-NYA dengan harapan yang sama)

Laura Hope Smith umur 22 tahun, meninggal pada tanggal 13 September 2007, saat melakukan aborsi yang di lakukan oleh Dr. Rapin Osathanondh, pada Klinik Kesehatan Wanita di Hyannis, Massachusetts

*

Daftar Pustaka

http://www.keluargasehat.com/keluarga-ibuisi.php?news_id=165

http://indonesianya.wordpress.com/2007/11/09/kisah-laura/

http://www.jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=4258

http://situs.kesrepro.info/gendervaw/jul/2002/utama02.htm www.abortiono.org www.liputan6.com www.kompas.co.id

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

« Newer Posts