cerita

Menjadi Pemburu Beasiswa Doktoral, HARUS!

Mendapatkan beasiswa sungguh nikmat yang patut disyukuri. Keluarga saya adalah dari golongan akademisi. Ayah saya adalah seorang guru agama madrasah, sering sekali mengajar taklim dan Ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga. Lahir di kota Jakarta yang digempur oleh modernitas adalah sebuah tantangan. Saya adalah penerima beasiswa Yabanci Turkiye Burslari atau Turkiye Scholarship (Beasiswa Pemerintah Turki) pada tahun 2015, dan pada tahun 2012 saya mendapatkan Fulbright Research Scholarship untuk program master di George Washington University, Departement of Islamic Studies. Di Turki saya berkuliah di Universitas Marmara Fakultas Ilahiyat Jurusan Filsafat Islam dan kajian Agama , Istanbul. Saya berangkat ke Istanbul, pada tanggal 10 September 2015, bersama sekitar 20 mahasiswa baru dari Indonesia. Dunia baru, alam baru, teman-teman baru dari bangsa lain.

IMG_20150921_065614_wmIstanbul, kota sejuta harapan dan kota kekaisaran. Mulai dari era Bizantium, Konstantin dan Utsmani. Berabad-abad kota ini hidup sebagai legenda kekaisaran. Hiruk pikuk kota Istanbul dari selepas subuh sampai ke subuh lagi dirasa tak ada habisnya. Ibarat gudang gula yang dihuni jutaan semut, kiranya begitulah Istanbul.

Pesona Istanbul nan elok membuai para warga Turki, dan juga pendatang. Dikelilingi “karangan bunga air” di selat Bosporus yang membelah Eropa dan Asia. Meminjam perkataan sastrawan Turki, Orhan Pamuk; “Istanbul ada kota abadi nan surgawi” Berkuliah di kota Istanbul memiliki banyak manfaat bila anda menyukai sejarah peradaban, filsafat islam, ekonomi, bahkan sains sekalipun, semua tertuang dalam kearifan kota ini.

Memulai dari belajar bahasa Turki Modern sebagai bekal komunikasi antar teman atau masyarakat Turki. Keingintahuan saya lebih pada bahasa Turkiya osmanli, yaitu bahasa Turki zaman Kerajaan Usmani, karena saya sedikit lebih paham karena bercampuran bahasa Parsi (yang pernah saya pelajari di salah satu short course di ICC Jakarta) kemudian bahasa Arab (yang saya pernah pelajari saat saya mondok) dan juga bahasa Aramic (Bahasa Arab Syiria dan Kurdistan). Pernah suatu hari selepas solat Maghrib di Guzeltepe Bilmik Camii, Dua orang muslim Turki yang sedikit sepuh disana berkenalan dengan saya. Sayapun berkenalan dengan bahasa Turkiya Osmanli, diapun tampak bingung. Diapun bertanya dengan bahasa Turki (Turkce), Sen Nerelisin? Saya: Ben Endonezyaliyim, Turkce Bilyorum cok az. Dia pun tampak senang, karena saya dari Indonesia. Negara Muslim terbesar di dunia, dan memeluk saya erat. Begitulah kiranya muslim di Turki yang di Istanbul melihat wajah saya yang asing bagi mereka. Mereka kira saya dari Malaysia.

Kejenuhan di Istanbul yang Teramat Sangat   

Belajar Bahasa Turki di Marmara Universitesi Goztepe Kampusu memang menarik, tapi entah mengapa saya merasa sedikit membosankan, inilah tipikal saya yang pada kebebasan akademik dihadapkan pada kondisi jenuh.

Akhirnya, saya mencari info untuk beasiswa-beasiswa lain. Titik klimak kebosanan saya adalah pada sistem akademik yang menurut buruk, birokrasi ijin tinggal yang sangat lama, bahkan sampai 3 bulan. Saya menghubungi professor yang bekerja di Univ. Brunei Darussalam. Saya curhat pada beliau masalah akademik saya di Turkey. Saya lebih memilih pada Doktoral by Research, lebih fokus pada kajian penelitian yang kita kerjakan untuk disertasi. Beliau membantu saya dan mengirim saya untuk bekerja membantunya di kampus tersebut sambil menunggu beasiswa Graduate Research Scholarship di kampus itu buka.

Saya pun mendapakatkan pencerahan dan angin segar, tercium aroma surga akademik di depan mata. Saya pun solat istikhoroh, dan Allah mengatakan untuk pindah dari Istanbul. Saya pun mengabarkan pada orangtua saya, alhamdulillahnya, orangtua saya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Saya pun mengabarkan beberapa sahabat baik saya, yang seasrama di Istanbul bahwa saya akan pindah ke Brunei Darusssalam. Alhamdulillah juga, merekapun menyetujuinya walaupun mereka tampak tak rela saya hijrah dari Istanbul. Berto Usman (Doktora-Iktisat Fakultesi), Muhammad Mughni (Lisans-Ilahiyat Fakultesi), Fahmi Rangga Murti (Yuksek lisans – Iktisat Fakultesi), Muhammad Iqbal (Yuksek Lisans- Islam Hukuku) adalah saudara seperjuangan saya di Istanbul, hidup bersama. Ketiganya mengantar saya ke Attaturk Havalimani (Airport), saya sungguh sedih. Dua orang mahasiswi sahabat baik saya, Arleen Emerson (Lisans-Radyo) Azizah Fakhria Azzahra (Yuksek Lisans- Hadist). Pelukan sahabat sekaligus saudara saya membuat saya menangis di boarding (sebenarnya ini rahasiakan).

Kembali ke Indonesia untuk sementara waktu untuk mengurus visa di kedutaan Brunei. Beberapa minggu di Jakarta, saya berangkat lagi ke negeri seberang, Brunei Darussalam. Saya membantu Professor saya sebagai asisten di kampusnya. Disini, saya lebih merdeka. Melepaskan ‘syahwat’ riset saya. Saya mampu menulis dua buah jurnal, yang pertama Jurnal di Islamic Studies di George Town University, Amerika Serikat dan jurnal kedua di IAIN Tulungagung. Di Istanbul saya tidak menulis sama sekali, yang ada malah nongkrong, wara-wiri, menonton orang mancing di selat Bosporus, atau sekedar makan Simit (sejenis roti) sambil menyaksikan adegan romantis muda mudi yang berpacaran di taman Sultan Ahmet Camii. Saya lebih sering plesiran tidak jelas.

Beasiswa Doktorate by Research, University of Bologna Italia

Pada penutup akhir bulan Januari 2016, saya mendapatkan kejutan lain. Allah memberikan saya rezeki yaitu kuliah Doktorate by Research Filsafat di University of Bologna, Italia. Saya sedikit cerita sewaktu saya daftar online dengan kondisi; IELTS saya sudah kadarluarsa masa berlakunya, TOAFL (sertifikat bahasa Arab) juga sudah kadaluarsa, surat keterangan mahasiswa Tomer (kursus bahasa Turki), Ijazah dan transkip, dan juga Proposal Disertasi, semuanya saya unggah (dengan sertifikat bahasa yang serba expired). Jam 3 subuh, saya terbiasa bangun untuk tahajud dan melanjutkan mengetik. Saya menerima email dari Universitas Bologna, saya mendapatkan Letter of Acceptence Doktorate by reseach dan beasiswa China Scholarship Council – University of Bologna Joint Doctorate. Saya makin tertantang dengan negara Italia, disana saya bisa mendapatkan apa yang saya cari.

Saya memposting foto Letter of Acceptence dari Universitas Bologna di Facebook. Banyak juga yang mengomentari, menyukai, sekedar sapa di inbox Facebook karena saya bukan ‘aktivis’ Facebook yang sering update status. Bahkan ada teman saya juga yang Doktoral di Ankara Universitesi curhat ke saya, Syafri Hariansyah namanya. Berto Usman juga menemani begadang saya. Seharian saya belum tidur untuk mengirim email ke Universitas Bologna untuk mengurus dokumen dan visa pelajar di Italia, dan diakhiri menulis cerita ini ditemani cemilan dan dua gelas kopi gayo.

 

*Tulisan ini adalah bentuk refleksi saya, atas perburuan beasiswa doktoral dan menempuh kuliah doktoral di luar negeri tanpa maksud untuk menyombongkan diri (naudzubillahi min dzalik).

Saya yakin pada kekuatan Allah yang Maha Dahsyat dan Maha CINTA

 

Standar
analisis filsafat, Analisis Politik

The Reality of Representation and the Representation of Reality

IMG_20151003_133725

The classifying subjects who classify the properties and practices of others, or their own, are also classifiable objects which classify themselves (in the eyes of others) by appropriating practices and properties that are already classified (as vulgar or distinguished, high or low, heavy or light etc. — in other words, in the last analysis, as popular or bourgeois) according to their probable distribution between groups that are themselves classified. The most classifying and best classified of these properties are, of course, those which are overtly designated to function as signs of distinction or marks of infamy, stigmata, especially the names and titles expressing class membership whose intersection defines social identity at any given time — the name of a nation, a region, an ethnic group, a family name, the name of an occupation, an educational qualification, honorific titles and so on. Those who classify themselves or others, by appropriating or classifying practices or properties that are classified and classifying, cannot be unaware that, through distinctive objects or practices in which their ‘powers’ are expressed and which, being appropriated by and appropriate to classes, classify those who appropriate them, they classify themselves in the eyes of other classifying (but also classifiable) subjects, endowed with classificatory schemes analogous to those which enable them more or less adequately to anticipate their own classification.

Social subjects comprehend the social world which comprehends them. This means that they cannot be characterized simply in terms of material properties, starting with the body, which can be counted and measured like any other object in the physical world. In fact, each of these properties, be it the height or volume of the body or the extent of landed property, when perceived and appreciated in relation to other properties of the same class by agents equipped with socially constituted schemes of perception and appreciation, functions as a symbolic property. It is therefore necessary to move beyond the opposition between a ‘social physics’ — which uses statistics in objectivist fashion to establish distributions (in both the statistical and economic senses), quantified expressions of the differential appropriation of a finite quantity of social energy by a large number of competing individuals, identified through ‘objective indicators’ — and a ‘social semiology’ which seeks to decipher meanings and bring to light the cognitive operations whereby agents produce and decipher them. We have to refuse the dichotomy between, on the one hand, the aim of arriving at an objective ‘reality’, ‘independent of individual consciousnesses and wills’, by breaking with common representations of the social world (Durkheim’s ‘pre-notions’), and of uncovering ‘laws’ — that is, significant (in the sense of non-random) relationships between distributions — and, on the other hand, the aim of grasping, not ‘reality’, but agents’ representations of it, which are the whole ‘reality’ of a social world conceived ‘as will and representation’.

In short, social science does not have to choose between that form of social physics, represented by Durkheim — who agrees with social semiology in acknowledging that one can only know ‘reality’ by applying logical instruments of classification — and the idealist semiology which, undertaking to construct ‘an account of accounts’, as Harold Garfinkel puts it, can do no more than record the recordings of a social world which is ultimately no more than the product of mental, i.e., linguistic, structures. What we have to do is to bring into the science of scarcity, and of competition for scarce goods, the practical knowledge which the agents obtain for themselves by producing — on the basis of their experience of the distributions, itself dependent on their position in the distributions — divisions and classifications which are no less objective than those of the balance-sheets of social physics. In other words, we have to move beyond the opposition between objectivist theories which identify the social classes (but also the sex or age classes) with discrete groups, simple countable populations separated by boundaries objectively drawn in reality, and subjectivist (or marginalist) theories which reduce the ‘social order’ to a sort of collective classification obtained by aggregating the individual classifications or, more precisely, the individual strategies, classified and classifying, through which agents class themselves and others.

One only has to bear in mind that goods are converted into distinctive signs, which may be signs of distinction but also of vulgarity, as soon as they are perceived relationally, to see that the representation which individuals and groups inevitably project through their practices and properties is an integral part of social reality. A class is defined as much by its being-perceived as by its being, by its consumption — which need not be conspicuous in order to be symbolic — as much as by its position in the relations of production (even if it is true that the latter governs the former). The Berkeleian — i.e., petit-bourgeois — vision which reduces social being to perceived being, to seeming, and which, forgetting that there is no need to give theatrical performances (representations) in order to be the object of mental representations, reduces the social world to the sum of the (mental) representations which the various groups have of the theatrical performances put on by the other groups, has the virtue of insisting on the relative autonomy of the logic of symbolic representations with respect to the material determinants of socio-economic condition. The individual or collective classification struggles aimed at transforming the categories of perception and appreciation of the social world and, through this, the social world itself, are indeed a forgotten dimension of the class struggle. But one only has to realize that the classificatory schemes which underlie agents’ practical relationship to their condition and the representation they have of it are themselves the product of that condition, in order to see the limits of this autonomy. Position in the classification struggle depends on position in the class structure; and social subjects — including intellectuals, who are not those best placed to grasp that which defines the limits of their thought of the social world , that is, the illusion of the absence of limits — are perhaps never less likely to transcend ‘the limits of their minds’ than in the representation they have and give of their position, which defines those limits.

IMG_20151003_133725

 

Standar
Tak Berkategori

Istanbul; yang Tersingkap (I)

Sahabat, anda pasti pernah mendengar kata Istanbul? Ya sebuah kata yang sangat populer di telinga masyIMG_20150916_164230arakat dunia. Sebuah kota yang pernah menjadi pusat peradaban dunia. Kota yang penuh nilai kearifan bagi yang pernah menziarahi, atau bermukim di sana.

Jikalau saudara pernah membaca sebuah novel yang berjudul “Istanbul” karya Orhan Pamuk atau Istanbul: The City of Empire theRobert Freely,apa yang terbesit dalam alam pikir anda? “Wah, Istanbul itu indah ya”…. Awalnya, sayapun merasakan keindahan itu walau hanya sebuah teks dari para novelis, akhirnya saya mencoba keberuntungan untuk kuliah di sana.

Saya menjadi mahasiswa doktoral di salah satu universitas negeri di Turki, tepatnya di kota Istanbul. Saya mendapatkan kesempatan untuk kuliah doktoral dengan beasiswa pemerintah Turki. Sebagai mahasiswa, saya sangat mempunyai kesan yang mendalam tentang Turki, dan alam Turki yang sangat eksotis. Bangunan tua yang bersejarah, Konstantinopolis, Hagia Sophia, Masjid Sultan Ahmet, selat Bosphorus, Uskudar, Karakoy, Eminonu, Kadikoy. Sudah saya lalap habis semua situs bersejarah tersebut.

IMG_20150921_065614_wmIstanbul memang kota romantis. Saya berani mengatakan seperti itu karena saya melihat sendiri, tua-muda semuanya berjalan berpasangan sambil menggandeng tangan. Bahkan pada hari libur atau hari raya keagamaan (bayram) masyarakat sana pergi ke suatu tempat untuk piknik di tepi pantai atau hanya bersenda gurau di taman sambil membaca buku.

Standar
analisis filsafat

Paradoks Antara Sains dan Agama

Foto 0780

Di Indonesia, pengajaran kepada siswa kadang dibingungkan oleh dua spectrum besar pengetahuan, yakni berupa sekolah formal yang lebih banyak mengajarkan sains, dan sekolah agama (madrasah) yang lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama. Tentang penciptaan misalnya: saat pagi anak dihadapkan pada pelajaran untuk percaya pada evolusionisme, namun ketika sore hari tiba di madrasah, ia mesti mengubur dalam-dalam pelajaran pagi tadi, karena agama mengajarkan kreasionisme.

Tentu hal tersebut berakibat pada kekacauan berpikir jika, secara epistemologis, tidak diterangkan dengan baik.

Idealnya, penjelasan secara memadai, bagaimanapun, mesti tetap dilakukan. Tetapi hal itu hingga saat ini belum bisa dilakukan, lantaran di antara masing-masing “pegiat” pengetahuan tersebut jarang melakukan proses mediasi pengetahuan. Sehingga, dampak terburuknya menghinggap pada obyek pendidikan, yakni siswa.

Proses mediasi yang saya maksud ialah: hendaknya seorang pengajar, di wilayah manapun, memberi arahan bahwa pengetahuan yang sedang digeluti tersebut, walau bagaimanapun, masih bersifat hipotesis. Demikian pula dalam ilmu-ilmu agama. Hal ini penting untuk menjamin bahwa di antara dua wilayah tersebut tidak terjadi semangat “–isme” pengetahuan, yang kemudian menjadikannya menutup diri dari siraman model pengetahuan yang lain.

-isme pengetahuan—saintisme, religisme, filsafatisme, dan isme-isme yang lain—dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan. Pengetahuan apabila berada dalam derajat –isme, berarti ia tak lagi terbuka, ia sudah absolute, mengabsolutkan dirinya sendiri. Pertanyaan sederhananya, bagaimana mungkin suatu pengetahuan dapat berkembang dengan baik jika ia tidak mau membuka diri dari referensi pengetahuan yang lain?

Karena upaya pengabsolutan pengetahuan tidak lagi sesuai, maka jika kembali ke perbicangan awal, mengabsolutkan pengetahuan formal saja, atau pengetahuan non-formal saja tentu juga tidak benar—baik itu berupa produknya (ijazah, gelar dll), maupun materinya (evolusionisme, kreasionisme, dll). Yang mesti dilakukan adalah mendamaikan keduanya.

Lantas, pertanyaannya, di level mana rekonsiliasi itu diupayakan?

Jawaban atas persoalan ini masih dilema. Tetapi saya berpendapat, persandingan antara sains dan agama hanya mungkin dilakukan di wilayah praktis. Selagi ia berada di wilayah metodologis, tentu itu tidak bisa dilakukan. Pasalnya, sains dan agama, masing-masing memiliki karakter penyelidikan yang khas. Secara metodologis, tak bisa saling melengkapi.

Akhirnya, untuk persolan peniadaan dikotomi antara sains dan agama, maka secara policy, pemerintah hendaknya lebih peka terhadap gejala-gejala hilangnya lilin-lilin religiusitas akibat terlalu terdesak oleh lilin-lilin produk sains, yakni diantaranya, bernama teknologi.
Peka disini, bukan kemudian mencampuri urusan religi individu, namun lebih pada menegaskan garis demarkasi, sekali lagi secara praktis, antara sains dan agama, supaya kebingungan yang dialami oleh siswa tadi tidak terjadi lagi. Berupa kebijakan yang seperti apa dan bagaimana? Dari sini, saya belum menemukan jawabannya.

 

Standar
Islamic Article

PELAJARAN DARI MAULANA JALALUDDIN AR- RUMI

IMG-20140601-01420Perhatianku yang cukup besar pada setiap pemikiran sufisme membuka suatu hal yang amat besar bersinggungan dengan peradaban. Khususnya aku memberikan perhatian lebih pada sufistiknya Jalaluddin Ar-Rumi. Rumi menolongku dalam memahami peta konflik antara alam materi dan alam non materi.Rumi hidup di masa yang sangat sulit. Masa yang sarat akan banyaknya perselisihan, dan pertikaian antar manusia, bahkan banyak terjadi pertumpahan darah. Tentu hal ini terjadi karena situasi ekonomi, sosial, dan politik yang sangat buruk. Pada masa itu juga, terjadi penyerbuan pasukan Hulagu (pasukan yang dipimpin oleh Jenghis Khan dari kerajaan Mongol). Penyerbuan pasukan Hulagu dan Jenghis Khan menghancurkan pusat penyebaran agama Islam di dataran Romawi Timur, termasuk Konya, tempat kelahiran Rumi. Memang semua tentara di belahan dunia segan terhadap pasukan Hulagu yang memang berani mati, tanpa ampun kepada musuh. Namun, Rumi dan umat muslim di tanah Romawi Timur percaya akan kekuatan Allah yang lebih besar daripada tentara Hulagu.

Perang, kezaliman, perebutan kekuasaan adalah hal yang biasa dalam faktor keduniawian. Bagi Rumi, kedamaian dalam rohani adalah sebuah nilai keutamaan yang dalam menghadapi problematika kehidupan. Karya Rumi yang berjudul “Fîhi Mâ Fî” dan “Matsnawi” mengantarkan kita pada kesusasteraan ontologis. Dua karya tersebut mencerita keadaan yang dirasakan Rumi, ya kesakitan dalam sisi lahiriah. Sejarah mengajarkan pada kita suatu kesederhanan, yaitu kita dapat menyelesaikan segala kesulitan yang dihadapi dengan cara berpegang teguh pada prinsip rohani (spiritual). Sayangnya sebagian besar manusia saat ini berpura-pura kenyataan yang sederhana itu.

Hingga kini aku berkeyakinan bahwa apa yang dalam pikiran Rumi seiring dengan zaman yang mana kita hidup. Misalnya zaman sekarang ini ditantang oleh modernisme, globalisasi dan segala bentuk kenyamanan yang membentuk manusia menjadi profan. Aku memperhatikan banyak umat beragama yang bekerja diperkantoran. Berpenampilan eksekutif, namun ia masih menyempatkan diri untuk ‘memegang tasbih untuk bertasbih’ dan membaca kitab suci Al-Quran di Masjid pada saat sibuknya urusan duniawi. Urban sufisme, memang sangat jarang tampak di tengan kota megapolitan di Jakarta.

Pada tahun 2012 aku berangkat ke Washington DC untuk belajar dalam kelas internasional riset di George Washington University untuk mengkaji Islamic di Amerika. Muslim di Amerika Serikat lebih mendapatkan tantangan besar daripada Muslim di Indonesia. Semenjak kasus terorisme yang terjadi di gedung WTC, yang isunya dilakukan oleh oknum dari organisasi Islam radikal (al-Qaeda). Wajah Islam kian memburuk. Akupun tak surut dari hantaman rasial karena namaku berasal dari nama Islam (Ahmad Sidqi). Rumi mengajarkan aku banyak kesabaran, dan mengendalikan ego. Terutama ego untuk memberontak dan marah.

Kesusasteraan Rumi Tiada Berhenti

Pertama kita membedah Rumi melalui karya “Fîhi Mâ Fî”. Karya “Fîhi Mâ Fî” adalah karya yang sangat filosofis, mengandung kajian ontologi. Tentu ruang lingkup karya ini menggunakan pisau analisa Islam sebagai basis teoritis. Singkatnya, Rumi sering menggunakan kata ’Dzat’ sebagai ‘As-Sholat ul-Wujud’ atau wujud yang mutlak, berdiri dengan sendirinya. Ia menegaskan bahwa Dzat adalah realitas utama yang dapat menyebar (prinsip emanasi) ke dalam bentuk manifestasi-Nya. Kedua, membedah Rumi dalam karya “Matsnawi” yang di dalamnya terdapat implementasi dari kitab “Fîhi Mâ Fî”, yaitu bentuk kecintaan terhadap Dzat yang menciptakan.

Dalam ekspresi sastranya ia tunjukkan dalam bentuk tarian Darwish. Tarian Darwish diiringi lantunan musik dengan syair kecintaan kepada Ilahi dan Nabi Muhammad. Dan penampilan (kostum) dan topi (torbush) yang memiliki simbol-simbol spiritual, kelahiran, kematian, dan keabadian bersama-Nya. Dua karya rumi tersebut menghasilkan kesimpulan terhadap karakter Rumi yang sebenarnya, bahwa Rumi adalah orang yang amat optimis bukan orang yang pesimis. Sebagian orang menganggap bahwa sufi selalu miskin, pesimis. Walaupun ditengah guncangan probematika kehidupan yang amat besar.

Bila sebagian besar sufi membatasi karya dan sastra mereka untuk menyingkapkan berbagai keburukan dan kekelaman dunia, Rumi justru mengambil sukap selangkah lebih maju ke depan untuk mencari jalan keluarnya. Meskipun ia juga mencam dan menyingkapkan berbagai keburukan dunia. Inilah pelajaran besar yang aku timba dari Rumi

 

Standar
Tak Berkategori

MARBOT ; SUFISME AHL MASJID DAN SERBA-SERBINYA

crop idul fitriSepulang pengembaraan panjang di tanah Yogyakarta dan Amerika Serikat, aku kembali ke kampung halaman. Jakarta, kota megapolitan adalah kampung halamanku. Kota yang digempur oleh segala bentuk globalisasi dan modernitas. Tulisan ini kubuat atas dasar fenomena yang kulihat dan baru tersadarkan betapa pentingnya merbot bagi umat Islam.

Merbot atau takmir masjid adalah seorang yang menjaga masjid, merawat dan memelihara masjid, baik dari bangunan dan inventaris masjid, maupun kebersihan masjid. Kalau kita perhatikan dengan seksama, mungkin kita akan menyepelekan tugas seorang merbot masjid. Aku baru menyadari betapa pentingnya seorang merbot di masjid.
Di dalam sejarah Islam di zaman Nabi Muhammad (SAW) tidak termaktub secara verbal bahwa adanya seorang merbot atau tugas seorang merbot baik itu masjid Nabawi (yang ketika itu di rumah Nabi Muhammad), maupun di Masjid Haram. Namun ada hal yang tersirat dari kisah merbot seorang muslimah yang suka menyapu pelataran masjid Nabawi. Muslimah tersebut dahulunya adalah seorang hamba sahaya berkulit hitam yang dimerdekakan oleh sahabat Usman bin Affan (RA). Beliau bernama Ummu Mihjan.

Ummu Mihjan menjadi seorang merbot atas dasar pengabdiannya kepada Allah SWT dan itu bukanlah merupakan tugas pokok seorang muslim atau muslimah. Namun itu merupakan kesadaran yang terbangun atas dasar cinta pada Islam dan nilai-nilainya. Ada kisah lain yang hidup Di zaman Rasulullah yang mengabdikan dirinya untuk Allah SWT di masjid Nabawi. Dulu ada kaum fakir miskin difabel, menggunakan pakaian kain wol yang usang. Mereka adalah Kaum Suffah. Suffah berasal dari kata ‘shuf’berarti wol dan juga bisa bermakna lembut. Ketika Rasul, para sahabat, dan mujahidin akan berperang Khandak (kota Madinah akan diserang oleh kafir Quraisy). Kala itu, kaum suffah ingin ikut jihad berperang. Namun Rasulullah melarangnya berjihad . Rasul meminta untuk tetap di masjid Nabawi untuk berjaga. Tentu bila kita ambil hikmahnya, Rasulullah melarang dengan alasan yang pokok, bahwasannya masjid adalah benteng islam sekaligus benteng akidah. Bila benteng islam itu rusak, kemungkinan akan rusak juga benteng akidah.
Berdasarkan dua kisah itu tersebut, kita patut mengambil pelajaran betapa pentingnya masjid dan para marbotnya.Tentu pula dengan adanya marbot, umat muslim dapat terfasilitasi dalam rumah ibadah.

Zawiyah, Marbot dan Sufisme

Bila kita memperhatikan bagian masjid, ada beberapa masjid yang terdapat ruangan khusus yang biasanya digunakan untuk kesekertariatan pengurus masjid. Ruangan ini juga digunakan oleh para merbot dan juga para sufi untuk berzikir, tadarus al-Qur’an, berkhalwat dan kegiatan ibadah sunnah lainnya.

Ruangan masjid ini disebut dengan zawiyah. Adanya zawiyah dalam sejarah Islam bermula dari jajaran tanah Afrika Utara, yang tersebar dalam daerah Maghrib/ Maghrob. (Mesir, Sudan, Libya, Maroko, Al-Jazair dan Tunisia) pada abad 13. Para ulama membangun masjid dengan tambahan ruangan zawiyah kepada para marbot dan juga para sufi yang menghidupkan agama Islam. Menurut Mohammed Arkoun dalam bukunya Le Islam Approach Critique tahun 1992, para marbot dan sufisme mengajarkan ajaran Islam melalui jalan sufi di zawiyah. Pandangan ini bagi Arkoun adalah dengan melepaskan diri dari urusan politik (kekhlifahan). Para guru sufi (mursyid) mengajarkan laku mistik kepadda murid-muridnya di zawiyah tersebut. Beberapa mursyid yang berhasil mengajarkan jalan sufi kepada murid-muridnya diantaranya, Syekh Rifa’i (Thariqah Rifa’iyah), Syekh Ahmad Tijani (Thariqah Tijaniyah), dan juga Syekh Abul Hasan Sadzaliy (Thariqah Sadzaliyah).

Berkaca pada ajaran-ajaran sufisme di masjid tidak dapat melepaskan ajaran Islam, Iman, dan Ihsan. Mursyid mengajarkan hal ini dengan metode zikir, dan menghidupkan amalan sunnah. Tujuannya adalah mengggapai cinta Allah. Dengan menggapai cinta Allah, maka setiap insan akan menebar cinta kepada manusia dengan akhlak yang mulia, mengikuti akhlak junjungan nabi Muhammad SAW.

Maka tidak salah bila kita perlu mengapresiasi dan mencontoh para marbot yang menghidupkan masjid, melayani ibadah umat muslim di masjid. Sebuah pengabdian yang istiqomah dari pada marbot.

Standar