analisis filsafat, Analisis Politik

Refleksi Buku: Ilmu dan Kapital; Sosiologi Pengetahuan Pierre Bourdieu Karya M. Najib Yuliantoro

wp_20160921_11_16_15_pro1Penulis buku yang bernama M. Najib Yuliantoro adalah mahasiswa Pra- Doktoral di Jurusan Filsafat dan Moral di Vreij Universiteit Brussels. Alumnus sarjana dan pascasarjana di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada ini sejak menjadi mahasiswa Filsafat UGM sudah menikmati filsafat ilmu. Karya yang berjudul Ilmu dan kapital; Sosiologi Pengetahuan Pierre Bourdieu, diterbitkan oleh Penerbit Kanisius pada tahun 2016 memberikan wacana kontemporer dengan analisis sosiologi ilmu.

Pierre Bourdieu, bagi penikmat filsafat bukanlah sosok yang asing. Pemikiran Bourdieu sudah banyak ditulis oleh pemikir luar negeri, dan dari dalam negeri ada Dr. Haryatmoko. Najib memberikan pandangan baru terutama yang saya tangkap adalah dari etika kemanusiaan. Nah, pada fokus pada etika kemanusiaan atau etika emansipasi, penulis memberikan argumentasi yang sangat relevan pada keilmuan, terutama pada scientific research. Bagi Bourdieu dan Najib, Ilmu pengetahuan tidak independen dan penuh kepentingan. Alasan utama adalah bagi peneliti membutuhkan modal untuk riset. Dan modal riset mayoritas diberikan oleh sponsor dari pemodal. Tentu ini ini menjadi kepentingan pemodal yang utama (misalnya untuk pengembangan produksi). Secara kasar, pemodal memberikan “titipan riset” kepada peneliti demi laba. Yang perlu ditekankan adalah apakah semua riset “titipan” ini memberikan ruang kemanusiaan?.

Ada tiga pokok yang dijadikan dominasi; Ilmiah, Politik dan Ekonomi. Pada posisi Ilmiah, adalah peneliti dan akademisi yang menjadi motor ilmu pengetahuan, Politik pada posisi pemerintah sebagai supra struktur dan kuasa (dalam bahasa Marxian), dan Ekonomi sebagai roda negara.

Apa yang diinginkan Najib adalah prinsip emansipatoris pada pada dasar ilmu dan emansipatoris para ilmuan yaitu melepaskan faktor kepentingan borjuasi, yang sifatnya ekspoitasi, dengan alasan faktor yang mempengaruhi watak tersebut bukan hanya dari basis ontologi ilmu, akan tetapi juga relasi yang kuat dengan subjek-subjek ilmuan yang miskin terhadap kesadaran emansipatoris.

 

Salam Hangat

Standar
analisis filsafat

Paradoks Antara Sains dan Agama

Foto 0780

Di Indonesia, pengajaran kepada siswa kadang dibingungkan oleh dua spectrum besar pengetahuan, yakni berupa sekolah formal yang lebih banyak mengajarkan sains, dan sekolah agama (madrasah) yang lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama. Tentang penciptaan misalnya: saat pagi anak dihadapkan pada pelajaran untuk percaya pada evolusionisme, namun ketika sore hari tiba di madrasah, ia mesti mengubur dalam-dalam pelajaran pagi tadi, karena agama mengajarkan kreasionisme.

Tentu hal tersebut berakibat pada kekacauan berpikir jika, secara epistemologis, tidak diterangkan dengan baik.

Idealnya, penjelasan secara memadai, bagaimanapun, mesti tetap dilakukan. Tetapi hal itu hingga saat ini belum bisa dilakukan, lantaran di antara masing-masing “pegiat” pengetahuan tersebut jarang melakukan proses mediasi pengetahuan. Sehingga, dampak terburuknya menghinggap pada obyek pendidikan, yakni siswa.

Proses mediasi yang saya maksud ialah: hendaknya seorang pengajar, di wilayah manapun, memberi arahan bahwa pengetahuan yang sedang digeluti tersebut, walau bagaimanapun, masih bersifat hipotesis. Demikian pula dalam ilmu-ilmu agama. Hal ini penting untuk menjamin bahwa di antara dua wilayah tersebut tidak terjadi semangat “–isme” pengetahuan, yang kemudian menjadikannya menutup diri dari siraman model pengetahuan yang lain.

-isme pengetahuan—saintisme, religisme, filsafatisme, dan isme-isme yang lain—dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan. Pengetahuan apabila berada dalam derajat –isme, berarti ia tak lagi terbuka, ia sudah absolute, mengabsolutkan dirinya sendiri. Pertanyaan sederhananya, bagaimana mungkin suatu pengetahuan dapat berkembang dengan baik jika ia tidak mau membuka diri dari referensi pengetahuan yang lain?

Karena upaya pengabsolutan pengetahuan tidak lagi sesuai, maka jika kembali ke perbicangan awal, mengabsolutkan pengetahuan formal saja, atau pengetahuan non-formal saja tentu juga tidak benar—baik itu berupa produknya (ijazah, gelar dll), maupun materinya (evolusionisme, kreasionisme, dll). Yang mesti dilakukan adalah mendamaikan keduanya.

Lantas, pertanyaannya, di level mana rekonsiliasi itu diupayakan?

Jawaban atas persoalan ini masih dilema. Tetapi saya berpendapat, persandingan antara sains dan agama hanya mungkin dilakukan di wilayah praktis. Selagi ia berada di wilayah metodologis, tentu itu tidak bisa dilakukan. Pasalnya, sains dan agama, masing-masing memiliki karakter penyelidikan yang khas. Secara metodologis, tak bisa saling melengkapi.

Akhirnya, untuk persolan peniadaan dikotomi antara sains dan agama, maka secara policy, pemerintah hendaknya lebih peka terhadap gejala-gejala hilangnya lilin-lilin religiusitas akibat terlalu terdesak oleh lilin-lilin produk sains, yakni diantaranya, bernama teknologi.
Peka disini, bukan kemudian mencampuri urusan religi individu, namun lebih pada menegaskan garis demarkasi, sekali lagi secara praktis, antara sains dan agama, supaya kebingungan yang dialami oleh siswa tadi tidak terjadi lagi. Berupa kebijakan yang seperti apa dan bagaimana? Dari sini, saya belum menemukan jawabannya.

 

Standar
Islamic Article

PELAJARAN DARI MAULANA JALALUDDIN AR- RUMI

IMG-20140601-01420Perhatianku yang cukup besar pada setiap pemikiran sufisme membuka suatu hal yang amat besar bersinggungan dengan peradaban. Khususnya aku memberikan perhatian lebih pada sufistiknya Jalaluddin Ar-Rumi. Rumi menolongku dalam memahami peta konflik antara alam materi dan alam non materi.Rumi hidup di masa yang sangat sulit. Masa yang sarat akan banyaknya perselisihan, dan pertikaian antar manusia, bahkan banyak terjadi pertumpahan darah. Tentu hal ini terjadi karena situasi ekonomi, sosial, dan politik yang sangat buruk. Pada masa itu juga, terjadi penyerbuan pasukan Hulagu (pasukan yang dipimpin oleh Jenghis Khan dari kerajaan Mongol). Penyerbuan pasukan Hulagu dan Jenghis Khan menghancurkan pusat penyebaran agama Islam di dataran Romawi Timur, termasuk Konya, tempat kelahiran Rumi. Memang semua tentara di belahan dunia segan terhadap pasukan Hulagu yang memang berani mati, tanpa ampun kepada musuh. Namun, Rumi dan umat muslim di tanah Romawi Timur percaya akan kekuatan Allah yang lebih besar daripada tentara Hulagu.

Perang, kezaliman, perebutan kekuasaan adalah hal yang biasa dalam faktor keduniawian. Bagi Rumi, kedamaian dalam rohani adalah sebuah nilai keutamaan yang dalam menghadapi problematika kehidupan. Karya Rumi yang berjudul “Fîhi Mâ Fî” dan “Matsnawi” mengantarkan kita pada kesusasteraan ontologis. Dua karya tersebut mencerita keadaan yang dirasakan Rumi, ya kesakitan dalam sisi lahiriah. Sejarah mengajarkan pada kita suatu kesederhanan, yaitu kita dapat menyelesaikan segala kesulitan yang dihadapi dengan cara berpegang teguh pada prinsip rohani (spiritual). Sayangnya sebagian besar manusia saat ini berpura-pura kenyataan yang sederhana itu.

Hingga kini aku berkeyakinan bahwa apa yang dalam pikiran Rumi seiring dengan zaman yang mana kita hidup. Misalnya zaman sekarang ini ditantang oleh modernisme, globalisasi dan segala bentuk kenyamanan yang membentuk manusia menjadi profan. Aku memperhatikan banyak umat beragama yang bekerja diperkantoran. Berpenampilan eksekutif, namun ia masih menyempatkan diri untuk ‘memegang tasbih untuk bertasbih’ dan membaca kitab suci Al-Quran di Masjid pada saat sibuknya urusan duniawi. Urban sufisme, memang sangat jarang tampak di tengan kota megapolitan di Jakarta.

Pada tahun 2012 aku berangkat ke Washington DC untuk belajar dalam kelas internasional riset di George Washington University untuk mengkaji Islamic di Amerika. Muslim di Amerika Serikat lebih mendapatkan tantangan besar daripada Muslim di Indonesia. Semenjak kasus terorisme yang terjadi di gedung WTC, yang isunya dilakukan oleh oknum dari organisasi Islam radikal (al-Qaeda). Wajah Islam kian memburuk. Akupun tak surut dari hantaman rasial karena namaku berasal dari nama Islam (Ahmad Sidqi). Rumi mengajarkan aku banyak kesabaran, dan mengendalikan ego. Terutama ego untuk memberontak dan marah.

Kesusasteraan Rumi Tiada Berhenti

Pertama kita membedah Rumi melalui karya “Fîhi Mâ Fî”. Karya “Fîhi Mâ Fî” adalah karya yang sangat filosofis, mengandung kajian ontologi. Tentu ruang lingkup karya ini menggunakan pisau analisa Islam sebagai basis teoritis. Singkatnya, Rumi sering menggunakan kata ’Dzat’ sebagai ‘As-Sholat ul-Wujud’ atau wujud yang mutlak, berdiri dengan sendirinya. Ia menegaskan bahwa Dzat adalah realitas utama yang dapat menyebar (prinsip emanasi) ke dalam bentuk manifestasi-Nya. Kedua, membedah Rumi dalam karya “Matsnawi” yang di dalamnya terdapat implementasi dari kitab “Fîhi Mâ Fî”, yaitu bentuk kecintaan terhadap Dzat yang menciptakan.

Dalam ekspresi sastranya ia tunjukkan dalam bentuk tarian Darwish. Tarian Darwish diiringi lantunan musik dengan syair kecintaan kepada Ilahi dan Nabi Muhammad. Dan penampilan (kostum) dan topi (torbush) yang memiliki simbol-simbol spiritual, kelahiran, kematian, dan keabadian bersama-Nya. Dua karya rumi tersebut menghasilkan kesimpulan terhadap karakter Rumi yang sebenarnya, bahwa Rumi adalah orang yang amat optimis bukan orang yang pesimis. Sebagian orang menganggap bahwa sufi selalu miskin, pesimis. Walaupun ditengah guncangan probematika kehidupan yang amat besar.

Bila sebagian besar sufi membatasi karya dan sastra mereka untuk menyingkapkan berbagai keburukan dan kekelaman dunia, Rumi justru mengambil sukap selangkah lebih maju ke depan untuk mencari jalan keluarnya. Meskipun ia juga mencam dan menyingkapkan berbagai keburukan dunia. Inilah pelajaran besar yang aku timba dari Rumi

 

Standar
Tak Berkategori

MARBOT ; SUFISME AHL MASJID DAN SERBA-SERBINYA

crop idul fitriSepulang pengembaraan panjang di tanah Yogyakarta dan Amerika Serikat, aku kembali ke kampung halaman. Jakarta, kota megapolitan adalah kampung halamanku. Kota yang digempur oleh segala bentuk globalisasi dan modernitas. Tulisan ini kubuat atas dasar fenomena yang kulihat dan baru tersadarkan betapa pentingnya merbot bagi umat Islam.

Merbot atau takmir masjid adalah seorang yang menjaga masjid, merawat dan memelihara masjid, baik dari bangunan dan inventaris masjid, maupun kebersihan masjid. Kalau kita perhatikan dengan seksama, mungkin kita akan menyepelekan tugas seorang merbot masjid. Aku baru menyadari betapa pentingnya seorang merbot di masjid.
Di dalam sejarah Islam di zaman Nabi Muhammad (SAW) tidak termaktub secara verbal bahwa adanya seorang merbot atau tugas seorang merbot baik itu masjid Nabawi (yang ketika itu di rumah Nabi Muhammad), maupun di Masjid Haram. Namun ada hal yang tersirat dari kisah merbot seorang muslimah yang suka menyapu pelataran masjid Nabawi. Muslimah tersebut dahulunya adalah seorang hamba sahaya berkulit hitam yang dimerdekakan oleh sahabat Usman bin Affan (RA). Beliau bernama Ummu Mihjan.

Ummu Mihjan menjadi seorang merbot atas dasar pengabdiannya kepada Allah SWT dan itu bukanlah merupakan tugas pokok seorang muslim atau muslimah. Namun itu merupakan kesadaran yang terbangun atas dasar cinta pada Islam dan nilai-nilainya. Ada kisah lain yang hidup Di zaman Rasulullah yang mengabdikan dirinya untuk Allah SWT di masjid Nabawi. Dulu ada kaum fakir miskin difabel, menggunakan pakaian kain wol yang usang. Mereka adalah Kaum Suffah. Suffah berasal dari kata ‘shuf’berarti wol dan juga bisa bermakna lembut. Ketika Rasul, para sahabat, dan mujahidin akan berperang Khandak (kota Madinah akan diserang oleh kafir Quraisy). Kala itu, kaum suffah ingin ikut jihad berperang. Namun Rasulullah melarangnya berjihad . Rasul meminta untuk tetap di masjid Nabawi untuk berjaga. Tentu bila kita ambil hikmahnya, Rasulullah melarang dengan alasan yang pokok, bahwasannya masjid adalah benteng islam sekaligus benteng akidah. Bila benteng islam itu rusak, kemungkinan akan rusak juga benteng akidah.
Berdasarkan dua kisah itu tersebut, kita patut mengambil pelajaran betapa pentingnya masjid dan para marbotnya.Tentu pula dengan adanya marbot, umat muslim dapat terfasilitasi dalam rumah ibadah.

Zawiyah, Marbot dan Sufisme

Bila kita memperhatikan bagian masjid, ada beberapa masjid yang terdapat ruangan khusus yang biasanya digunakan untuk kesekertariatan pengurus masjid. Ruangan ini juga digunakan oleh para merbot dan juga para sufi untuk berzikir, tadarus al-Qur’an, berkhalwat dan kegiatan ibadah sunnah lainnya.

Ruangan masjid ini disebut dengan zawiyah. Adanya zawiyah dalam sejarah Islam bermula dari jajaran tanah Afrika Utara, yang tersebar dalam daerah Maghrib/ Maghrob. (Mesir, Sudan, Libya, Maroko, Al-Jazair dan Tunisia) pada abad 13. Para ulama membangun masjid dengan tambahan ruangan zawiyah kepada para marbot dan juga para sufi yang menghidupkan agama Islam. Menurut Mohammed Arkoun dalam bukunya Le Islam Approach Critique tahun 1992, para marbot dan sufisme mengajarkan ajaran Islam melalui jalan sufi di zawiyah. Pandangan ini bagi Arkoun adalah dengan melepaskan diri dari urusan politik (kekhlifahan). Para guru sufi (mursyid) mengajarkan laku mistik kepadda murid-muridnya di zawiyah tersebut. Beberapa mursyid yang berhasil mengajarkan jalan sufi kepada murid-muridnya diantaranya, Syekh Rifa’i (Thariqah Rifa’iyah), Syekh Ahmad Tijani (Thariqah Tijaniyah), dan juga Syekh Abul Hasan Sadzaliy (Thariqah Sadzaliyah).

Berkaca pada ajaran-ajaran sufisme di masjid tidak dapat melepaskan ajaran Islam, Iman, dan Ihsan. Mursyid mengajarkan hal ini dengan metode zikir, dan menghidupkan amalan sunnah. Tujuannya adalah mengggapai cinta Allah. Dengan menggapai cinta Allah, maka setiap insan akan menebar cinta kepada manusia dengan akhlak yang mulia, mengikuti akhlak junjungan nabi Muhammad SAW.

Maka tidak salah bila kita perlu mengapresiasi dan mencontoh para marbot yang menghidupkan masjid, melayani ibadah umat muslim di masjid. Sebuah pengabdian yang istiqomah dari pada marbot.

Standar
Islamic Article

Kontroversi Sang Sufi Hulul: Mansur Al-Hallaj

Islamic_Mystic_and_Martyr_al_HallajNamanya Husein bin Mansur al-Hallaj, seorang sufi yang terkenal akan teori sufisme al-Hulul (kesatuan antara manusia dan Tuhan). Bangunan dasar sufisme berangkat dari tiga aspek epistemologi sufisme, diantaranya Wahdlat ul-Wujud (Kesatuan Wujud), Haqiqat ul-Muhammadiyah (Hakikat Nabi Muhammad), dan Wahdlat ul-Diniyyah (Kesatuan Agama). Konsep ini tidak diterima oleh para ulama, dan para ahl fuqoha. Bagi mereka Al-Hallaj telah keluar dari koridor keislaman dan melanggar batas-batas syariat. Perlu kita ketahui juga, aspek kehidupan lain juga ikut mempengaruhi, seperti aspek sosial politik kala itu.

Keadaan sosial di masa Al-Hallaj dipimpin oleh khalifah Al-Muqtadir yang memerintah di usia muda. Al-Hallaj ditahan dengan alasan dia telah zindiq, ia juga pernah mengatakan, “Ana Al-Haqq, Ana Al-Haqq, Ana Al-Haqq (Akulah Kebenaran, Akulah Kebenaran, Akulah Kebenaran)” di depan masyarakat umum. Tentu ini merupakan kegelisahan yang membuat sampai tingkat kesultanan. Perlu diketahui, bahwa Al-Haqq adalah bagian dari Asma’ ul-Husna (nama lain dari Tuhan). Asma’ul-Husna merupakan citra Tuhan, bukan Dzat Tuhan itu Sendiri. Tentu berbeda antara Asma Tuhan dan Dzat. Asma’ Tuhan dapat diberikan oleh Allah kepada manusia. Terminologi ini dalam tasawuf adalah yang dikatakan sebagai an-Nasuth.

Delapan tahun lamanya Al-Hallaj mendekam di dalam penjara , tibalah saatnya Al-Hallaj menjalani pengadilan yang dipimpin oleh qodi sekaligus wazir yang bernama Al-Hamid bin Abbas. Para sejarawan Islam menyimpulkan bahwa wazir ini bukanlah seorang yang kompeten dan ahli dalam bidang hukum, wazir Al-Hamid seakan mengikuti perintah para ulama, tanpa memberikan hak berbicara kepada Al-Hallaj, mengapa ia mengatakan “Ana Al-Haq”. Kaum sufi yang mendukung Al-Hallaj membela dengan tegas, bagi pendukung Al-Hallaj harus membuka dialog tentang ketauhidan, terutama dengan tema Asma’, Sifat, dan Dzat Allah sebelum jatuhnya keputusan pengadilan. Namun wazir menolaknya dengan mentah-mentah. Dan Al-Hallaj dijatuhi hukuman mati.

Kalau kita perhatikan dalam sejarah Bani Abbas di zaman pemerintahan Al-Muqtadir, terjadi korupsi yang besar-besaran oleh para wazir sehingga rakyat sengsara. Ulama yang seharusnya dapat menjernihkan manusia menuju akhirat ikut terlena oleh duniawi.
Pada hari eksekusi Al-Hallaj masyarakat beramai-ramai datang ke lapangan istana untuk menonton eksekusi mati. Al-Hallaj di bawa kelapangan dengan wajah ditutup, kaki dan tangan di rantai dengan besi. Menuju lapangan, Al-Hallaj diantar oleh dua sahabatnya yang sekaligus sufi juga, ialah Abu Bakar As-Syibli dan Abil Hasan Al-Washiti dan juga kepala tentara kerajaan (askar) yang bernama Muhammad bin Abdus-Shamad.

Tepat ditengah lapangan dan kerumunan masyarakat yang menonton. Wazir memberikan kesempatan permintaan terakhir untuk Al-Hallaj. Al-Hallaj hanya meminta 2 permintaan. Permintaan pertama adalah meminta dilepaskan tutup kepala dan semua borgol yang membelenggu kaki dan tanganya, “aku berjanji pada Dzat yang terdapat di dalam tubuhku, aku tidak akan kabur”. Permintaan kedua, aku hanya ingin Sholat di tengah lapangan ini. Panas teriknya di bumi Abbasiyah tak menggentarkan Al-Hallaj untuk solat dalam menghadapi kematian yang tinggal menunggu menit demi menit. Kedua permintaan ini dikabulkan oleh wazir Al-Hamid. Tutup kepala dan borgol dilepaskan, ia melihat dunia yang terakhir kalinya.

Al-Hallaj membisikkan sesuatu kepada sahabatnya, As-Sibly, “wahai saudaraku apakah engaku memiliki kain bersih untuk alas sujudku? As-Sibly membuka surban kepalanya, dan memberikan kain. “Saudaraku, surban ini tidak pernah lepas dari kepalaku untuk menyembah kepada Tuhan Semesta Alam, sebagai penghormatanku padamu, kuberikan ini untuk sujudmu”, kata As-Sibly. Al-Hallaj lalu melakukan solat zuhur dan solat taubat untuk yang terakhir kalinya. Saat solat taubat, al-Hallaj di rakaat pertamamembaca surah al-Fatihah dan ayat ” Walanabluwannaku bisya’i minal khaufi wal- ju’i “ artinya dan akan diberikan cobaan kepada kamu dari ketakutan dan kelaparan (QS Al-Baqarah 155) dengan sangat pelan, namun semua masyarakat yang menonton mendengar dengan keras, hingga sultan Al-Muqtadir mendengarnya dari istana dalam ruangan kamarnya. Rakaat kedua, Al-Hallaj membaca surat al-Fathihah dan ayat “Kullu Nafsin Dzaa-iqotul Maut” artinya: Setiap orang pasti akan menghadapi kematian (QS Ali Imran: 85). Sekali lagi suara syahdu shalat Al-Hallaj menggetarkan seantero istana.

Selepas shalat, Al-Hallaj berdoa dengan syi’ir keluar dari lisannya. Syair doanya begini;
كيف اشكو الى الطبيب لمابى…والذي قد اصابني من الطبيبي…ليس راحة ولا لى شفاء….من سقامى الآ بوصل حبيبي….
“Aku mencari tempat yang tenteram di atas bumi…..Tahulah aku, bukan di bumi yang tenteram….Kuiikuti saja apa mau-Ku, aku diperbudak-Nya….kalau kucukupkan yang ada, akupun merdeka dengan kerinduan Kekasihku! “
(Syair Al-Hallaj dalam Kitab Tawasin)

Detik pengeksekusian akan terjadi. Al-Hallaj, diangkat dari tempat sujudnya yang terakhir. Ia diseret bangun ke arah kiblat. Wazir memerintahkan untuk mecambuk al-Hallaj dengan lima puluh cambukan dengan dengan lima pencambuk, masing-masing pencambuk dengan 10 cambukan. Hukuman ini atas berdasarkan hukuman telah mengganggu ketenangan masyarakat kesultanan Abbasiyah Hukuman kedua adalah pemenggalan kepala.

Al-Hallaj menerima saja hukuman itu. Tiba-tiba Al-Hallaj melakukan takbiratul ihram, seperti sedang shalat (beberapa versi Al-Hallaj memang melakukan shalat lagi) dan pencambuk melakukan cambukannya sebanyak lima puluh kali cambukan. Darah keluar dari tubuh Al-Hallaj, dipunggung, dada, paha dan kaki. Begitu derasnya darah yang mengalir jatuh ke tanah. Gamis kumal yang dikenakan Al-Hallaj penuh dengan darah. Al-Hallaj seakan mati rasa. Kemudian Al-Hallaj melakukan ruku’, dan algojo dengan tangkas menebas batang leher Al-Hallaj dengan sekali tebasan. Badan Al-Hallaj tersungkur dan tergeletak ke kanan.

Kepala Al-Hallaj terpental beberapa meter, dan lagi, darah dari urat leher menyembur amat deras. Anehnya, darah yang seharusnya berbau amis, darah Al-Hallaj amat wangi. Darah yang menetes ke tanah tiba-tiba membentuk huruf Allah. Sontak, semua orang yang menyaksikan keheranan, takut, termasuk juga algojo. Saat mayat Al-Hallaj akan diangkat dan dikebumikan, ada peristiwa aneh lain. Tubuh Al-Hallaj yang lebih diangkat, dan kemudian kepala al-Hallaj. Anehnya, kepala Al-Hallaj yang akan diangkat tiba-tiba dari kepala Al-Hallaj ada suara “Assalamualaikum ya Ayyuhannas” sebanyak tiga kali. Sontak semuanya terdiam, ada yang takut, dan ada juga yang menangis.

Abil Hasan Al-Washiti yang menyaksikan kepergian sahabatnya, menangis dan meneriakkan “Subhanallah, Allahu Akbar…..Allahu Akbar…Allahu Akbar !”

Cerita Al- Hallaj ini diringkas dari buku yang berjudul “Kitab Akhbar Al-Hallaj”, karya Ali bin Anjabi As-Saa’i Al Baghdadi, cetakan Haquq at-Tab’ah Al-Mahfudzah, Suriyah. Dan Kitab “At-Thawasin”, Karya Mansur Al-Hallaj

Standar
Islamic Article

Bishri bin Harist al-Hafy Sang Wali Abdal

Syaikh+Abdul+Halil+MahmudBishri bin Harits al-Hafy. Sosok wali abdal yang populer dalam tasawuf. Ia bergelar al-Hafy, yang artinya (bertelanjang kaki ). Bishri dulunya adalah mantan preman, pemabuk, penjudi, juga pernah membunuh (kalau dikatakan sebenar-benarnya begundal) di Merv, kota kelahirannya (sekarang daerah Soviet/Rusia). Bagaimana ia bisa berubah drastis? Suatu hari Bishri ingin pergi ke sebuah pasar untuk melakukan pekerjaan haramnya. Di perjalanan, Bishri menginjak sebuah secarik pelepah lontar, kakinya tidak bisa diangkat untuk melangkah ke depan, sungguh terasa berat kaki kanannya. Akhirnya Bishri mengecek apa sebenarnya pelepah lontar itu. Mengejutkan! Bishri menginjak ayat basmallah. Tersedak Bishri terdiam, berpikir. Ia membawa pelepah kurma yang berukir basmallah tersebut dan melanjutkan perjalanannya ke pasar. Di pasar Bishri membeli wewangian. Tujuannya untuk membersihkan pelepah kurma yang berukir ayat Allah tersebut, kemudian ia pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Bishri membersihkan pelepah lontar tersebut dengan wangi-wangian yang dibelinya di pasar, dan setelah selesai dibersihkan dan diwangikan , ia simpan dalam kotak dan diletakkan dalam lemarinya.

Malampun berlalu, Bishri sangat mengantuk lalu ia tertidur pulas. Saat tertidur ia bermimpi sebuah cahaya dengan suara yang lantang “Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah menyucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti”. Mimpi itu tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Bishri merasa takut, gelisah, dan hasrat was-was yang tak terkira yang membuat Bishri terngiang-ngiang dalam pikirnya. Akhirnya, ia bertanya apa makna mimpi itu kepada seorang ulama, siapa orang yang ada dalam mimpi itu? Darimana asalnya orang itu?. Ulama itu tidak menjawab, hanya menunjukkan jari ke arah Barat, “disana”.

Bishri pun berangkat ke utara tanpa tahu siapa yang dicarinya. Perjalanan panjang, dengan bekal seadanya dan juga ia membawa pelepah lontar yang ia temukan itu.
Mulailah ia berjalan pada pengembaraannya. Suatu hari dalam perjalanannya, perbekalan Bishri habis, semuanya makanan, dan hartanya telah habis. Yang tersisa hanya baju kotor yang dikenakannya dan sendal terompah dan pelepah lontar yang berisi Kalamullah itu. Malampu datang dengan dingin di gurun sahara. Bishri bermimpi lagi dengan orang itu. Sekali lagi, orang dalam mimpi Bishri itu juga berkata sama. Namun reaksi ketakutan Bishri saat bangun dari mimpi itu benar-benar dahsyat, seakan terjadi gempa bumi. Ia benar-benar menggigil ketakutan. Tengah malam gelap gulita ia melanjutkan lagi perjalanan ke Barat .

Tibalah ia di Baghdad, dengan rasa lapar yang luar biasa. Ia tak mampu bekerja mencari uang karena fisiknya yang amat lelah. Akhirnya Bishri menjual sendal terompah bututnya untuk sepotong roti kecil dan juga setengah kantong air (itupun diberi secara percuma karena belas kasih orang). Dalam hatinya, Bishri mengatakan; “Biarlah aku bertelanjang kaki, ini atas dasar penghukumanku yang telah menzalimi asma’ Allah dan atas dosa-dosaku sebelumnya”.

Di baghdad, ia hidup benar-benar sederhana. Bekerja sebagai kuli panggul dan pekerjaan berat lainnya. Ia juga belajar al-Quran dan Hadist di Baghdad dibimbing oleh para ulama. Setiap hari ia bertelanjang kaki, menapaki jalan yang panas, berdebu, dan pasir yang panas saat kemarau, dan becek dikala hujan. Orang-orang yang melihat Bishri menertawainya, menghinanya; “ Lihat, ia Majnun (orang gila), berpakaian compang-camping”. Terdengar oleh Bishri, ia menemui orang mengatakannya. “Aku malu pada Allah, saya sombong. Aku pernah menginjak Kalamullah, biarlah aku menapaki bumi Allah tanpa alas, sebagai hukumanku pada diriku yang telah menghina Kalamullah. Lagipula bumi Allah ini adalah permadani-Nya yang indah dan suci. Aku tak mau menapaki dengan kesombongan”. Mereka yang menertawai Bishri, kontan tertegun dan menangis. Menangis atas kesombongaan mereka. Mereka tersadarkan, bahwa Bishri adalah Majzub (orang yang gila cinta Ilahi). Mereka meminta maaf dan meminta bimbingan Bishri. Namun Bishri menolak, ia hanya berpesan; “mintalah ke pada Sang Pembimbing melalui hatimu”.

 

Kisah ini diringkas dari buku Dr. Abdel-Halim Mahmoud, yang berjudul “ Bishri bin Harits al-Hafy, Cetakan Daar Ma’arif, Cairo

 

Standar