analisis filsafat

ABORSI

Aborsi bukanlah satu-satunya jalan tempuh untuk menyelesaikan masalah dalam mengahadapi hidup, apalagi bayi yang di kandung dalam perut wanita (ibu) adalah janin yang masih bersih dan tidak tahu apa-apa. Seluruh masyarakat harus di sadarkan akan pentingnya perlindungan terhadap janin dalam kandungan. Akan tetapi aborsi merupakan masalah delematika yang tidak harus kita hindari. Namun demikian, aborsi banyak di perdebatkan di negara-negara barat maupun timur, di negara bagian texsas undang-undang aborsi bertentangan dengan hak yang terjamin dalam konstitusi amerika, khususnya the right of personal privacy (hak atas lingkup pribadi)1 . dari sudut pandang hukum sangatlah di jamin karena aborsi selain menghilangkan nyawa seseorang, juga membahayakan kondisi seseorang tersebut. Aborsi tanpa alasan yang amat berat sama sekali tidak dapat di benarkan dari segi moral hidup, yang menuntut kita untuk menghormati hidup manusia sejak dalam kandungan ibunya2. Dari sekian banyak kasus masalah-masalah moral, aborsi merupakan masalah modern yang paling tajam, penggunaan aborsi sebagai jalan keluar kontrasepsi dan menghilangkan rasa malu terhadap orang lain, Dalam beberapa tahun terahkiri di amerika serikat mencapai rata-rata 1,5 juta aborsi per tahun. Secara garis besar tindakan aborsi sangat berbahaya bagi ibu dan juga janin yaitu bisa menyebabkan kematian pada keduanya.

Aspek Hukum dan Medikolegal Aborsi Povocatus Criminalis Aborsi telah dilakukan oleh manusia selama berabad-abad, tetapi selama itu belum ada undang-undang yang mengatur mengenai tindakan abortsi. Peraturan mengenai hal ini pertama kali dikeluarkan pada tahun 4 M di mana telah ada larangan untuk melakukan abortus. Sejak itu maka undang-undang mengenai abortus terus mengalami perbaikan, apalagi dalam tahun-tahun terakhir ini di mana mulai timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat dan pemerintah di berbagai negara di dunia terhadap tindakan abortus. Hukum abortus di berbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai berikut: A

• Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda.

• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosio-medik, seperti di Eslandia, Swedia, Inggris, Scandinavia, dan India.

• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti di Jepang, Polandia, dan Yugoslavia.

• Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan tanpa memperhatikan indikasi-indikasi lainnya (Abortion on requst atau Abortion on demand), seperti di Bulgaris, Hongaria, USSR, Singapura.

1. Pengantar Bioetika. A Shaman, Thomas

2. Moral dan Masalahnya. Hadiwardoyo, Al Purwa.

• Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi eugenistis (aborsi boleh dilakukan bila fetus yang akan lahir menderita cacat yang serius) misalnya di India

• Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi humanitarian (misalnya bila hamil akibat perkosaan) seperti di Jepang

Negara-negara yang mengadakan perubahan dalam hukum abortus pada umumnya mengemukakan salah satu alasan/tujuan seperti yang tersebut di bawah ini:

• Untuk memberikan perlindungan hukum pada para medisi yang melakukan abortus atas indikasi medik.

• Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya abortus provocatus criminalis.

• Untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk.

• Untuk melindungi hal wanita dalam menentukan sendiri nasib kandungannnya.

• Untuk memenuhi desakan masyarakat.

Di Indonesia, baik menurut pandangan agama, Undang-Undang Negara, maupun Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan pengguguran kandungan (abortus provokatus). Bahkan sejak awal seseorang yang akan menjalani profesi dokter secara resmi disumpah dengan Sumpah Dokter Indonesia yang didasarkan atas Deklarasi Jenewa yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates, di mana ia akan menyatakan diri untuk menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. Dari aspek etika, Ikatan Dokter Indonesia telah merumuskannya dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia mengenai kewajiban umum, pasal

Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pada pelaksanaannya, apabila ada dokter yang melakukan pelanggaran, maka penegakan implementasi etik akan dilakukan secara berjenjang dimulai dari panitia etik di masing-masing RS hingga Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK). Sanksi tertinggi dari pelanggaran etik ini berupa “pengucilan” anggota dari profesi tersebut dari kelompoknya. Sanksi administratif tertinggi adalah pemecatan anggota profesi dari komunitasnya.

Ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus justru tidak bersifat mutlak. Abortus buatan atau abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua golongan yakni: 1. Abortus buatan legal Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Populer juga disebut dengan abortus provocatus therapeticus, karena alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa ibu. Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan:

PASAL 15: 1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. 2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) hanya dapat dilakukan: a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut; b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli; c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya; d. Pada sarana kesehatan tertentu. 3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai berikut: Ayat (1) : Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu Ayat (2) Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu sebab tanpa tindakan medis tertentu itu,ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut. Butir Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan wewenang untuk melakukannya yaitu seorang dokter ahli kandungan seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. Hak utama untuk memberikan persetujuan ada ibu hamil yang bersangkutan kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,dapat diminta dari semua atau keluarganya. Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh pemerintah. Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk. 2. Abortus Provocatus Criminalis ( Abortus buatan illegal ) Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan atau menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Beberapa pasal yang mengatur abortus provocatus dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP):

Dalam hal ini ada beberapa jenis aborsi, Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.

Study kasus aborsi

Saat itu pas jam 7 malam, kami baru saja selesai makan malam dan bersantai untuk menonton berita sore. Handphone suami saya berdering terlihat nama Laura dilayar handphone. Kami selalu senang mendengarkan kabar darinya. Laura begitu penuh dengan gairah hidup, roh anda akan terbakar hanya dengan berbicara dengannya. Kecuali untuk kali ini itu bukanlah suaranya. Ada jeritan serak dan isak tangis diseberang sana oleh suara yang saya tidak dapat cepat mengenalinya. Saya mendengar kata2 “Laura”, “Rumah Sakit” dan yang terburuk, “Tidak Bernafas” dan kemudian “aborsi”

Otak saya oleng, hati saya tertekan dan kehidupan yang saya ketahui berhenti. Yang tadi menelepon adalah teman dari Laura, Karen. Ia berkata pada saya apa yang terjadi, bahwa Laura sedang melakukan aborsi dan sesuatu berjalan sangat buruk. Karen sedang berada di ruang emergensi dan dokter memerlukan untuk berbicara dengan saya. Apa yang Karen tidak ketahui bahwa Laura saat datang ke ruang emergensi sudah dalam keadaan meninggal. Laura meninggal di ruang aborsi. Rumah sakit pertama2 hanya mencari keluarga terdekat untuk memberitahukan berita ini dan Karen bukanlah sanak keluarga.

Laura meninggal kata dokter itu padaku. Saya ingin mendengar “50-50” kesempatan hidup … Aku bahkan akan menerima “90-10” kesempatan hidup. Tapi kata “kesempatan hidup” tidak ada dalam perkataan dokter itu. Seluruh harapan telah pergi, bersama dengan putriku.

Putriku yang cantik, yang berharga, yang kami telah adopsi saat berumur 5 tahun, dan secepat itu terlupakan kalau kami bukanlah yang melahirkannya. Laura sudah menjadi bagian kami sebagaimana anak kami sendiri. Ia adalah sebuah pemberian yang tidak kami minta dan harta kami yang berharga. Saya mempunyai pertanyaan yang saya tidak akan dapat jawabannya, “kata kenapa.” Kenapa ia tidak datang kepada kami? Kenapa ia tidak memberitahukan kami ia sedang hamil? Kenapa ia berpikir bahwa aborsi adalah solusi untuk masalahnya?

Laura di besarkan di dalam keluarga Kristen yang penuh kasih. Laura menjadi marah ketika orang lain yang ia kenal melakukan aborsi. Laura mencintai anak2. Laura mengandung bayi dari tunangannya: tunangannya mengasihinya dan berkata ia tidak percaya-setuju akan praktek aborsi.

Ada beberapa pertanyaan yang saya dapatkan jawabannya. Saya bertemu dengan dokter yang menggugurkan cucu saya, dan yang melihat putri saya mengambil nafas terakhir. Ia hanya akan menemui saya di tempat umum, tanpa suami saya. Kami berbicara selama satu jam setengah. Berdasarkan pertemuan itu saya percaya saya tau apa yang terjadi dengan Laura. Ia tidak mengakui melakukan sesuatu yang menyebabkan kematian Laura. Ketika kami selesai berbicara mengenai Laura, saya berdoa, dan tanya Tuhan apakah ada sesuatu yang Ia ingin aku katakan kepada dokter ini. Ini yang saya katakan selajutnya … “Darah dari putriku ada atas tanganmu, darah dari cucuku ada atas tanganmu; darah dari setiap nyawa yang pernah kau ambil ada di atas tanganmu,” dan saya beranjak dari sana. Ia terdiam dengan kepala tertunduk.

Saat saya bersiap untuk pergi, saya bertanya padanya apakah ia akan berpikir mengenai putriku, dan mempertimbangkan untuk tidak melakukan lagi aborsi-ia berkata akan memikirkan hal itu. Saat saya meninggalkan tempat itu saya berdoa, dan berkata kepada Tuhan, “Dapatkah ia menyetop pria ini dari praktek aborsi? Apakah ini yang ada di pikiran-Mu, bahwa ia bahkan berhenti untuk melakukannya? Saya berpikir begitu sempit. Saya berpikir jika seorang gadis mengubah pikirannya (mengenai melakukan aborsi), saya dapat menemukan sepenggal penghiburan. Saya kemudian menyadari bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih besar. Saya belum pernah mengalami dalam hidup saya, suatu yang tragis, juga suatu kasih karunia yang luarbiasa.

Dari kematian putiku, saya tau’ bahwa Tuhan akan membawa kebaikan. Suatu yang mengenaskan; untuk putriku di hubungkan dengan praktek aborsi. Namun, jika Tuhan akan pakai untuk kebaikan dan kemuliaan-Nya, maka jadilah.

Saya percaya kebenaran akan tampil, dan terang Tuhan akan bercahaya di atasnya. Kematian Laura memiliki dampak luarbiasa di seluruh negeri, dan bahkan sampai ke Kanada, tanpa ada berita lokal menyebutkannya. itu hanya keluar di media sekuler minggu ini-lima minggu setelah kematian Laura.

Saya sekarang percaya bahwa ini adalah panggilan saya untuk terus menceritakan kisah Laura kepada Gereja, dan dunia. Saya sungguh percaya bahwa aborsi bukanlah pilihan bagi gadis Kristen. Seorang Gembala bahkan meminta maaf pada saya dan Tuhan, karna tidak berbicara mengenai hal ini di mimbar. Kita sama2 memiliki asumsi yang salah. Ini adalah sebuah masalah di Gereja, dan satu isu yang perlu di khotbahkan dari mimbar. Kita harus bawa itu keluar, dan mendiskusikannya. Dan mungkin jika dapat, kita harapkan, kita bahkan menjadi aktif untuk menolak aborsi.

Saya mohon tetaplah berdoa untuk keluarga kami, dan beritahukan kepada yang lain kisah Laura.

Ibu Eileen percaya bahwa kisah Laura musti di ceritakan, dalam harapan bahwa ada kehidupan yang diselamatkan-baik bayi dan ibu muda-sehingga kematian putrinya tidaklah sia2. (Itu sebabnya saya memposting hal ini di Indonesia-NYA dengan harapan yang sama)

Laura Hope Smith umur 22 tahun, meninggal pada tanggal 13 September 2007, saat melakukan aborsi yang di lakukan oleh Dr. Rapin Osathanondh, pada Klinik Kesehatan Wanita di Hyannis, Massachusetts

*

Daftar Pustaka

http://www.keluargasehat.com/keluarga-ibuisi.php?news_id=165

http://indonesianya.wordpress.com/2007/11/09/kisah-laura/

http://www.jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=4258

http://situs.kesrepro.info/gendervaw/jul/2002/utama02.htm http://www.abortiono.org http://www.liputan6.com www.kompas.co.id

Standar

One thought on “ABORSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s