analisis filsafat

STATE OF NATURE, ANARKHISME, DAN DEMOKRASI DALAM FILSAFAT POLITIK

PANDANGAN THOMAS HOBBES DALAM STATE OF NATURE

Thomas Hobbes percaya bahwa keadaan yang berdasarkan atas tindakan-tindakan kealaman yang tidak dikehendaki yang memiliki sifat alamiah, kodrat. Dia juga percaya, bahwa hasil dari keadaan alam dapat bersifat negatif seperti sifat kenekatan yang berujung pada peperangan, baik itu peperangan dari individu dengan individu, individu dengan kelompok bahkan kelompok dengan kelompok. Intisari dari pendapat Thomas Hobbes dengan “state of nature” nya, dapat dilihat dari ketiadaan pemerintah manusia akan secara alamiah tidak dapat dielakkan akan membawa kita pada konflik yang berat[1].Bagi Hobbes, yang pertama kali kita pelajari adalah tentang “state of nature”, adalah dengan mempelajari tentang sifat-sifat dasar manusia secara alamiah.

Hobbes sebenarnya ingin mendeskripsikan dan memberi kesan, dengan memberi dua kunci agar memahami teorinya yaitu yang pertama adalah pengetahuan dari diri sendiri. Pengetahuan adalah sebuah bentuk kejujuran dari instropeksi yang menyebutkan tentang keberadaan manusia, seperti pemikiran yang alamiah, pengharapan, dan kekhawatiran. Alat penangkap pengetahuan adalah panca indera. Panca indera sebagai alat penangkap dari sifat manusia bisa terjadi pengurangan. Panca indera terbagi empat macam; Kekuatan jasmani, Pengalaman, Alasan, Derita (nafsu. mengambil permulaan dari semua dokrin yang berikut ini dari ini, kita akan mengenalkan pada pokoknya apa yang cara kecenderungan-kecenderungan orang-orang yang dimiliki dengan panca indera telanjang ini ke arah satu sama lain, dan apakah, dan dengan apa yang panca indera, mereka dilahirkan siap untuk bersosialisasi, dengan demikian memelihara diri mereka dengan melawan terhadap kekerasan, kekejaman yang bersifat bersama; lalu melanjutkan, dengan memberi sebuah nasihat yang perlu kira ketahui akan persaingan manusia ini, dan apakah ini yang merupakan kondisi-kondisi sosial atau dari kedamaian manusia[2].

Teori yang kedua adalah dengan pemahaman atas konsep materialis[3]. Yaitu konsep dimana Hobbes mengikuti pemahaman Galileo, yaitu segala sesuatu adalah obyek yang bersifat nyata, riil. Sifat manusia inilah yang membuat sebuah gerakan-gerakan dari manusia itu sendiri untuk mempertahankan hidupnya, seperti memperebutkan lahan untuk tempat tinggal, memperebutkan lahan untuk bercocok tanam, ini membuat persaingan dengan manusia yang lainnya.

Ketiadaan sebuah institusi atau pemerintahan yang mengatur hidup manusia, membuat persaingan, peperangan, bahkan pertikaian. Inilah yang disebut oleh Hobbes dalam “state of war”. State of war dari pemahaman teori Hobbes adalah konsekuensi dari “state of nature”nya. Ini merupakan keadaan alamiah dimana manusia mempertahankan apa yang dibutuhkannya, apa yang dikehendakinya, dan apa yang diperlukannnya. Semua itu adalah alamiah, berkelanjutan, berusaha untuk menaikkan kekuatan, mempunyai kekayaan, reputasi, dll.

Hobbes melihat tiga prinsip digerakan untuk menyerang di dalam state of nature; yaitu untuk keuntungan, untuk keamanan,dan kejayaan, atau reputasi[4]. Hobbes mempercayakan gagasannya dari keberadaan manusia,di dalam pencarian kebahagiaan, tepatnya untuk menaikkan kekuatan dari segala kebutuhan.

Pandangan Anarkhisme Tentang Negara Dan Teori Anarkhisme Dipandang Tidak Menarik ( William Godwin)

“”The annals of the French Revolution prove that the knowledge of the few cannot counteract the ignorance of the many . . . the light of philosophy, when it is confined to a small minority, points out the possessors as the victims rather than the illuminators of the multitude [5]””.

Anarkhisme adalah sebuah ide tentang hidup dengan cara yang lebih baik. Sedangkan Anarkhi adalah sebuah cara untuk hidup. Anarhkisme menganggap bahwa pemerintahan ( Negara ) itu bukan saja tidak diperlukan tapi juga berbahaya. Para anarkis adalah mereka yang mempercayai anarkisme dan memiliki hasrat untuk hidup di dalam anarki sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para leluhur kita dulu. Mereka yang mempercayai pemerintahan ( seperti kaum liberal, Marxis, Konservatif, sosialis dan fasis) dijulukisebagai“statist.”
Awalnya anarkisme mungkin terkesan sangat negatif – karena oposisinya yang mentah. Namun sebenarnya, para anarkis memiliki banyak ide positif mengenai hidup di dalam sebuah masyarakat tanpa pemerintahan. Tidak seperti para Marxis, Liberal dan konservatif, mereka sama sekali tidak menawarkan sebuah cetak biru dari masyarakat. Anarkhisme merupakan sebuah deskripsi tentang penggabungan dokrin-dokrin, sikap dan gerakan-gerakan dengan sifat dan ciri yang menyatukannya adalah keyakinan bahwa pemerintah pada dasarnya bersikap opresif. Kaum anarkhisme ini berpendapat bahwa manusia harus membersihkan dirinya dari semua bentuk pemerintahan sebelum membangun pemerintahan yang baru yang didasarkan atas keadilan, cinta damai,dan semangat kerjasama. Anarkisme menawarkan sebuah jalan penyelesaian atas semua hal diatas, dengan meneliti, merunut semua problema tersebut hingga ke akar permasalahannya. Dan menurut analisa yang diyakini oleh kaum anarkis, dapat diambil diambil kesimpulan bahwa semua masalah pokok tersebut disebabkan oleh sistem hierarki yang disebarkan dan dimapankan oleh kapitalisme, yang termasuk juga di dalamnya adalah semua institusi-institusi yang mengandalkan kekuatan hanya pada satu titik teratas dari sebuah struktur (seperti contohnya perusahaan korporasi multinasional, birokrasi pemerintah, partai-partai politik yang hanya mengandalkan para elit politik, tentara, universitas dan sekolah, organisasi-organisasi keagamaan, dan lain sebagainya). Hal-hal tersebut pada prakteknya telah memperlihatkan bagaimana hubungan antar manusia yang otoriter hanya akan menyebabkan efek-efek negatif pada setiap individu, masyarakat dan budayanya. Dapat dikatakan juga bahwa selain anarkisme hanya merupakan kritik terhadap kehidupan masyarakat yang sakit, anarkisme adalah juga merupakan sebuah proposal untuk sebuah kehidupan masyarakat yang bebas

Salah satu pemikir yang mengutarakan anarkhisme adalah William Godwin, yang karya utama dikenal adalah The Inquiry Concerning Political Justice di tebitkan pada tahun 1793. Pokok filsafat Godwin adalah bahwa penderitaan manusia pada intinya disebabkan oleh ketidakadilan. Kekuasaan negara yang menghalangi individu bertindak sesuai dengan akal dan kebajikan harus dilenyapkan[6]. Dari pemahaman Godwin di atas, Godwin mengusulkan bahwa masyarakat masa depan adalah masyarakat yang ideal, harus terdiri dari unit-unit kecil di mana tak seorangpun tidak perbolehkan untuk memaksakan kehendaknya pada orang-orang lain.

Sebuah permasalahan tentang anarkhisme, Bagaimana gerakan anarki saat ini dan masa mendatang? Saat ini sesungguhnya gerakan anarkisme tengah mengalami kemunduran. Kecuali di Spanyol gerakan anaki dihancurkan dimana-mana. Anarkhisme di pandang tidak menarik dikarenakan sebuah sistem negara yang berbeda-beda, seperti Indonesia dengan sistem demokrasinya, sehingga masyarakat dapat diberikan hak-hak untuk berbicara, mengeluarkan pendapat, dan mengapresiasikan apa yang ada dibenaknya, begitu juga dengan negara yang berpahamkan sosialis, liberalis, dll. Inilah faktor utama yang membuat paham anarkhisme tidak berkembang secara pesat.

Pengertian Tentang Unsur Intrinsik Dalam Demokrasi

Sebelum kita memasuki unsur-unsur intrinsik dalam pemerintahan demokrasi, kita harus mengetahui pengertian dari demokrasi. Demokrasi adalah faham dimana bentuk pemerintahannya dan cara hidup yang tidak terlalu ideal, tidak terlalu buruk, tetapi cocok dengan kehidupan masyarakat, dan dapat dinikmati oleh masyarakat. Demokrasi membutuhkan sebuah prospek ke depan, faktor-faktor yaitu; factor ekonomi, faktor sosial, faktor eksternal, dan kultural[7].

Pendekatan alternatif menerima demokrasi sebagai “sebuah kebijakan intrinsik” yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Bubarnya Uni Sovyet menandai berakhirnya komunisme, satu-satunya pesaing utama demokrasi yang masih tersisa sejak berakhirnya PD II.. Di saat bersamaaan, pendekatan ini, juga dalam banyak hal, menerima pembangunan ekonomi yang menekankan pertumbuhan sebagai tak terelakkan. Sudah tentu model pertumbuhan memiliki sejumlah kekurangan. Hanya saja persoalannya tidak lagi mengganti model itu dengan model lain, tetapi melengkapi gagasan pertumbuhan dengan pendekatan pemerataan atau partisipatif[8].

Boleh dibilang pendekatan alernatif mendukung wacana yang sedang dominan yang meyakini demokrasi sebagai prakondisi yang tak terbantahkan bagi pertumbuhan ekonomi. Menurut keyakinan ini, demokrasi mengutamakan kebebasan, kompetisi, rule of law, transparansi dan akuntabilitas publik. Unsur-unsur demokrasi itu merupakan prasyarat yang diperlukan sebuah ekonomi pasar agar bisa bekerja secara optimal. Jika pasar bisa bekerja optimal dan menghasilkan pertumbuhan, maka pembangunan ekonomi akan memproduksi kesejahteraan yang amat diperlukan bagi keberlangsungan demokrasi.

Unsur normatif politik itu yakni kebaikan dan jaminan keadilan untuk semua orang. Praktik politik yang mengorbankan martabat manusia secara politis dapat dikatakan bertentangan dengan tujuan esensial dan akhir politik itu sendiri yakni kebahagiaan hidup manusia yang kita sebut rakyat. Tujuan etis kegiatan politik adalah untuk humanisasi hidup. Artinya, dengan berpolitik manusia makin berkembang untuk mewujudkan hak-hak dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Politik yang benar adalah membebaskan dan memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, pemerasan, pemerkosaan, manipulatif, ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan dalam kehidupan bersama.

Faktor utama dari unsur instrinsik adalah kemakmuran ekonomi dan persamaan, dengan mengkolerasikan keduanya. Maksudnya adalah pertama,baik demokrasi maupun kemakmuran dapat disebabkan oleh faktor ketiga (eksternal).Protenstantisme misalnya disebutkan sangat berperan dari lahirnya kapitalisme, perkembangan ekonomi, dan demokrasi. Kedua adalah demokrasi dapat menimbulkan kemakmuran[9].

Faktor kedua adalah struktur sosial. Faktor kedua ini melibatkan masalah sampai sejauh mana struktur sosial dibedakan dan diartikulasi secara luas dengan kelas-kelas social, kelompok regional, kelompok profesi, kelompok etnis, dll. Oleh karena itu lembaga-lembaga politik demokrasi dipandang sebagai sarana yang efektif untuk melaksanakan kendali tersebut[10].

Faktor ketiga adalah faktor lingkungan luar. Pengaruh luar dapat berperan dalam mempengaruhi apakah suatu masyarakat bergerak menuju demokrasi atau tidak, sejauh mana pengaruh demikian itu lebih penting dibanding dengan faktor-faktor asli, maka demokratisasi adalah akibat dari fusi dan bukan akibat perkembangan [11].

Faktor yang keempat adalah Kebuadaayaa. Kebudayaan politik berakar dalam kebudayaan dalam kebudayaan masyarakat yang lebih luas lagi, yang melibatkan keyakinan, dan nilai-nilai mengenai hakikat manusia dan masyarakat, hubungan individu dengan sang Pengada yang sifatnya transenden[12].

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s