analisis filsafat

ANALISIS CAK NUR DAN MORALITAS POLITIK DALAM BUKU TITIK NADIR DEMOKRASI

Topik yang mengerucut dari permasalahan-permasalahan yang coba dibahas oleh Emha dalam bukunya secara khusus diambil dari serangkaian opini dimana filsuf atau Cak Nun itu menolak apabila buku tersebut membahas sebuah tema politik akan tetapi politik dalam tanda petik. Dalam buku titik Nadir Demokrasi, jika dipahamkan kepada pembaca memiliki suatu sisi lain dimana Emha atau Cak Nun berharap pembaca memahami karya tersebut menggunakan imajinasi dimana menyediakan ruang yang lebih luas untuk menampung sebanyak mungkin cakrawala, yang titik baliknya pada demokrasi dan analisis kritis.

Ada beberapa hal yang ingin disampaikan melalui buah pemikiran “Titik Nadir demokrasi” dimana filsuf menggunakan senjata yang beragam, keris sejarah, silet kesenian, celurit ekonomi, pedang agama, panah mistik dalam hal ini beliau menggunakan media falsafah jawa dan dunia wayang serta tokoh-tokoh mitologi jawa. Hal-hal yang dapat ditangkap antara lain; analisis tentang situasi politik di Indonesia yang semakin panas dan dinamis kian menguak dan memperjelas posisi rakyat Indonesia saat itu. Berikutnya yang coba disampaikan yakni ada semacam segmen-segmen praktis dari dunia politik yang beliau paparkan, misalnya menyangkut kekuasaan, ambisi dan kekerdilan.

Emha Ainun Nadjib kita kenal sebagai tokoh yang memiliki cakrawala yang tidak hanya berkutat pada satu bidang, dia adalah teolog dan ideolog, budayawan, dan sejumlah persepsi lain mengenai Cak Nun. Dari sini sedikit lebih terlihat jelas darimana Cak Nun memperoleh kerangka pikirnya. Beliau menyebutkan dalam tulisannya sesungguhnya dia telah membuat puluhan atau mungkin ratusan tulisan lain yang bisa dimasukkan dalam buku “Titik Nadir Demokrasi”.

Oleh karena itu pandangan yang tercantum dalam buku ini banyak berbicara tentang aktualitas “apa yang sudah, apa yang sedang, serta apa yang belum”. Cak nun mengakui dengan segala kerendahan hati dan meletakkan tulisannya sebagai sebuah amanat yang datangnya dari hati. Maka dari itu ada beberapa argumen yang sebenarnya sangat ironis dan disampaikan melalui media-media bahasa yang konotatif

Kita tentunya menyadari akan keterbatasan manusia, dan beratus macam pernik mutiara aspirasi yang menegaskan keberlangsungan dialektika itu. Dengan demikian sebatas ide dan pemikiran tentunya tidak ada yang mengatasi kekuasaan Tuhan, untuk memaparkan demokrasi, saya setuju dengan bahasa demokrat bahwa kehendak rakyat adalah suara Tuhan yang bersimbolkan demokrasi. Dalam pergumulan itu politik bisa dikatagorikan sebagai syaratnya, dan yang terjadi saat ini kita belajar tentang aspirasi yang diambil dari negara- negara tetangga yang jauh dan tidak menggunakan idiom dari akar masyarakat kita sendiri. Setelah memahami beberapa analisis kondisi negara Indonesia dimana mengalami pasang surut, ada post-post tertentu yang memposisikan satu negara harus memperhatikan sejarahnya atau secara tidak langsung belajar dari kesalahan. Pada sisi tertentu kesadaran akan kondisi perpolitikan yang semakin dinamis dengan nasib ratusan juta saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air dan kita hanya bisa melihat performance para penghuni kursi kekuasaan dan tentunya kita berhak atas nasib kita sendiri dan kita haris tahu itu.

Penelusuran melalui kosmos budaya seni tokoh yang dianggap oleh cak nun memiliki persamaan yang relevan dengan kondisi sekarang, misal para tokoh pada cerita Ramayana ataupun mahabarata, kita ambil perumpamaan tokoh Semar yang didimbolisasikan sebagai kekuatan demokrasi yang mengatasi raja dari semua raja dan dewa. Perdebatan yang coba didialektisasikan berkaitan dengan simbol- simbol ideologi yang ditempatkan pada kondisi sosial sebagai kerangka teori penafsiran demokrasi menurut cak Nun

Dalam menamai karyanya cak Nun menggambarkan bahwa para pelaku monopoli, oligopoly, subjektivisme, kekuasaan dan hedonisme keduniaan, bisa dengan gampang mengubah kebusukan menjadi menjadi seakan- akan berbau harum sampai pada titik tertentu inilah moral yang merusak dan harus dihindari penyebarannya. Penyakit dalam kalbu, yang merusak kalbu, yang merusak pikiran, menyelewengkan energi mental dan mengikis moral.

Beberapa argumen yang menjadi perenungan antara lain” inilah hari- hari dimana manusia terbumerangi oleh bangunan dan sistem- sistem kekuasaan yang ia ciptakan sendiri”, ini mungkin yang disebut Tuhan memperingatkan manusia menganiaya dirinya sendiri. Ini mungkin yang juga dianalogikan sebagai rentetan historis bangsa Indonesia dari kepemimpinan sebelum-sebelumnya.

Filsuf yang didudukkan sebagai penulis titk nadir demokrasi ingin menunjukkan bahwa saat ini adalah hari-hari dimana titik nadir demokrasi yang budaya otoritarianisme semakin tidak bisa dikontrol, dimana terputus dan terbenturnya akal sehat politik. Filsuf berusaha menunjukkan kesalahan yang harus dicamkan melalui beberapa bab- bab dalam setiap judul yang memuat idea yang bersangkutan.

Koreksi logis yang perlu diperhatikan dalam mensinkronkanyya dengan aktualitas terdapat bagian-bagian yang hasilnya relatif dari setiap pembaca. Penelusuran yang diharapkan Cak Nun dari visi dan misi yang dipaparkan apabila direalisasikan mungkin memang agak memakan waktu jika dipadankan dengan kondisi detil politik dan bangsa Indonesia akan tetapi beberapa argumen dan deskripsi dari Cak Nun memang memiliki nilai folosofis yang perlu dijadikan perenungan kritis bagi seluruh masyarakat Indonesia karna cita- cita bangsa masih jauh dari terwujud dan masih perlu lagi pembenahan yang patut diperhatikan.

Standar

2 thoughts on “ANALISIS CAK NUR DAN MORALITAS POLITIK DALAM BUKU TITIK NADIR DEMOKRASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s