Islamic Article

BER- BISNIS MULTI LEVEL MARKETING (MLM)

Di dalam muammalat (hubungan sesama manusia) dikenal akidah fiqih “semuanya boleh kecuali yang dilarang”, oleh karenanya bisnis apapun tidak bila tidak melakukan sesuatu yang dilarang syariah, maka hukumnya boleh. Mengenai bisnis Multi Level Marketing (MLM) yang perlu diperhatikan paling sedikit ada dua hal yang paling sedikit perlu diperhatikan. Pertama, apakah barang dan jasa yang diperdagangkan haruslah barang dan jasa yang halal. Kedua adalah keuntungan yang dibagikan dalam jaringan haruslah berasal dari keuntungan penjualan barang dan jasa yang halal tersebut.

Bila barang dan jasa diperdagangkan adalah barang dan jasa yang haram, maka MLM tersebut tersebut tidak sesuai syariah. Begitu pula meskipun barang dan jasa yang diperdagangkan adalah halal, namun bila keuntungan yang dibagikan dalam jaringan bukan berasal dari keuntungan barang dan jasa, misalnya berasal dari downline, maka MLM tidak sesuai syariah.

Bila kedua hal tersebut terpenuhi maka dapat dikatakan MLM itu tidak bertentangan dengan syariah. Untuk dapat dikatakan MLM tersebut MLM syariah, maka seluruh aspek bisnisnya pun harus sesuai syariah, maka seluruh aspek bisnisnya pun harus sesuai syariah: mulai dari sistem pembagian keuntungan dalam jaringan, metode perekrutan, dll.

Yang membedakan bisnis MLM dengan bisnis non MLM adalah digantikannya peran pedagang grosir, toko, warung, dengan peserta jaringan. Misalkan harga pabrik Rp.10.000,00 dan harga jual ke konsumen Rp.14.000,00, maka keuntungan yang ada Rp 4.000,00 dinikmati oleh grosir, toko/ warung yang menjualnya. Nah dalam bisnis MLM keuntungan yang ada Rp. 4.000,00 tersebut dibagikan kepada peserta jaringan.

Dalam bisnis non MLM dikenal dengan adanya diskon grosir/kulakan yang menjualnya, hadiah bagi pengecer yang mencapai omzet tertentu. Dalam bisnis MLM hal sejenis juga dikenal, misalnya hadiah (bonus) jaringan karena sekelompok peserta tertentu, atau hadiah (bonus) karena seorang peserta dapat merekrut peserta baru. Pemberian hadiah boleh-boleh saja. Namun, tentu saja judi yang dikemas seakan-akan hadiah menurut fiqih dilarang.

Dalam bisnis non MLM tidak dikenal adanya kewajiban bagi grosir, toko, warung untuk wajib membeli sejumlah nilai (point) tertentu setiap bulannya. Dalam bisnis MLM pun tidak dapat mewajibkan pesertanya untuk membelu produk setiap bulannya untuk sekedar mempertahankan kepesertaannya. Bukan saja hal ini tidak lazim, namun juga karena hal itu dapat digolongkan ta’aluq (keterkaitan), yaitu transaksi jual beli yang pertama tidak dapat menjual kecuali transaksi jual beli yang kedua dilakukan. Namun bila peserta dapat tetap melakukan transaksi jual-beli yang pertama tanpa harus melakukan transaksi jual beli yang kedua, maka ini tidak tergolong ta’aluq, sehingga boleh dilakukan. Ia tidak mendapatkan diskon dalam pembelian berikutnya karena tidak melakukan pembelian pada bulan kedua, ini juga boleh karena setiap transaksi jual beli pada dasarnya berdiri sendiri.

Hubungan antara penyelenggara MLM dengan pesertanya setara dengan hubungan pabrik dengan pabrik dengan grosir/toko/warung. Pabrik dapat saja memuat aturan bahwa distributor yang tercatat (registrated distributor) akan mendapat harga diskon dan insentif lainnya, misalnya berupa hadiah, dan untuk menjadi distributor yang tercatatdisyaratkan distributor yang aktif melakukan transaksi dengan pabrik. Begitu pula dengan bisnis MLM. Penyelenggaraan MLM dapat saja memberikan dapat saja memberikan diskon dan insentifnya sebagai hadiah kepada pesertanya yang aktif melakukan transaksi. Besarnya hadiah, baik untuk bisnis MLM ataupun non MLM, sepenuhnya bergantung pada pihak yang memberikan hadiah. Karena sifatnya hadiah, namun sekedar kebaikan hati

Persoalan inilah yang menjadi dasar akadnya dalam bisnis MLM karena sifat hadiah tidak sama dengan ju’alah. Demikian juga dengan penggunaan istilah diskon dan bonus. Sifat diskon (pengurangan harga) tidaklah sama dengan bonus (penambahan manfaat). Misalnya harga barang Rp.10.000,00, kemudian diberikan diskon menjadi Rp 9.000,00, maka harga yang telah diberikan diskon itulah yang menjadi harga dalam akad, bukan kebaikan hati yang penjual. Lain halnya dengan bila harga yang disepakati dalam akad Rp 10.000,00, kemudian setelah akad penjual memberikan hadiah (cash back) sebesar Rp1.000,00, maka itu adalah kebaikan dari sang penjual.

Tentu tidak ada Hadist dan ayat Al-Qur’an yang memberikan eksplisit tentang larangan bisnis MLM, namun Al-Qur’an dan Hadist memberikan batasan-batasan transaksi yang dilarang. Oleh karena itu tinggalkanlah semua transaksi yang dilarang dengan hukum syariat, mencintai produk dalam negeri, dan tinggalkanlah segala sesuatu yang berunsur kapitalisme dan liberlisme dalam bisnis. Semoga hidup kita akan menjadi berkah….amin ya ALLAH.

Standar

2 thoughts on “BER- BISNIS MULTI LEVEL MARKETING (MLM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s