analisis filsafat

HISTORY’S MATERIALISM OF KARL MARX

Karl Marx adalah seorang yang progresif dalam ke filsafatannya. Marx dilahirkan pada tahun 1818-1883, bertempat di Rhineland Jerman, dari keturunan Yahudi[1].Pemikiran Marx menghubungkan dengan sangat erat antara ekonomi dengan filsafat. Bagi Marx masalah filsafat bukan hanya masalah pengetahuan dan masalah kehendak murni yang utama, melainkan masalah tindakan. Para filosof menurut Marx selama ini hanya sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, namun menurutnya yang terpenting adalah mengubahnya.

Marx menyatukan paham materialisme Feuerbach menebarkan paham materialismenya bersama Hegel (1770-1831) yang berpaham eksistensialisme dan mereduksikan ke dalam suatu jalan pemikiran. Ia (Hegel) berpendapat bahwa pikiran individual partikular merupakan bagian dari pikiran universal tetapi pikiran tersebut tidak menyadari satu kesatuan akhir ini, sehingga pikiran terasingkan dari dirinya sendiri[2]. Pemikiran Marx mencapai klimaksnya ketika Partai Komunis Uni Soviet yang dipimpin oleh Lenin (1917) menjadi ideologi pokok atas ajaran komunis (Marxisme-Leninisme). Dengan tangan dinginnya Lenin, Uni Soviet menjadi negara yang kuat.

Marxisme tampil menggugah dalam perang dunia kedua, ketika masa-masa genting itulah, Marx tampil bagaikan seorang hero, yang memiliki jiwa heroic revolusioner. Dengan buku yang pertamanya yaitu Das Capital yang berisikan manifesto communist, yang merujuk tentang masyarakat tanpa kelas, apalagi pada waktu itu Prancis masih dikuasai oleh kaum borjuis, rakyat kecil seperti buruh diinjak-injak harga dirinya dengan pemberian gaji yang tidak sebanding dengan kerja. Di sinilah terjadi perbudakan secara besar-besaran.

Marx mulai menyadarkan akan beberapa kebenaran ekonomi politik yang mendatangkan nasib buruk bagi para pekerja di bawah tekanan kapitalisme. Tekanan dari kapitalisme dengan pembodohan terhadap kaum membuat sebuah ide-idea baru bagi Marx. Gagasan yang mengancam ke-eksistensian dari para borjuis, jika terjadi sebuah perubahan yang fundamental.

 

A. Tata Nilai Ekonomi

Dalam Materialisme historis diungkapkan bahwa manusia hanya dapat dipahami selama ia ditempatkan dalam konteks sejarah. Manusia pada hakikatnya insane bersejarah. Bila diandaikan bahwa sejarah terpatri dalam peristiwa-peristiwa masyarakat, maka seyogyanya pada saat yang sama sejarah juga diletakkan dalam keterkaitannya dengan masyarakat. Manusia sebagai pemangku sejarah tidak lain hanyalah keseluruhan relasi-relasi masyarakat.

Marx menolak romantisme dengan membuat gagasan tandingan yang disebutnya Promethian Faustian. Gagasan ini merupakan pinjaman dari tulisan johan Wofgang Goethe (1749-1983) dan mengadaptasi drama Yunani kuno yang ditulis oleh Aischulos. Marx menstir hal ini ketika membicarakan dampak sosial agama terhadap sejarah perkembangan. Ekonomi masyarakat dalam disertasi doktornya di Universitas Jena[3].

Kaum ploletar digambarkan sebagai sekumpulan Prometheus- Prometheus. Sedangkan Faust adalah simbol dari manusia yang tidak pernah puas dalam berusaha mencari kebenaran. Perlambang yang diambil Promethian Faustian ini adalah bahwa syarat mencapai kebahagiaan tidak boleh tidak diperlukan kesediaan individu menderita, meskipun individu-individu dimaksud berasal dari kelompok mayoritas[4].

Ide ini digambarkan dalam formulasi kapitalis borjuis yang berhadapan langsung dengan kaum ploletar. Sosialisme pada saatnya juga tidak akan terwujud tanpa dilengkapi dengan seperangkat teori pencapaian tujuan dimaksud. Pada titk inilah Marx mencuat tafsiran sejarah ekonomi yang deterministis[5].

Marx dengan materialisme historisnya bertumpu pada dalil bahwa produksi dan distribusi barang-barang serta jasa merupakan dasar untuk membantu membantu manusia mengembangkan eksistensinya. Dengan kata lain, materialisme historis ini dapat diinterpretasikan yaitu sejarah dari aspek ekonominya ini menempatkan pertukaran antara barang dan jasa sebagai syarat untuk menata segenap lembaga sosial yang ada.

Masyarakat harus selalu dipahami dalam kerangka struktur, yakni terdiri dari suprastruktur (lapisan atas) dan infrastruktur (lapisan bawah). Suprastruktur merupakan cermin kristalisasi lapisan bawah yang di dalamnya memuat bidang sosial, budaya, politik, filsafat, agama, dan kesenian. Sedangkan motor penggerak dari masyarakat dikembalikan pada kondisi-kondisi material. Marx melukiskan keterhubungan kondisi material kehidupan manusia dan ide-ide yang turut serta dengannya lewat kalimat “ it is not the consciousness of men, that determinies their being, but on the contrary their social being that determines their consciousness[6].

 

I. Sistem Kerja dan Teori Nilai Lebih

Pada mulanya, Marx membahas proses kerja, suatu kegiatan produksi nilai-pakai. Kerja adalah syarat eksistensi manusia yang abadi dan alamiah . marx menyatakan bahwa tujuan berproduksi adalah sebagian dari “sifat alamiah manusia” pada para pekerja menderita ‘penyimpangan’ di dalam sistem kapitalis, sebab tujuan kerjanya dipaksakan atas mereka. Kerja produksi mereka lebih merupakan bukan keinginan mereka sendiri[7]

Tenaga kerja yang telah dipergunakan sebagai kerja yang sesungguhnya, menciptakan nilai baru dan nilai lebih. Bagian dari kapital yang telah dikeluarkan lebuh dulu untuk membeli tenaga-kerja, bertambah besar nilainya selama dalam proses- produksi, sehingga Marx menamakan kapital variabel (berubah). Variabel di sini tidak ada hubungannya dengan perubahan-perubahan dari satu siklus (daur) produksi selanjutnya. Tahapan ini membahas apa yang terjadi pada nilai kapital pendahulunya selama satu kali proses-produksi.

Membahas waktu-kerja seorang pekerja, Marx membaginya menjadi dua bagian, dinyatakan dengan V dan S. Lamanya kerja di mana pekerja menghasilkan nilai baru adalah sama dengan apa yang ia terima sebagai nilai baru adalah sama dengan apa yang ia terima sebagai nilai dari tenaga kerja. Marx menamakan kerja-wajib (necessary-labour). Selebihnya ia namakan, kerja-lebih (surplus-labour). Jadi jelas bahwa rasio dari kerja-lebih dengan kerja, sama dengan s/v. Dan itulah rate dari teori nilai-lebih[8].

Menurut Marx terdapat aspek teori alienasi kerja. Aspek teori alienasi adalah alienasi dari produk. Hal ini sudah jelas sejak semula. Pekerja memproduksi sebuah objek, namun tidak berkuasa untuk menggunakan atau memiliki objek tersebut. Dalam pengertian ini, jika pekerja secara individual terpisah dari, atau teralienasi dari, produk tersebut. Sudah tentu observasi seperti ini amat dangkal dan gamblang. Hal ini menjadi menarik saat kita merenungkan kembali bagaimana kita kita telah menjadi begitu teralienasi secara kolektif dari produk yang kita buat sendiri. Dua konsep kuncinya adalah kebingungan dan dominasi[9].

Alienasi dari produk kita, adalah sebuah ide yang kaya dengan cabang-cabang pemikiran. Kategori berikutnya adalah alienasi di dalam aktivitas produksi. Ini berasal dari rincian pembagian kerja. Namun pembagian kerja yang dipermasalahkan di sini bukanlah memecah-mecahkan satu pekerjaan menjadi beberapa tugas yang lebih khusus, karena justru tugas-tugas yang sangat khusus ini lebih menantang dan dihargai. Yang dimaksudkan Marx disini adalah pembagian kerja kapitalis yang secara tipikal telah membawa pekerja pada degradasi keahlian, di mana setiap individu direduksi hanya pada satu tugas yang represif dan tidak perlu memakai otak, disertai memiliki sedikit pemahaman akan pemahaman akan posisi pekerjaan mereka bagi seluruh proses produksi. Mereka tidak berbeda dengan mesin, diprogram untuk membuat gerakan yang sama berulang-ulang.

 

II. Penggantian Pekerja Dengan Mesin Produksi

Banyaknya masalah yang dihadapi oleh kaum borjuis terhadap perusahaannya, seperti salah satunya adalah pengeluaran produksi yang lebih, upah pekerja. Dengan adanya masalah-masalah tersebut, perusahaan menjadi defisit anggaran. Salah satu solusi untuk menekan pengeluaran anggaran keuangan yang semakin mem-bludak adalah Pemutusan Hubungan kerja (PHK) atau pemecatan sebagian pekerjanya, serta mengganti para pekerja dengan mesin-mesin produksi. Penggantian para pekerja dengan mesin produksi memperhemat anggaran pengeluaran perusahaan untuk gaji para pekerja. Selain itu mesin produksi dalam membuat produknya (barang) lebih dinilai sangat efisien, dikarenakan dapat menghasilkannya lebih cepat, tanpa mengeluarkan anggaran dana untuk gaji pekerja, hanya terdapat pengeluaran perawatan mesin-mesin produksi, dan anggaran pokok dalam produksi barang yang dinilai lebih relatif murah.

Dalam terminologi Marxis, “komposisi organik modal” akan meningkat. Cara lain untuk mendeskripsikan hal ini adalah dengan mengatakan bahwa industri menjadi semakin bersifat modal-intensif: mereka memakai jumlah yang lebih besar untuk memperoleh volume komoditi yang lebih besar[10]. Dengan kata lain, mereka harus menghasilkan keuntungan dalam jumlah yang besar untuk menggantikan atau memperbaharui mesin-mesin produksi. Alhasil adalah kemiskinan yang besar terhadap mantan pekerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

[1] Diane Collinson, 2001, Lima Puluh Filsuf Dunia Yang Menggerakkan, Jakarta: Rajagrafindo Persada, hlm 161

[2] Ibid, hlm 162.

Ø Dalam Kamus Filsafat (Lorenz Bagus) Pikiran Individual Partikular adalah Anggota individual dari suatu kelompok yang kontras dengan ciri-ciri yang melukiskan anggota-anggota kelompok itu. Jika diinterpretasikan akan terjadi dikotomi-dikotomi pikiran subyek, maka kemungkinan yang terjadi adalah pertentangan dengan semua.

 

[3] Andi Muawiyah Ramly,2007,Peta Pemikiran Karl Marx (Materialisme Dialektis Dan Materialisme Historis), Yogyakarta: LKiS, hlm 130

[4] Ibid hlm 130-131.

Ø Prometheus- Prometheus (manusia-manusia) yang ditindas tindas, tetapi akan mengasai masa depan pengan perjuangan revolusi melalui seluruh aspek humanisme. Antara Prometheus- Prometheus dan Promethian Faustian akan ters

[5] Karl Marx, “ A Contribution to The Critical Economy” termuat dalam Select Work. Vol. I. (Moscow: Foreingn Languages Publishing House 1962), page 364

 

[6] Karl Marx and Frederick Engels, The German Ideology, (New York International Publisher, 1947), page 12-14.

[7] Anthony Brewer, 1999, Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx, Jakarta: Teplok Press, hlm 63

 

[8] Ibid hlm 68

[9] Jonathan Wolff,2004, Mengapa Masih Relevan Membaca Marx hari Ini?, Yogyakarta: Mata Angin, hlm 25

[10] Andre Gorz,2005, Anarki Kapitalisme, Yogyakarta: Resist Book, hlm 37

 

 

Standar

4 thoughts on “HISTORY’S MATERIALISM OF KARL MARX

  1. Halo Mas Kiki
    Salam Kenal, masih ingat saya????!!!!

    Memang berbeda antara Marx muda (idealis) dengan Marx tua (materialis).
    Yah, peradaban terbentuk bukan karena wahyu, ide besar, atau tokoh… menurut Marx simple saja — karena modus produksi (cara orang cari makan). Dari zaman primitif, feodal, ampek kapitalisme yang sekarang menghantui (tidak hanya Eropa tapi bumi ini).

    Marx juga tidak pernah mengeluarkan istilah materialisme historis setauku. tapi (kalo gak salah) “Materialism look out of the world” — cara pandang materialisme melihat dunia (kurang lebihnya begitu dah).

    Salam kenal yah. Sukses selalu buat Kiki!!!!!! trims.

    • assalamualakum….terimakasih mas Rozi, atas komentarnya dan masukannya. Dengan begitu, saya semakin giat menelaah terus kajian ini….sekali lagi terimakash…wassalamualikum..

  2. zamah sari berkata:

    hey ki.. ane jem’s boleh ya.. beri komentar seidikit!
    menambahkan komentarnya sdr. rozi, memang ada sisi kpribadian yang berbeda dari marx, marx muda berbeda dengan marx tua….
    Ali syaria’ti membagi sisi kehidupan marx dalam 3 fase:

    Pertama, Marx muda yang ateistik, pengembang materialisme dialektika, penolak eksistensi Tuhan, pengecam segala bentuk agama, dan juga Marx muda yang tak percaya kehidupan akhirat.

    Kedua, Marx dewasa , seorang ilmuwan sosial yang mengembangkan ilmu sosial , Marx dewasa yang mencoba mengatasi dan menelaah masalah –masalah kesenjangan sosial, melawan segala bentuk penindasan, memerangkap kaum borjuis, merancang sebuah suprastruktur negara.

    Dan ketiga, Marx tua yang seorang politisi, pembentuk partai revolusioner komunis, mengutamakan kerangka ideologi politis dan melupakan ideologi sosial. Menurut Ali Syariati pada tahap ketiga ini Marx telah mengutamakan egonya yang disebutnya ‘Marxisme vulgar’ dan mengaburkan ‘Marxisme ilmiah’ yang telah digagas sebelumnya oleh “Marx dewasa”.

  3. zamah sari berkata:

    sedikit tambahan lagi…dengan mengembangkan konsep materialismenya feurbach, marx mengkritisi dialektika idealismenya hegel dan menciptakan tandingannya yaitu dialektika materialisme, menurutnya segala sesuatu itu bukanlah berdasarkan pada ide tetapi yang benar adalah kembali berpangkal dari wujud materinya itu sendiri… inilah yang menguatkan prinsip materialismenya itu…
    lebih jelasnya ada di buku MADILOG karya Tan Malaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s