Analisis Politik

Nation And Character Building Bung Karno

Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan suatu manifesto politik Indonesia. Proklamasi adalah tekad baja yang mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu berdaulat dengan pemerintahan yang dipilih okeh bangsa Indonesia sendiri. Manisfesto politik ini didampingi oleh manifesto budaya , yaitu Bhineka Tunggal Ika. Dari sinilah Bung Karno meletakkan nation and character building sebagai langkah utama menyelengggarakan manifesto politik dan manifesto budaya bangsa kita ini.

Pembangunan nasional Indonesia yang dalam bahasa Bung Karno disebut sebagai pembangunan nasional Indonesia semesta berencana sebagai pembangunan rakyat, bangsa dan negara, baik dari tatanan nasional maupun mondia. Dengan kata lain adalah rakyat, bangsa, dan negaranya lah yang dibangun.
Pembangunan nasional adalah untuk mengisi manifesto politik dan manifesto budaya. Dengan demikian itu, maka pembangunan ekonomi haruslah ditujukan untuk mendukung pembangunan rakyat, bangsa, dan negara Pembangunan ekonomi nasional bukanlah demi kemajuan dan perkembangan ekonomi itu sendiri tanpa kaitannya dengan manifesto politik dan manifesto budaya yang sudah dikatakan di atas. Lebih tegas lagi pembangunan ekonomi bukanlah sekedar meningkatkan kadar pertumbuhan ekonomi itu sendiri, bukan sekedar meningkatkan nilai-tambah ekonomi, namun juga untuk meningkatkan nilai tambah sosio-kultural. Pembangunan ekonomi nasional Indonesia mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Pembangunan ekonomi harus mampu meningkatkan harkat dan martabat bangsa ini, melepaskan diri dari humiliasi sosio-kultural dan menempatkan anak bangsa tidak lagi sebagai kuli-kuli kaum kapitalis dengan segala ketertundukan dan ketergantungannya, lalu sekedar menjadi objek pembangunan, pembangunan ekonomi bukan hanya sekedar upaya pemberdayaan kaum marhaen, dan rakyat kecil lainnya. Yang ingin diupayakan bung Karno adalah kaum marhaen dan rakyat kecil lainnya memberdayakan diri mereka sendiri (self empowerment) sebagai tindak lanjut. Pembangunan ekonomi yang menghadirkan disempowerment dan marginalisasi terhadap rakyat, yang menumbuhkan alienasi dan rendah diri (self disempowerment), dan menumbuhkan disintegrasi bangsa.
Negara Indonesia memiliki wilayah strategis, yang diapit oleh dua benua, yaitu benua Asia dan benua Australia, serta diapit dua samudra, yaitu samudra Hindia, dan samudra Pasifik. Geopolitik strategis bagi negara Indonesia dalam bidang ekonomi. Yaitu memiliki wilayah kepulauan dalam teori archipelago adalah sebuah satu kesatuan utuh wilayah yang batas-batasnya ditentukan oleh laut, dan di dalamnya terdapat pulau-pulau serta gugusan pulau atau gugusan pulau dengan perairan di antaranya sbg kesatuan utuh, dengan unsur air sebagai penghubung.

Dalam peranan ekonomi, telah termaktub dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 sampai ayat 3 yang berinti sari bahwa ekonomi dibangun oleh masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama, walaupun dikuasai oleh negara, namun akan diperuntukkan oleh bangsa Indonesia sendiri.
Dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 sampai dengan ayat 3 memberikan penjelasan lebih untuk menciptakan negara kesejahteraan (welfare state). Terlihat bahwa karakteristik bangsa Indonesia adalah masyarakat sosialis dengan implementasinya adalah gotong royong dan musyawarah yang bermufakat. Ini adalah power of change dari bangsa Indonesia sendiri, jika rakyat menyadari kekuatan yang berasal dari individu melalui proses masyarakat, dan klimaksnya adalah bangsa Indonesia. Dengan demikian maka pembangunan ekonomi dapat berarti partisipasi dan emansipasi yang memperkokohkan kebersamaan (mutuality) dan rasa kekeluargaan (brotherhood). Pembangunan dari sektor ekonomi dapat juga membentuk sebuah transformasi pluralism menjadi satu kesatuan besar, yaitu kekuatan nasional. Perencanaan pembangunan ekonomi di pusat harus merangkum keanekaragaman local specifics dan menumbuhkan local geniuses, dan kontrol masyarakat dalam local wisdom.
Inilah sebuah nilai dari persatuan Indonesia yang merupakan suatu “social economicshe gepredestineerd” yang sering digembor-gemborkan oleh founding father dalam karyanya yang berjudul “ Kepada Bangsaku” (1947) kita dengan prinsip berdikari (Berdiri Di atas Kaki Sendiri) yang sangat anti dengan kapitalisme dan segala anak-cucu dari kapitalisme. Semoga dengan prinsip yang disampaikan oleh Bung Karno dapat diimplementasikan hingga akhir zaman, dan Indonesia bangkit dari keterpurukan.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s