Islamic Article

ISLAM SASAK: KEARIFAN LOKAL DALAM AGAMA, BUDAYA, DAN ALAM

Negara Indonesia merupakan negara yang multikultur dan pluralisme, dengan berbagai macam dimensi-dimensi sosial yang kompleks, baik dari agama, budaya, bahasa, dll. Agama Islam pertama kali datang di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) di mulai dari Kabupaten Lombok Utara, tepatnya daerah Bayan. Agama Islam ketika itu memiliki akulturasi dengan agama Hindu. Persamaan corak ikat kepala nampak dalam agama Hindu Bali menggunakan udeng namun Islam Sasak di Bayan menggunakan sapu’. Dalam ritual keagamaan pun ada sedikit kemiripan seperti adanya Samadhi (semedi). Dalam ritual Samadhi umat Hindu di Pure, sedangkan Islam Samadhi di Inan Bale ( ruangan segi empat, yang di letakkan di tengah-tengah dalam rumah dan bertingkat dengan menggunakan anak tangga). Dalam kajian kosmologi Islam Sasak memiliki filosofi Wetu Telu. Wetu telu ini adalah adalah substansi dari nilai-nilai filosofis, yang diyakini oleh penulis memiliki nilai-nilai local wisdom dan local genius.

Sejarah Islam Sasak Di Bayan, berdasarkan penuturan Bapak Rianom (Pemangku Adat Desa Karang Bajo, Aktivis AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Desa ini awalnya Bayan, ketika Karang Bajo dalam pemekaran. Nama desa ini diambil berdasarkan nama dusun tradisional Karang Bajo. Karang Bajo mempunyai arti dari terminologi, yaitu Karang yang berarti pekarangan atau halaman, sedangkan Bajo adalah nama sebuah suku yang membangun daerah Bayan dan Desa Karang Bajo ini berdiri karena sebuah masjid rakyat Bajo. Di Karang Bajo memiliki aturan-aturan hukum adat yang tinggi dan harus ditaati, jika tidak ditaati akan mendapatkan bencana. Jika bertamu, biasanya masyarakat adat menerimanya di Beruga. Beruga adalah sebuah pendopo/gazebo, yang memiliki enam buah tiang penyangga, dan atap yang terbuat dari jerami. Agama-agama yang terdapat di pulau Lombok dahulunya adalah Hindu, Animisme (agama kepercayaan terhadap roh-roh), dan Dinamisme (agama kepercayaan terhadap benda-benda ber-tuah, yang memiliki kekuatan magi) Dalam sejarahnya perkembangan ajaran agama Islam di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), ajaran agama Islam mulai menyebar pertama kali di Bayan. Sunan Prapan yang pertama kali menyebarkan agama Islam, dengan ajaran Waktu Lima (ibadah solat fardhu lima waktu). Dan membentuk komunitas keagamaan kecil dengan Waktu Lima. Tetapi ketika sepeninggalan Sunan Prapen. Sunan Prapen adalah cucu dari Sunan Giri dari Demak, dan adanya intervensi dari agama Hindu yang ketika itu dipegang oleh Kerajaan Anak Agung, maka dari itu Kerajaan Anak Agung menginvasi komunitas Suku Bajo ini karena ketakutan eksistensi dari agama Hindu pudar, bahkan hancur. “barang siapa yang melakukan ibadah solat, dan ibadah agama Islam, maka tak segan-segan prajurit Kerajaan Anak Agung untuk membunuh”. Ketika itu sudah banyak kiayi yang dibunuh akibat menyebarkan syiar agama Islam. Pada akhirnya para kiayi sepakat untuk Wektu Telu (Solat fardhu tiga) yaitu solat subuh, solat magrib dan solat isya. Jikalau mereka ketahuan solat di siang hari oleh Kerajaan Anak Agung, maka akan dibunuh. Maka dari itu Solat zuhur, dan ashar, mereka mengganti dengan sembahyang kepada leluhur, (ibadah agama animisme dan dinamisme) yang bertempat di Inan Bale. Inan Bale adalah sebuah tempat yang terdapat di dalam rumah, yang berbentuk seperti dipan yang tinggi menggunakan tangga dari kayu untuk menaikinya. Dari sinilah mulai adanya akulturasi antara Islam, Hindu, animisme dan dinamisme, atau lebih spesifiknya sinkretisme agama.

Sejarah masuknya Islam di Bayan ini terdapat dalam lontar petung Bayan, yang masih dirahasiakan dan tidak boleh diketahui oleh masyarat umum, maupun oleh keturunan Bayan sendiri, hanya keturunan tertentu yang boleh mengetahuinya, yaitu keturunan Raden Pemangku,dan keturunan pejabat adat. B. Antara Tasawuf, Budaya, Dan Alam Masyarakat suku Bajo Bayan memiliki filosofi yang sering disebut dengan Wetu Telu. Makna dari kata Wetu adalah Keluar, sedangkan Telu adalah Tiga. Jadi Wetu Telu adalah Keluarnya tiga Filosofi kehidupan suku Bajo, yaitu Beranak (diperuntukkan manusia, dan hewan mamalia), Bertelur (diperuntukkan unggas dan ikan) dan Tumbuh ( diperuntukkan tumbuh-tumbuhan). Wetu Telu juga mempunyai tiga fase dari kehidupan makhluk hidup, yaitu fase pertama kelahiran, fase kedua adalah kehidupan, fase ketiga adalah kematian. Ketiga fase ini memiliki pola hubungan yang sama, dan setiap individu manusia memiliki perbedaan dinamika kehidupan yang berbeda. Khususnya manusia yang diberikan akal dan pikiran oleh Allah SWT akan mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukannya selama hidup Dari ketiga makna ini mempunyai arti bahwa manusia merupakan satu kesatuan dari alam, yang tersirat dari filsafat kosmologi kehidupan dan budaya. Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ajaran teologi pantheisme antara Allah SWT sebagai Tuhan (pencipta), dan adanya proses penciptaan (waktu) dan makhluk hidup sebagai hasil proses penciptaan.

Ketiga dinamika kosmologis dari ajaran teologi Islam ini mendeskripsikan bahwa makhluk hidup bukanlah satu-satunya yang mempunyai eksistensi, tetapi Allah lebih mempunyai eksistensi. Dalam tradisi pemikiran ketuhanan, dikenal dua metode yang paling mendasar. Pertama, refleksi manusia terhadap alam semesta melalui hukum alam dan menjurus kepada teologi kealaman. Kedua merupakan penyingkapan Tuhan melalui turunnya wahyu. Menurut penuturan Raden Jambianom, salah satu keturunan Raden yang Penulis temui menuturkan bahwa, ajaran Sunan Prapen yang merupakan keturunan Sunan Giri, pernah belajar agama, khususnya tasawwuf dan menjadi murid dari Syekh Siti Jenar dengan ajarannya “Manunggal Ing Kawulo lan Gusti”. Filsafat kehidupan suku Bajo di Bayan menilai antara kebudayaan dan Agama Islam mempunyai korelasi inklusif. Tidak adanya perbedaan, antara kebudayaan dan Agama Islam, semua itu disingkronisasi oleh peradaban. Kebudayaan merupakan keseluruhan dari hasil budidaya manusia baik cipta, karsa dan rasa. Kebudayaan berwujud gagasan/ide, perilaku/ aktivitas dan benda-benda. Sedangkan peradaban adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah dan maju. Rumah tinggal suku Bajo asli terbuat dari bahan alamiah, tidak ada satu bahanpun dari produk modernisasi, dimulai dari atapnya yang terbuat dari terbuat dari anyaman jerami-jerami yang dibanjarkan dan dijadikan sebagai atap/ genting. Tembok yang terbuat dari anyaman bambu, dan berlantaikan tanah. Rumah adat harus menghadap ke timur dan ke barat, dan pamali jika menghadap utara Semua itu mengandung makna menyatu dengan alam. Gunung Rinjani merupakan kiblat adat. Suku Bajo atau penduduk Bayan asli memiliki empat wilayah pemerintahan adat, yaitu wilayah Karang Bajo, yang meliputi dusun Lokok Aur,dusun Ancak Timur, dusun Ancak Barat, dan dusun Karang Bajo sendiri. Kemudian wilayah yang kedua adalah Bayan Timur, Bayan Barat dan Senaru, dan yang terakhir adalah Loloan. Dalam sistem birokrasi suku Bajo bukanlah merupakan kerajaan, tetapi merupakan sebuah sistem kedatukan. Inilah yang diungkapkan oleh Kiayi Santri yang bernama Kasianom. Jadi setiap orang boleh menjadi Amaq Lokaq ( pemimpin adat) bisa keturunan Amaq Lokaq yang pernah memimpin, jikalau Amaq Lokaq yang sebelumnya tidak memiliki anak laki-laki atau adik laki-laki atau garis keturuanannya berjenis kelamin laki-laki, maka para pemirintah adat melakukan gundem (musyawarah) untuk memilih calon Amaq Lokaq yang baru, begitupula dengan pemerintahan adat yang lainnya

Tulisan ini dari resume dari hasil penelitian pada tanggal 4 Juli- 28 Agustus 2009, Nusa tenggara Barat, Lombok Utara. Ahmad Sidqi

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s