Analisis Politik, Islamic Article

H. Misbach; Kiayi Berpangkat ”Palu Arit” Ala Rosululloh

Haji Misbach adalah salah satu sosok kiayi yang berbeda dengan para kiayi lainnya. Haji Misbach dilahirkan dari keturunan ningrat kartosuro. Beliau lahir pada tahun 1870-an, ketika Belanda sudah melancarkan aksi imperialismenya. Ketika muda beliau menjadi aktivis Sarekat Islam (SI). Haji Misbach hidup dalam keluarga yang taat beragama Islam. Beliau menafsirkan gerakan politik Islam ala Rosululloh adalah dengan kedekatannya dengan rakyat miskin atau (kaum fuqoro wal masakin). Gerakan sosialisme harus digabungkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membela kaum yang lemah.

Gerakan Sosialis yang dibangunnya dinilai sebagai ijtihad melawan imperialisme. Pemikirannya tersebut menggabungkan antara dualisme ideologi yang besar, yaitu Komunisme dan Islamisme. Tafsir komunisme yang digunakan oleh Haji Misbach adalah historis materialisme sebagai pisau menganalisis gejala-gejala kemiskinan di Indonesia. Al hasil, Haji Misbach menemukan jawabannya, yaitu Imperialisme. Imperialisme yang dimaksud Haji Misbach adalah tentang hukum-hukum kemanusiaan dan hukum ekonomi. Beliau mengutip pemikiran Karl Marx dalam Das Capital I, tentang teori nilai lebih dan hak-hak buruh dan pertukaran uang yang dinilai menguntungkan kaum pemodal.

Haji Misbach kemudian mendalami makna dalam ajaran Sosialisme Islam yang diterapkan Rosulolloh. Melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengatakan:

130. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al-Imron 130)

Yang dimaksud Riba di sini ialah Riba nasi’ah. menurut sebagian besar ulama bahwa Riba nasi’ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.

276. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (Al Baqoroh:276)

Yang dimaksud dengan memusnahkan Riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.

Maksudnya ialah orang-orang yang menghalalkan Riba dan tetap melakukannya.

Bagi Haji Misbach, riba dinilai sebagai alat memperkaya pemodal, yaitu imperialis. Sebagai gerakan politik “rakyat”, Haji Misbach menyusun kekuatan untuk mengganyang kaum imperialis bersama-sama dengan Tan Malaka membuat gerakan “Turba” (Turun Kebawah). Gerakan ini adalah sebuah otokritik terhadap gerakan Islam yang dinilai feodal.  Iniah yang membedakannya dengan kiayi-kiayi yang lain, yaitu prinsip Keadilan Sesama Manusia.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s