Islamic Article

Ketika Mengkritik Syariah

Hari ini diisi dengan kuliah di kelas dan main ke perpustakaan filsafat UGM. Ada yang menarik ketika masuk dalam perpustakaan. Kucari refensi-referensi untuk tesisku. Hasilnya, aku mendapatkan satu buku yang sangat menarik. Buku yang pinjam itu berjudul “Freedom of Religion in Shari’ah: A Comparative Analysis”. karya Abm. Mahbubul Islam, Ph.D. Penulis buku ini adalah seorang teolog, cendekiawan tafsir agama-agama Ibrahim Buku ini yang dicetak oleh Universitas Islam Internasional Malaysia pada tahun 2002.

Menariknya membaca buku ini adalah ketika mempertanyakan manusia dan eksistensinya dan eksistensi Tuhan. Memang Mahbabul menggunakan metodologi Islam dalam menafsirkan kebebasan manusia. Namun beliau tidak serta merta ‘letterlijk’ dalam memahami Tafsir Al Quran dan Hadist untuk memahami kebebasan. Tesis ini dia pertahankan dengan pernyataan; ” In absence of such freedom one cannot be trully religious in it its real sense”.

 

Pendekatan historis agama Ibrani (Yahudi, Nasrani, dan Islam) menjadi akar utama dalam menganalisis gejala-gejala teologi. Teologi dalam agama-agama tersebut ditinjau dari ”siapa yang menyampaikan”. Yah, tentu saja utusan Ilahi yang memberikan pencerahan dan menyampaikan jalan kebenaran, Nabi Musa A.S. Dalam agama- agama tersebut ada tentu ada motifnya tersendiri. Seperti agama Yahudi datang untuk membebaskan budak-budak dari kezaliman Fir’aun. Dan menyerukan ”Satu Tuhan”. Kedua, Agama Nasrani yang hadir dan disampaikan oleh Nabi Isa A.S juga dengan mengumandangkan ”Satu Tuhan”. Walaupun Nabi Isa A.S memiliki darah Yahudi, namun ia mengkritik keras atas sikap orang-orang Yahudi yang tidak sesuai dengan jalan Yahudi-nya. Umat Yahudi cenderung hidup pada kemewahan dan terjebak pada keduniawian (materialisme).Artinya, Nabi Isa meluruskan kepada umat manusia untuk ke jalan akhirat (romantisme). Dan agama yang terakhir adalah Islam. Islam yang hadir dan disampaikan oleh Nabi Muhammad S.A.W memiliki nilai ’equality’ antara agama Yahudi dan agama Nasrani. Kondisi sosialnya pun hampir sama dengan agama-agama dahulu.

Motif, Kuasa, dan Kekuasaan

 

Membahas agama-agama Ibrani dapat ditinjau pada sistem-sistem nila ’religious ethic’ dalam keselarasan hidup. Namun tidak pada kenyataannya. Agama Yahudi memandang kuasa Tuhan ditentukan pada ”Tanah Yang Dijanjikan (Al Quds)” sebagai tempat perdamaian, akhirnya muncullah ideologi ’freemansory’. Kenyataan ini mampu diverifikasi dalam realitas konflik agama antara Islam dan Yahudi, antara negara Palestina dan Israel. Kedua agama tersebut mengklaim, bahwa ”tanah itu adalah hak kami”. Logikanya, mengapa tidak hidup secara berdampingan saja tanpa ada motif-motif agama. Toh kenyataannya ketika mati tak meninggalkan sesuatu.Kenyataan yang sama ketika kasus konflik antara Islam dan Kristen dalam perang salib.

Ada pertanyaan yang menggelitik di benakku, mengapa motif kehidupan yang diatur dalam yurisprudensi agama (hukum agama) menjadi landasan yang utama dalam hidup? Bukan lagi ’spirit’ keagamaan, yakni nilai-nilai Ketuhanan yang dimuat dari sifat-sifat Tuhan. Diantaranya, kasih sayang, kebajikan. Tatanan tersebut ternyata dilupakan oleh umat-umat agama. Motif kuasa, dan kekuasaan untuk menguasai seluruh manusia sehingga menghilangkan kebebasan untuk memeluk, menjalani dan meyelami ’spirit’ keagamaan tersebut. Hal inilah yang diserukan oleh para pluralis di dunia.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s