analisis filsafat, Islamic Article

ANTARA PEMIKIR DAN JURU DAKWAH

*Surat Untuk Ayahanda

Seorang pengajar ahli ilmu kalam, teolog, juru dakwah dan penganut ideologi tertentu secara umum memiliki kemampuan untuk mengatur, memaparkan pandangannya, menyusun, dan menulis, atau menyembunyikan serta mengurangi atau memperbaiki suatu karya.Singkatnya, untuk menyesuaikan makna yang bertentangan dengan cerai-berai di bawah serangkaian kenyataan dan dari akselerasi ledakan peristiwa dan manifestasi kebenaran.

Sedangkan seorang pemikir, khususnya filosof, memiliki kemampuan menurut apa yang saya pahami dan definisi filsafat yang dipahami oleh sebagian filosof saat ini bertentangan dengan faham tersebut. Ia menganalisa dan mengungkapkan sesuatu, menggali dan meneliti, menguak misteri seluas-luasnya dan membongkarnya. Singkatnya, filosof mengungkapkan segala hal yang menjadi unsur-unsur historis, fundamental, otoritatif di balik suatu yang bersifat fisik, normatif, saintifik, atau menerangkan kriteria-kriteria yang bersifat rasional, proyek dan adil dari sesuatu yang irrasional, disproyektif atau dan tidak adil. Kemampuannya adalah mengungkapkan suatu makna yang tersembunyi dari sesuatu yang tidak bermakna.

Memang pemikir bersandar pada penyusunan dan penulisan. Ia melahirkan suatu sistem holistik yang dapat menafsirkan segala hal dan meletakkan dasar suatu aliran yang diadopsi dari sumber asli dan ajaran-ajaran yang dapat dipelajari dan ditanggkap. Namun demikian, yang dikhawatirkan adalah bahwa dirinya dan pengikut yang berada di belakangnya dapat mengubah hasil pemikirannya menjadi kepercayaan doktriner – dogmatis. Ini akan merubah substansinya dan menyimpang dari urgensi utamanya, yakni pembahasan, penelitian dam pengungkapan dengan format yang konsisten. Elemen yang paling penting dan menjadi prioritas utamanya bukanlah pemikiran itu sendiri, akan tetapi potensi pemikiran keterbukaannya untuk membuka cakrawakala baru.

Kritik terhadap pemikiran itu sendiri pada awalnya menawarkan penegasan untuk menghentikan cara memperlakukan teks sebagai sumber asli yang menafikan sesuatu yang pernah ada di masa lalu dan meletakkan dasar-dasar untuk sesuatu yang akan lahir kemudian. Teks yang memegang otoritas sumber asli dan peletak dasar fundamental hanya dapat membuka sesuatu sejauh ketertutupannya atau sejauh ungkapan yang dinyatakan oleh pencetusnya, berupa bukti yang pernah ada sebelumnya dan kepuasan-kepuasan non emosional yang terungkap secara spontanitas tanpa melalui proses berpikir.

Bertolak dari konsep kritis tentang lahirnya kritik, ada contoh tentang seruan untuk mengkritisi pemikiran salaf. Seperti kritik yang kita ketahui bahwa sebagian dari kita tentang kebenaran abadi konsep salaf . Konsep tersebut terdapat dalam wilayah yang akan menjadi sasaran kritik karena menutupi perdebatan fundamental tentang salaf dan keyakinan dogmatis yang akan diungkap oleh segala upaya pemikiran. Konsep yang dapat dipetik dari keabsahan rasionalitas yang saya katakan adalah tentang filologi. Tujuan filologi sebenarnya adalah menjelaskan kepada kita bahwa setiap wacana menggunakan teknik-teknik rasional dalam menjelaskan dan menyatakan argumentasinya tentang berbagai konsep yang dihasilkannya atau cara-cara irasional untuk menutup-nutupi dan melakukan penipuan.

Apa yang saya utarakan tadi, yang menjadi tuntunan bukanlah kritik terhadap berbagai aktivitas  dan orientasi pemikiran lama sesuai dengan kritik terhadap kebiasaan emosional, struktur pemikiran dan kepuasan rasional yang kita miliki. Namun yang paling penting adalah bahwa kritik terhadap aktivitas pemikiran haruslah seimbang dengan kritik terhadap konsep kita tentang nalar dan teks. Urgensi seorang pemikir adalah meluruskan segi-segi internal kepercayaan. Ini berbeda dengan juru dakwah yang berposisi di antara jati diri dan pemikirannya tentang persoalan-persoalan yang tersembunyi, atau wilayah pemikiran yang berada di luar konteks pemikirannya yang memerangi doktrin teologis, baik yang berada  di dalam dirinya maupun di luar dirinya. Dengan bersumberkan berbagai ungkapan, pemikiran dan persinggungan dengan banyak teks sebagai otoritas pengetahuan absolut yang tidak boleh disandarkan kepada kriteria-kriteria tertentu.

Semoga Ayah Faham

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s