mahasiswa

VIRUS PLAGIARISME TULISAN

Perkembangan teknologi dan globalisasi tidak hanya memberikan dampak positif bagi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak negatif. Dalam bidang pendidikan, kasus plagiarisme kerap terjadi di dunia maya. Plagiarisme adalah salah satunya di antara kasus-kasus yang lainnya.

Plagiarisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penjiplakan yang melanggar hak cipta. Penjiplakan ini didasarkan mengklaim karya / hak cipta milik orang lain menjadi hak milik pribadi. Kasus plagiarisme sudah biasa dilakukan oleh oknum yang tidak berkepentingan dalam menjiplak. Dalam bidang jurnalistik dan pendidikan sering sekali dilakukan. Anehnya, ketiadaan sangsi berat yang dikalukan oknum plagiat membuat mereka bebas. Secara hukum formal sangsi ini sudah diterapkan dalam undang-undang yang berbunyi “Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002)”.

Dalam media jurnalistik dan pendidikan, kasus plagiat menjalar juga dalam bidang karya ilmiah, laporan, artikel, dll. Sangsi ini dianggap kurang tegas dalam memberikan sangsi. Ketiadaan etika jurnalistik menjadi alasan utama. Para plagiat tidak mencantumkan nama penulis/ data penulis, dan sumber yang jelas untuk menukil tulisan. Untuk itu perlu peran penting kita serta pemahaman dalam legalitas hukum serta etika jurnalistik. Plagirisme Mewabah Ke Bidang Pendidikan Penulis sedikit menceritakan pengalamanannya dipalgiat oleh salah-satu pewarta kampus (online) dalam situs http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/05/pancasila-sebagai-sistem-demokrasi-di-indonesia/. Tulisan yang berjudul ” Pancasila Sebagai Sistem Demokrasi Indonesia ” tersebut adalah karya penulis yang dimuat dalam situs penulis https://ahmadsidqi.wordpress.com/2008/09/08/pancasila-sebagai-sistem-demokrasi-di-indonesia/. Penulisan tanpa kejelasan dan informasi untuk meminta dimuat dalam warta kampus Gunadarma tidak menyebutkan identitas penulis atau menaut (tautan) dalam situs penulis.

Virus yang mewabah dalam media kampus terebut tidak layak dikatakan sebagai seorang intelektual. Seorang intelektual itu menghasilkan karya sendiri dengan kreativitas dan dedikasinya untuk masyarakat. Apalagi kampus yang mencetak kaum intelektual, yaitu mahasiswa sebagai ’agen of change’ Agen intelektual yang merubah bangsa menjadi lebih baik. Namun bila salah agen of change tersebut menjiplak karya orang lain, apakah disebut dengan agen perubahan? Pengaruh instanisasi dalam penulisan jelas merugikan penulis yang mengeluarkan karya pikirnya.

Tiada lagi sebuah etika jurnalistik dan keberadaban sikap inteletual. Justru yang ada adalah pembodohan semata. Yang dirugikan tidak serta merta penulis, tetapi juga tercemarnya nama baik kampus tersebut. Kesadaran untuk menghargai karya orang lain itulah yang dinamakan masyarakat intektual. Semoga para plagiarias taubat.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s