analisis filsafat, Islamic Article

METAFISIKA BERGANTUNG; AYATOLLAH MUHAMMAD BAQIR AS-SHADR

Diskursus mengenai metafisika merupakan hal yang sangat menarik dalam filsafat. Metafisika menjadi senjata utama untuk mengatasi hal-hal yang substansial dan esensial. Membaca pemikiran Ayatollah Muhammad Baqir As- Shadr, khususnya dalam metafisika memberikan ruang inspirasi terbaru bagiku. Baqir mempu memposisikan antara metafisika dengan ajaran Agama Islam. Setelah membaca masterpiece Baqir, serasa menemukan titik temu dalam kejenuhan metafisika Barat yang diasumsikan sebagai priority source (sumber prioritas). Memang diakui di kancah sejarah dunia, bahwa tradisi filsafat yang kental dan mampu menjembatani relasi antara ajaran Islam dan tradisi keilmuan Barat dipegang oleh Persia. Salah satu bagian teritorial Persia adalah negara Irak (Baghdad). Dan Baqir adalah sesesok yang mereformulasikan filsafat dan menjadi sistematis.

Baqir  yang memiliki latar belakang bidang ekonomi, sosial dan politik, dan juga teologi. Keilmuan yang multidisipliner ini mengukuhkan seorang Baqir menjadi seorang filosof Iraq. Baqir menuangkan banyak tulisan dalam karya-karya yang monumental, termasuk karya Falsafatuna yang akan saya jabarkan nanti. Falsafatuna, merupakan kitab rujukan bagi penggiat filsafat. Baqir memberikan penjelasan yang amat panjang, tidak jarang beliau mengkritik tajam filsafat.

Metafisika Bergantung yang menjadi topik tulisan ini adalah kesimpulan yang saya dapatkan  ketika membaca karya Falsafatuna beliau. Baqir sangat terinspirasi oleh kaum sofis (filosof pramodern), terutama dengan Plato, yang memberikan gagasan tentang “Idea-Jiwa- Alam” Tiga konstruksi pemikiran Plato kemudian ditelaah kembali oleh Baqir melalui pisau literatur kitab suci (Al Quran). Baqir pun mengawinkan antara pemikiran Plato dengan apa yang termaktub dalam kitab suci.

Kritik konstruktif dalam memandang pemikiran Plato yang dikembangkan Baqir dalam permasalahan metafisika menjadi tiga bagian, yakni (1) konsepsi tentang wujud (ada) atau unitas, (2) konsepsi majemuk, (3) konsepsi kombinasi anatara wujud dan majemuk.

Dari kritik konstruktif tersebut ditemukan tujuan, yakni mengetahui sumber  hakiki unit-unit tersebut dan sebab timbulnya konsepsi-konsepsi sederhana dalam persepsi manusia. Ada indikasi bahwa Begitulah apa yang diharapkan Baqir. Nah, kerangka teori ini juga diperkuat dengan sintesis yang dalam. Baqir merelasikan antara pandangan teori rasionalisme dengan pandangan teori empirisisme. Baqir tidak menolak kedua teori tersebut, bahkan kedua teori tersebut tidak bisa dilepaskan antara satu dengan yang lain. Kedua teori tersebut saling mendukung.

Perdamaian antara teori rasionalisme dan teori empirisisme ini bagi Baqir sebagai At-Tasawwur (konsepsi) dan At-Tashdiq (Pembenaran). At-Tasawwur berpedoman pada wacana, teks, yang diasumsikan pada hal “proses” dan kekuatan dalam analisa hukum sebab-akibat (kausalitas). Wacana hukum kausalitas dipandang dalam sejarah antara idealisme (Hegel) dengan materialisme (Marx). Wacana ini menggugurkan pandangan Hegel. Marx menganggap materi ada ‘eksis’ barulah adanya ‘idea’ kesadaran (vernunt). Baqir condong meluruskan keduanya tentang makna ‘ada’ dengan tuntunan Al Quran yang menceritakan Tuhan telah meniupkan ruh manusia dari 40 hari usia kandungan. Tuhan bagi Baqir adalah ‘idea’ Tertinggi yang memberikan sebahagian ideanya, (dalam hal ini ruh) kepada calon manusia.

Kedua, mengenai At Tashdiq (pembenaran). At-Tashdiq yang dikumandangkan Baqir adalah sebuah bentuk teori empirisme. Empirisme bagi Baqir adalah salah satu metode pencarian kebenaran. Baqir meninjau pada pemikiran John Locke, David Hume, dan Berkeley. Namun yang dititik tekankan pada kelemahan teori empirisisme adalah ketika memverifikasinya yang dianggap suatu kebenaran mutlak. Bahkan kebenaran yang terideologi oleh konstruksi para kaum empiris.

Terakhir, Baqir meninjau kembali pemikiran dari Immmanuel Kant “Das Ding An Sich” dalam karyanya yang berjudul Critique of Pure Reason. Baqir memberikan jalan tengan dengan sikap tesis yang amat menarik, Kuasa Ilahiyah.  Nafas pemikiran Baqir tersebut memang cenderung mengadopsi Kant, tapi dengan bahasa ‘Islami’ agar diterima oleh Muslim.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s