analisis filsafat

Mempertemukan Eksistensi Manusia dan Tuhan

” Kita harus mampu melihat Tuhan dalam segala sesuatu. Kita mesti bisa melihat segala sesuatu dalam Tuhan “. Kalimat pertama berarti bahwa dalam memahami sebuah fenomena positif manusia harus memahami sebab-sebab ketuhanannya. Ia tidak boleh berhenti hanya pada dataran penampakannya saja. Ia harus melihat yang prinsip dalam manifestasi, bentuk dasar yang asli dari bentuk yang sementara. Selain yang aksidental, penting pula untuk bisa melihat yang esensial dalam segala sesuatu.

Kalimat kedua berhubungan dengan subjek yang memahami, bukan kepada objek yang dipahami. Ini berarti bahwa manusia harus mampu melihat segala sesuatu sesuai dengan semangat penciptanya, bukan dengan pandangan yang dangkal, profane (melanggar kesucian agama) dan tidak sakral dari jiwa yang kasar. Seorang manusia mulia pasti merasa butuh untuk memuji, memuliakan dan menyembah. Sebaliknya seorang manusia yang buruk cenderung meremehkan, mengolok-olok, persis seperti cara setan melihat segala sesuatu. Memuji kejahatan adalah kejelekan. Memandang rendah kejahatan adalah wajar adanya dan patut dipuji. Kebenaran harus dinomorsatukan. Keunggulan kebenaran jelas mengimplikasikan bahwa kebenaran esensial mendahului kebenaran yang sekunder, yang absolut mendahului yang relatif. Definisi manusia yang bercorak keabadian lebih dulu dibanding definisi manusia yang bercorak duniawi.

Jika disatu sisi kita harus menyadari yang ideal yang dimulai dari Tuhan dengan sarana kebenaran dan jalan keimanan, disisi lain kita harus membuat upaya yang dimulai dari manusia melalui cara kita memandang manifestasi Tuhan, yaitu dunia. “ Sampai yang murni, karena segala sesuatu itu murni”, “Sampai yang tidak murni karena segala sesuatu itu tidak murni.” Mampu melihat yang esensial dalam yang sementara atau dalam yang aksidental berarti mampu melihat segala sesuatu seolah-olah kita ada dalam Tuhan. Dengan demikian ia tidak melihat sesuatu yang lain selain Dia. Mampu melihat segala sesuatu dengan mata esensial yang membawa yang aksidental kepada inti dasarnya itu berarti seakan-akan Tuhan berada dalam diri kita sehingga kita tidak lagi melihat kecuali melalui Dia. Dan kalau cara kehadiran Tuhan itu sesuai dengan pandangan realistis metafisik mengenai dunia dan kehidupan, pandangan ini pada giliranya akan membuka jalan menuju Kehadiran Tuhan yang membebaakan, yang walaupun mungkin terasa jauh tetapi pada dasarnya ia ada dalam diri kita.

 

“Something exist, therefore God exist” : Inti segala argumen

Inti segala arguman ketuhanan, menurut H.de Lubac, dapat dirumuskan secara sederhana yakni,“something exist, ergo God exist”. Sesuatu ber-“ada”, jadi Tuhan ada. Argumen yang sederhana ini dapat aku kenakan pada diriku sendiri. Aku memang ada, namun aku tidak mutlak ber-“ada”. Aku adalah suatu “ens contingens” yaitu aku berada, namun dapat juga tidak berada. Aku suatu “ada”, tetapi bukan ada yang mutlak, maka untuk menemukan dasar keberadaanku aku harus keluar dari diriku. Mungkin aku menjawab,”aku ber-‘ada’ karena dilahirkan oleh orang tuaku”. Namun, mereka pun tidak punya dasar yang cukup pada diri mereka sendiri, maka aku harus meneruskan ke alamat berikut. Jawaban yang sama terulang kembali, “Aku memang ‘ada’, tetapi dasar keberadaanku bukan pada diriku sendiri”. Aku tidak menemukan dasar yang cukup dengan suatu rangkaian “ada” meskipun jumlahnya sampai tak terhingga selama masing-masing “ada” (mata rantai) tidak punya dasar yang cukup. Sejuta kali rangkaian pun “ tidak cukup”, tetap hasilnya “tidak cukup”. Satu juta kali nol hasilnya tetap nol. Rangkaian itu seluruhnya tetap tanpa dasar yang cukup. Untuk menemukan dasar yang cukup perlu beranjak kepada “ada” yang bertransendensi terhadap segala “ada”. “ada” itu mutlak ada, ioa bertransendensi terhadap segala “ada” dan tidak termasuk dalam rangkaian meskipun jumlahnya tak terhingga karena masing-masing mata rantai itu tidak mempunyai dasar yang cukup pada dirinya sendiri “ada” yang transenden itu imanen karena hadir dalam segala “ada” sebagai “dasar yang cukup”  dan merupakan “ the ground of all being”. Mencari lagi “dasar yang cukup” tak masuk akal karena “ada” itu identik dengan dasarnya. Ia ada dan tidak mungkin tidak ada transenden sekaligus imanen. Itulah tuhan.

 

Tentang Masa Lampau dan Masa Depan

Manusia adalah makhluk temporal (temporality). Sikap terhadap masa lampau dan masa depan berbeda-beda Masa lampau hadir dalam “sekarang” sebagai faktisitas. Masa depan hadir dalam sekarang sebagai proyek. Orang disebut konservatif kalau penilaiannya terhadap masa lampau berlebihan, sedangkan sikap terhadap masa depan negatif. Orang disebut revolusioner bila penilaiannya negatif terhadap masa lampau, dan melebih-lebihkan masa depan. Ada juga orang yang sikapnya negatif terhadap masa lampau dan masa depan. Mereka hidup dalam masa sekarang. Hal itu diakibatkan oleh penghayatan yang berbeda-beda. Ada orang yang menghayati saat sekarang sebagai “penuh” (nikmatilah saat sekarang, oportunis). Ada juga yang menghayati saat sekarang sebagai “kosong”. Orang itu seolah-olah sudah mati, tidak bergerak, dan merasa bosan. Sikap yang seharusnya terjadi adalah bersikap positif terhadap masa lampau dan masa depan. Masa lampau sebagai faktisitas mengandung kemungkinan hari esok.

 

Tentang Masa Lalu, Masa Sekarang dan Masa Depan (Temporality)

Tanpa keberadaan manusia tidak akan ada waktu. Manusia mempunyai unsur hakiki untuk pengertian waktu. Waktu terdiri dari 3 unsur yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Waktu yang sungguh ada yaitu “sekarang”, tetapi tidak ada sekarang tanpa masa lampau dan tidak ada sekarang tanpa masa mendatang. “Sekarang” hanya dapat dimengrti karena ada yang “sebelum”-nya dan yang “sesudah”-nya. Luijpen mengatakan:

Present, past and future cannot be understood without one another…There is no present without intrinsic reference to the past and the future. The past and the future, therefore, are present. Time is the synthesis of present, past and future.

Maka, jelas bahwa waktu baru menjadi waktu berkat kehadiran manusia sebagai subjek. Hanya manusia lah yang hadir didalam yang sekarang dimana yang sebelum dan yang sesudahnya bersatu. Hakl ini dimungkinkan dengan adanya kesadaran. Untuk “waktu” tidak cukup dinyatakan dengan hal yang satu sesudah hal yang lain (succesio). Perlu subjek yang menghayati kesatuan 3 unsur tersebut. Sifat “temporality” dan “history” merupan sifat yang karakteristik bagi manusia. Untuk benda, tidak ada waktu karena tidak ada kesadaran. Untuk roh murni, tidak ada waktu karena tidak ada peralihan dari yang lampau ke yang mendatang. Maka, “temporality” dan “history” hanya berlaku sebagai subjek di dunia ini. Waktu mmerlukan unsur jasmaniah dan rohaniah.

 

Pemahaman tentang Sejarah

Kalau dikatakan manusia adalah makhluk yang menyejarah, disini yang mau lebih ditekankan adalah kehadiran manusia sebagai pelaksana yang aktif. Manusia bebas. Masa lampau diketahui sebagai faktisitas yang didalamnya terdapat kemungkinan-kemungkinan sebagai masa depan. Manusia sendirilah yang memilih sekaligus menentukan. Masa lampau membatasi dan mengandung kemungkinan-kemungkinan untuk kebebasan. Manusia tidak pernah selesai. Setiap pilihan dan penentuan menciptakan faktisitas baru. Manusia sendiri muncul sebagai pelaksana baru dengan kemungkinan-kemungkinan yang baru pula. Sifat menyejarah berhubungan dengan eksistensi manusia. Tiap faktisitas ditiadakan ; dan dengan demikian, terciptalah faktisitas baru. Proses ini berjalan terus. Proses ini bukan evolusi karena manusia sendirilah pelaksana yang bebas. Kata “sejarah” dan “menyejarah” berhubungan dengan segala kegiatan yang khas manusiawi dalam segala bidang kebudayaan. Kita tidak berbicara tentang evolusi kesenian atau evolusi filsafat, melainkan tentang sejarah kesenian, sejarah filsafat dan seterusnya. Kesenian dan filsafat merupakan bidang yang khas manusiawi. Kebebasan manusia sangat erat hubungannya dengan waktu.

Standar

5 thoughts on “Mempertemukan Eksistensi Manusia dan Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s