Analisis Politik, Islamic Article

Cita-Cita Pluralisme Agama di Indonesia


Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia tentu memiliki keragaman suku, budaya, adat-istiadat, dan bahasa yang berbeda. Untuk itu diperlukan suatu wadah yang mampu menampung semuanya. Para pendiri bangsa, menggunakan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Di dalam Pancasila terdapat semboyan yang diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, yaitu berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangroa” yang artinya kurang lebih seperti ini: walaupun berbeda tetapi tetap dalam satu tujuan, serta tidak boleh ada dharma (kewajiban) yang mendua. Untuk itu, jelas Pancasila mampu mewadahi keragaman yang ada di Indonesia. Artinya tidak perlu orang Islam kehilangan ke-Islam-annya, orang Kristen tidak perlu kehilangan ke-Kristen-annya, orang Hindu tidak perlu kehilangan ke-Hindu-annya, orang Budha tidak perlu kehilangan ke-Budha-anya, dan lain sebagianya. Identitas akan dirinya masih dapat dimunculkan asal tetap dalam satu tujuan, tidak boleh ada dharma yang mendua, atau pengkhianatan.

Dari sini dapat kita lihat bahwa persoalan keberagaman bukanlah persoalan yang baru di Indonesia, melainkan persoalan yang sudah ada sejak adanya agama-agama. Yang menjadi persoalan ialah cara penyingkapan orang serta era yang berbeda yang menyebabkan adanya konflik atas keberagaman yang ada.

Pengertian Pluralisme

Menurut Zainal Abidin Bagir, ia menyatakan bahwa Pluralisme merupakan istilah yang dipakai untuk mengakui adanya fakta agama di ruang publik. Agama yang dimaksud tidak hanya satu, melainkan banyak agama. Titik kajian pluralisme ialah ruang publik yang tersekuleralisasi.[1]

Lain halnya dengan Aniq Malik Thoha mengelompokkan karakter pluralisme, yaitu humanisme sekuler, teologi global, sinkretisme, dan hikmah abadi.[2] Menurut Aniq, Humanisme sekuler mempunyai ciri antroposentrisme yang menganggap bahwa manusia adalah pusat kosmos.

Teologi Global, salah satu tokohnya ialah Wilfred Cantwell Smith, yang menawarkan konsep persahabatan universal. Karena menurutnya agama dan sekte-sekte hanya akan menyebabkan suatu konflik. Agama baginya hanyalah suatu kumpulan dengan cara pandang tertentu.[3]

Sinkretisme merupakan suatu paham yang mencampuradukan unsur-unsur yang berbeda dari berbagai agama dan tradisi dalam suatau wadah yang baru. Yang terakhir ialah Hikmah Abadi, yaitu hakikat yang transenden dan tunggal, yang terekspresikan dalam bentuk hakikat-hakikat eksoterik yang beragam yang terpancar dalam agama-agama.[4]

Dari beberapa kelompok karakter tentang Pluralisme, semuanya menginginkan adanya perdamaian bukan konflik. Kesadaraan akan perbedaan tidak harus dipertajam, melainkan harus diperkecil.

Nah, bagi Zainal, keragaman tidak selalu menjadi masalah. Hal ini terjadi jika ada salah satu agama menjadi dominan dan yang lain adalah subordinat. Tetapi konflik terjadi justru ketika tidak jelas yang mana yang dominan dan yang mana subordinat.[5] Sehingga tidak ada kejelasan sikap toleransi antara yang dominan dan subordinat. Sebagai contoh di Indonesia, ketika yang dominan adalah agama Islam, maka yang lain adalah subordinat. Seberapa jauh toleransi yang diberikan oleh penguasa—dalam hal ini adalah agama Islam yang dominan—terhadap agama yang lain adalah titik pangkal masalah keragaman. Jika Islam tidak memberikan toleransi terhadap agama yang lain, maka akan terjadi konflik, tetapi jika sebaliknya, maka kehidupan agama dalam keberagaman di Indonesia akan tenang dan tenteram.

Menurut John Hick, yang merupakan kelompok pluralisme teologi global, dalam tulisan Arqom Kuswanjono yang berjudul “Manajemen Pluralisme di Indonesia”, menyatakan bahwa perlu untuk dibangun suatu teologi global yang berdasar atas konsep ketidaksengajaan kelahiran. Seseorang tidak dapat memilih di mana dan dari rahim siapa dia akan lahir. Sehingga ketika ada seorang yang lahir di Arab, kemungkinan besar ia akan beragama Islam, jika lahir di Roma, maka kemungkinan akan beragama Kristen, dan jika lahir di India maka kemungkinannya akan beragama Hindu.

Ketika seorang yang lahir tidak dapat menentukan nasibnya sendiri—hal ini sering disebut sebagai takdir—maka seharusnya tidak perlu terjadi konflik yang berkepanjangan. Saat ini, adanya deskrimisasi terhadap subordinat merupakan ketidakbecusan yang dominan dalam mengelola keberagaman. Untuk itu, sebagai orang yang berada di bumi Indonesia dengan segala keberagamannya, kita harus mampu mentoleransi perbedaan itu. Kembali pada Pancasila dengan semboyannya, asalkan tidak ada dharma yang mendua, masih dalam satu cita-cita bersama, maka tidak harus menjadikan perbedaan sebagai konflik.

Penulis: Aktivis PCNU Jakarta Selatan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s