analisis filsafat

Menggugat Hermenutika Antonio Betti

ABSTRAK

Hermeneutika sebagai problematika umum interpretasi, yang menjadi disiplin umum besar yang lahir paad periode Romantis sebagai perhatian umum semua disiplin manusia, yang membangkitkan perhatian beberapa pikiran besar abad 19 – seperti Humboldt dalam filsafat bahasa, August Wilhelm von Schegel sejarawan sastra besar, Bockh, filologis dan seorang ensiklopedian, Savigny, ahli hukum, dan sejarawan seperti Niehbuhr, Ranke, dan Droysen—inilah bentuk klasik hermeneutika yang dihormati yang nampak pudar dari kesadarn Jerman modern. (Richard E Palmer 2005)

 

Proyek hermeneutika Betti dan keberatannya terhadap posisi Gadamer akan menjelaskan ketetapan hatinya terhadap obyektivitas. Bagi Betti, obyek interpretasi merupakan obyektivasi spirit manusia (Geist) yang diungkapkan dalam bentuk perasaan. Dengan begitu, interpretasi adalah pengakuan dan rekonstruksi makna yang, dengan menggunakan macam-macam kesatuan khusus dari materi-materi, dapat dibentuk oleh pengarangnya. Artinya, seorang peneliti harus menerjemahkan dirinya ke dalam subyektivitas asing dan, melalui inversi proses kreatif, ia kembali lagi pada ide atau ”interpretasi” yang ditubuhkan ke dalam obyek tersebut. Jadi, berbicara tentang obyektivitas yang tidak melibatkan subyektivitas penafsir adalah suatu yang absurd. Namun subyektivitas sang penafsir harus dapat menembus keasingan obyek.

Sebagai sejarawan hukum, perhatian Betti tidak muncul dari keinginan filosofis untuk mengungkap kebenaran karya seni (seperti yang dilakukan Gadamer) atau keinginan untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang hakekat yang ada (Heidegger), atau hasrat untuk menyelamatkan makna ”ayat” Bibel (Bultmann dan Ebeling). Betti hanya bermaksud untuk membedakan antara cara atau model beragam interpretasi dalam disiplin manusia dan untuk merumuskan kerangka fondasional dari prinsip-prinsip yang dapat menafsirkan perilaku dan maksud manusia. Dalam kajiannya, Betti memfokuskan perhatian pada hakekat ”obyektif” interpretasi itu sendiri.”(Richard E Palmer,  2005: 61-62)

Betti menyatakan bahwa hermeneutika Jerman sekarang mengisi dirinya sendiri dengan fenomena Sinngebung (fungsi penafsir memberi makna terhadap obyek) yang disamakan dengan interpretasi. Pada pendahuluan Die Hermeneutik als allgemeine Methodik der Geisteswissenshaften (1962), Betti menyatakan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengklasifikasi distingsi esensial antara Auslegung (interpretasi) dan Sinngebung. Jelas, Betti menyatakan, karena distingsi ini dibiarkan, maka keseluruhan integritas hasil-hasil valid obyektif dalam ilmu kemanusiaan (die Objektivitat der Auslegungsergebnisse) ditantang.

Kritik Betti terhadap Gadamer melahirkan keberatan yang kuat bagi ”subyektivitas” eksistensial dan historisitas pemahaman, dia menyatakan bahwa Gadamer gagal memberikan metode-metode normatif untuk membedakan antara interpretasi yang benar dan interpretasi yang salah, dan dia telah memotong bentuk-bentuk interpretasi yang berbeda sekaligus. Pernyataan Gadamer bahwa setiap interpretasi terlibat dalam sebuah aplikasi pada saat ini benar dari sisi hukum tapi tidak benar dalam interpretasi sejarah.

Gadamer menjawab keberatan ini dengan melayangkan surat pada Betti. Dia menyatakan bahwa dia tidak mengajukan sebuah metode tapi mencoba ”menjelaskan apakah pemahaman itu… Saya mencoba berpikir melebihi konsep metode ilmu modern dan berpikir dalam universalitas eksplisit apa yang selalu terjadi.” Bagi betti, Gadamer disesatkan oleh minimnya ukuran subyektivitas eksistensial. Dalam prolog Warheit und Methode, Gadamer menjelaskan kembali pada Betti dengan menegaskan karakter non-subyektivitas pemahaman. Gadamer mengungkapkan,

                            ” Bagaimanapun, maksud investigasiku, dalam banyak hal, bukan untuk menghadirkan teori umum interpretasi dengan  diferensiasinya guna memahami perbedaan metode-metode disiplin tertentu, seperti dilakukan E. Betti, tapi untuk menemukan   cara-cara pemahaman secara umum dan untuk memperlihatkan bahwa pemahaman bukan prosedur subyektif dalam kaitannya dengan ”obyek” tertentu tetapi bahwa pemahaman itu menjadi bagian dari operatif historis (Wiskungsgeschichte)—dan ini berarti, bagi keberadaan—apa yang dipahami.” (Richard E Palmer, 2005: 64-65)

Pokok perbedaan pendapat Betti-Gadamer pada hakikatnya bersumber pada definisi yang diberikan pada hermeneutika. Betti mencari yang praktis, langsung dapat dipakai dalam interpretasi, mencari pertengahan antara unsur objektif dan subjektif semua pemahaman, Betti menuduh Gadamer hanya mengajukan quaestio facti dan sama sekali tidak menggarap questio iuris; sedangkan Gadamer bermaksud menggarap teori filsafat hermeneutika, dan bukan menggarap metode interpretasi yang benar atau salah. Menurut Betti, Gadamer terbenam di dalam subjektivitas keberadaan, sedangkan menurut Gadamer, berbicara tentang interpretasi yang sah secara objektif adalah sesuatu yang naif, sama halnya dengan berpendapat bahwa seseorang dapat menangkap dari suatu titik berdiri di luar sejarah. Terdapat selisih paham, tetapi keduanya tidak seluruhnya berlawanan, bahkan bermanfaat bagi penghampiran masalah hermeneutika. (Poesporodjo, 1987, Interpretasi, Penerbit Remaja Karya, Bandung, hal 150)

 

Interpretasi Obyektif

Dalam bukunya Attualità di una teoria generale dell’interpretazione (1967), Betti mendekati persoalan hermeneutika bukan dari sudut pandang ontologis (seperti pada Heidegger dan Gadamer), namun ia mengikuti jejak tradisi hermeneutika Schleiermacher dan Dilthey. Menurut Betti, hermeneutika perlu membatasi dirinya pada persoalan epistemologis dari penafsiran dan bukannya masuk ke dalam problem-problem terdalam eksistensi manusia (pertanyaan tentang Dasein, mengada, dll.) yang bersifat subjektivis dan relativis. Tuturan (speech) dan teks adalah representasi objektif dari pikiran dan maksud (intensionalitas) manusia. Menafsirkan makna berarti menghembuskan nafas kehidupan ke dalam intensi-intensi yang dimediasi oleh simbol ini. Hal ini mungkin karena meskipun individualitas si penafsir itu pada hakikatnya berbeda dengan individualitas yang diekspresikan dalam teks namun si penafsir dapat melampaui kesempitan sudut pandangnya sendiri guna memperoleh makna dari teks. Yang menjadi isu di sini adalah bagaimana cara untuk menciptakan kembali proses penciptaan asli untuk sampai pada makna yang sejati dan satu-satunya dari teks.

(Hendar, 2006, diakses tanggal 06 September 2008; 22.00 WIB, http://hendar2006.multiply.com/journal)

 

            Laiknya Dilthey, Betti kembali lagi pada Kant dan menerima, tanpa syarat, ”Revolusi Copernican-nya”. Pengetahuan bukanlah sebuah cermin pasif realitas; objek-objeknya ditentukan oleh cara kita menyatukan mereka. Asal-usul kategori yang digunakan dalam penilaian, yakni otonomi Rasio, selalu diserang dua sisi: pertama psikologisme dan sensualisme yang berakar pada Hume; kedua, ”subjektivisme” dan ”relativisme” berkaitan dengan nilai-nilai intelektual dan etika ”para eksistensialis” yang menghancurkan pembedaan antara obyektivitas fenomenal dan ideal. Betti mencatat bahwa ruang-ruang ”nilai-nilai etis dan estetis melekat pada dimensi kedua obyektivitas yang bukan fenomenal maupun sesuatu yang sedikit berbeda dari subjektivitas kesadaran daripada nilai-nilai lain …, Nilai-nilai spiritual merepresentasikan sebuah objektivitas ideal secara pasti mengikuti hukumnya sendiri. (Josef Bleicher, 2003: 32-33)

Obyektivitas ideal dari nilai-nilai spiritual hanya dapat disatukan melalui ”objektivitas nyata” dari objek-objek yang dapat diindera. Dalam sebuah argumen yang kuat, Betti menolak intospeksi psikologis awal Dilthey yang berpusat pada konsep ”empati” dan ”menghidupkan kembali”, Betti memberikan kemungkinan verstehen bagi interpretasi atas objektivasi pikiran. Interpretsi pada akhirnya dikonfrontasikan dengan sejenis objektivitas, bukan sebagai sesuatu yang murni ideal atau murni riil, melainkan selalu mencakup keduanya. Betti mengilustrasikan hal ini, dengan mengungkapkan,”Hakikat manusia memuat sebuah nilai kosmos ideal yang mengatasi bahasa, dan bahkan melampaui bentuk penuh makna apapun, dan yang secara aktual dibatasi oleh bahasa, atau lebih tepatnya oleh bentuk yang spesifik ini; pada waktu yang sama, bahasa dan bentuk-bentuk penuh makna hanyalah alat yang diberikan pada kita untuk meyelidiki dunia ideal ini”.

Setelah ”pendahuluan” seperti ini Betti memasuki wilayah epistemologi yang bergulat dengan objek dan proses verstehen. Ia mulai dengan mengulangi pernyataan utamanya yaitu, ”kita melakukan aktivitas interpretasi setiap kali berhadapan dengan bentuk-bentuk yang dapat diterima, yang melaluinya sebuah pikiran pihak lain yang telah mengobjektivasikan dirinya dalam bentuk-bentuk tersebut, mengarahkan dirinya kepada Pemahaman kita; tujuan interpretasi adalah untuk memahami makna bentuk-bentuk ini, untuk mengungkapkan pesan yang ingin mereka sampaikan pada kita”. Interpretasi merupakan sebuah aktivitas yang bertugas membawa kepada sebuah pemahaman. (Josef Bleicher, 2003:34-35)

Betti tidak bermaksud menghilangkan momen subyektif dari interpretasi, atau bahkan menolak bahwa hal itu dibutuhkan dalam peristiwa interpretasi manusia. Namun betti bermaksud mengafirmasi, apa pun kemungkinan peran subyektif dalam interpretasi, bahwa obyek tetap menjadi obyek dan sebuah interpretasi valid yang obyektif dapat layak diusahakan dan diselesaikan. Sebuah obyek berbicara, dan ia bisa didengar secara benar dan salah sebab di sana terdapat makna yang verriable obyektif dalam obyek. (Richard E Palmer, 2005:61-62)

Betti merancangkan membuat perbedaan berbagai cara interpretasi dalam Geisteswisenschaften dan merumuskan seperangkat prinsip-prinsip untuk menafsirkan perilaku manusia dan objeknya. Ia membidik objektifitas. Ia tidak bermaksud mengabaikan peranan subjek dalam kegiatan interpretasi, tetapi ia menandaskan bahwa objek tetap objek, objek pada hakikatnya adalah otonom, karenanya suatu bentuk interpretasi yang sah secara objektif tentang objek tersebut dapat diusahakan. Oleh karena itu, Auslegung (Interpretasi) niscaya dibedakan dari Sinnegebung (pemberian arti pada objek). Di dalam semua interpretasi niscaya dicamkan bahwa objek pada hakikatnya otonom (die Sinnautonomie des Textes).

Interpretator harus memasuki objek yang memang bukan dirinya dan memang lain dari diri interpretator. Tetapi bagi Betti proses pemahaman tidak bersifat pasif resepsif, tetapi senantiasa merupakan suatu proses rekognitif dan rekonstruktif serta melibatkan pengalaman interpretator tenatng dunia, titik berdiri interpretator dan minatnya pada masa kini. Selanjutnya, bagian-bagian hanya dapat ditafsirkan dalam berkaitan arti secara keseluruhan. Hubungan dalam antara bagian satu dengan bagian lain dari satu diskursus dimengerti lewat keseluruhan arti yang melingkupinya yang dibentuk oleh bagian satu per satu. Jadi, perihal yang dikatakan teks tidak berasal dari kita, tetapi berada lepas dari kita. Dengan demikian pengetahuan objektif bukanlah suatu hal yang tidak mungkin, sehingga kesimpulan Bultmann bahwa ”Pengetahuan historikal objektif adalah suatu ilusi pemikiran yang mengobjektivasi”, dikatakan Betti sebagai tidak berdasar. (Poepoprodjo, 1987:149-150)

Dalam pandangan Emilio Betti, dengan peraturan-peraturan hermeneutis, situasi hermeneutis dapat diatasi dengan penafsiran objektif. Bentuk-bentuk yang penuh makna (meaningfull forms) dan bahasa merupakan jembatan yang menghubungi situasi hermeneutis. Mengikuti Immanuel Kant dengan “revolusi Copernicus” dalam wilayah epistemology, Betti berpendapat bahwa pengetahuan bukanlah kaca realitas yang pasif, tetapi objek-objeknya ditentukan oleh cara kita memahami objek-objek tersebut. Tujuan penafsiran, dalam pandangan Emilio Betti adalah untuk memahami bentuk-bentuk yang penuh makna; untuk menemukan pesan yang ditransmisikan oleh akal lain kepada kita. Ringkasnya, penafsiran merupakan sebuah aktifitas dengan tujuan untuk tiba kepada Pemahaman. Betti memaknai pemahaman sebagai ‘sensus non est inferendus sed efferendus.’ Betti menganggap hanya Auslegung (penafsiran objektif) sebagai bentuk sah dari penafsiran. Ini berbeda dengan Deutung dan ‘spekulative Deutung.’ (penafsiran spekulatif). (Adnin Armas, 2008, diakses tanggal 04 Oktober 2008;Pukul 21.00 WIB, http//:www.hotlinkfiles.com/files/Hermeneutika)

Penafsiran objektif tidak akan pernah bisa menjadi absolut karena wujudnya jarak antara diskursus tertulis atau pembicaraan dengan audiensnya. Jadi, dalam pandangan Betti, sekalipun penafsiran bisa sampai kepada objektifitas, namun objektifitas penafsiran tersebut tetap relatif. Bagi Betti, makna seharusnya diderivasi dari teks dan bukan dimasukkan ke dalam teks. (meaning has to be derived from the text and not imputed to it). Untuk meraih penafsiran objektif, Betti menyusun empat kaidah.

Dua kaidah terkait dengan objek penafsiran dan dua kaidah lain terkait dengan subjek penafsiran. Dua kaidah yang terkait dengan objek penafsiran menunjukkan objek pemahaman merupakan makna yang dimaksudkan oleh pengarang serta koherensi internalnya. Kedua kaidah tersebut sebagai berikut:

Pertama, kaidah otonomi objek hermeneutis dan standar hermeneutis yang immanent (the canon of the hermeneutical autonomy of the object and immanence of the hermeneutical standart). Dengan kaidah ini, Emilio Betti ingin menyatakan bahwa makna harus didasarkan kepada objek penafsiran, yaitu bentuk-bentuk yang penuh makna yang harus dianggap sebagai otonomi. Makna yang ditafsirkan adalah makna yang immanent, bukan proyeksi penafsir. Maksudnya, bentuk yang penuh makna harus dianggap sebagai otonomi. Otonomi objek penafsiran harus dimengerti dengan kesesuaiannya dengan perkembangan logikanya sendiri. Bentuk yang penuh makna harus dinilai dalam kaitannya dengan standart yang immanent dalam niat orisinal pengarangnya. Kaidah ‘mens dicentis’ ini dalam pemahaman hermeneutis, verstehen, mengikuti pola penafsiran bahwa ‘sensus non est inferendus sed efferendus.

Kedua, kaidah koherensi makna (prinsip totalitas) (the canon of the coherence of meaning) (principle of totality). Dengan kaidah ini, Emilio Betti memaksudkan bahwa keseluruhan dan sebagian dalam bentuk yang penuh makna saling berhubungan. Makna keseluruhan harus berasal dari unsur-unsur individu. Sama halnya, sebuah unsur individu harus dimengerti dengan merujuk kepada keseluruhan yang komprehensif dimana unsur individu tadi merupakan bagiannya.

Dua kaidah yang terkait dengan subjek penafsiran adalah sebagai berikut: Pertama, kaidah aktualitas pemahaman (The canon of the actuality of understanding). Dengan kaidah ini Emilio Betti memaksudkan bahwa tugas penafsir adalah untuk menelusuri kembali proses kreatif, membangun kembali proses tersebut dalam dirinya, menerjemahkan kembali pemikiran Yang Lain, bagian dari masa lalu, peristiwa yang telah diingat, ke dalam akutalitas kehidupannya sendiri. Maksudnya, mengadaptasi dan mengintegrasikannya ke dalam wawasan intelektual seseorang dalam framework pengalamannya sendiri dengan melalui sejenis transformasi dengan didasarkan kepada sintesis yang sejenis yang memungkinkan rekognisi dan rekonstruksi dari fikiran tersebut. Tugas penafsir adalah menemukan makna yang dimaksud pengarang. Bagaimanapun, ini tidak menunjukkan penafsir adalah penerima yang pasif tetapi rekonstruktif secara aktif. Selain itu, kondisi subjek penafsir tidak tepat untuk disamakan dengan gagasan Gadamer ‘Vorverständnis’ (pra-pemahaman).

             Kedua, kaidah korespondensi makna hermeneutis (kemantapan makna dalam pemahaman). (The canon of the hermeneutical correspondence of meaning meaning adequacy in understanding). Menurut kaidah ini, penafsir seharusnya berusaha membawa aktualitas kehidupannya sendiri ke dalam harmoni yang paling erat dengan stimulasi yang ia terima dari objek sehingga satu dan yang lain meresonasikan dengan cara yang harmoni. Kaidah ini mensyaratkan penerjemah harus membawa subjektifitasnya ke dalam harmoni dengan stimulasi-stimulasi objeknya. Betti mengakui fakta bahwa penerjemah bisa memahami pokok persoalan dalam pengalamannya sendiri, tetapi dia harus membuat selalu berusaha untuk mengkontrol ‘prejudis-prejudis’nya dan mensubordinasikan pengetahuannya ke dalam objek makna yang disampaikan di dalam teks. (Adnin Armas, 2008, diakses tanggal 04 Oktober 2008;Pukul 21.00 WIB, http//:www.hotlinkfiles.com/files/Hermeneutika]

 

Selain fokusnya pada interpretasi (objektif) Betti masih tetap bertahan di atas dasar yang non-objektif. Objektivitas sempurna harus ditinggalkan karena yang ada hanyalah ”objektivitas relatif”. Definisi Betti ini berasal dari relasi dialektis antara ”aktualitas” pemahaman dan objektivasi pikiran. Subjek, entah ia individual atau entitas kolektif—Betti menggunakan term Hegelian mengenai roh subjektif dan objektif— dan objek—objektivasi pikiran—dari proses interpretasi dikunci bersama dalam sebuah hubungan berpasangan: pikiran telah mengental menjadi bentuk-bentuk permanen dan menempatkan objek sebagai sebuah ”yang lain”; namun keduanya bergantung satu sama lain ”karena yang telah ada, pikiran subjektif yang tertarik memperoleh objektivasi sebagai sarana untuk membebaskan dirinya melalui pencapaian kesadaran; dan objektivasi-objektivasi yang terdapat di dalam apa yang diyakini bergantung sepenuhnya pada sebuah pikiran yang menarik untuk dibawa kepada pemahaman, yakni untuk diperkenalkan-kembali ke dalam ruang pemahaman” (Josef Bleicher, 2003:36)

 

Bahasa dan Ujaran

Dalam wilayah ini Betti menunjuk pada filsafat bahasa Humboldt dengan menemukan bahwa ada pembedaan versi dalam linguistik struktural Saussure antara langue dan parole yang oleh Humbdolt disebut Sprache (bahasa) dan Rede (ujaran, diskurus). Saussure melihat bahasa sebagai sebuah sistem bentuk-bentuk makna yang mengikuti hukum mereka sendiri serta mampu mendukung kemampuan lingustik pembicara satu sama lain secara cukup bebas. Fenomena bahasa, dalam konsep ini, dilihat sebagai sebuah sistem yang telah mapan, sedangkan ujran direduksi menjadi sekedar penampakan aksidental.

Dengan membangun otonomi relatif ujaran, Betti sekaligus juga membangun kebutuhan akan, dan pengkhususan, aktivitas verstehen, pada kenyataannya relasi antara bahasa dan ujaran direfleksikan dalam satu hal yang ada di antara interpretasi dan pemahaman. (Josef Bleicher, 2003:38-39)

Bagi Emilio Betti, makna itu sebagaimana yang dimaksudkan oleh pengarang dan Agen-agen historis. Makna dirujuk kepada bentuk-bentuk yang penuh makna yang merupakan objektifikasi pemikiran manusia. Bagi Emilio Betti, terutamanya melalui bentuk-bentuk bahasa yang objektif dan struktur tingkah laku subjek yang menafsirkan menemukan akal yang lain. Dengan menggunakan metode yang benar serta kaidah penafsiran yang benar, seorang penafsir mampu untuk meraih di luar kondisi historisnya untuk memahami makna sebuah teks sebagaimana yang dimaksudkan oleh pengarang. Aturan-aturan dan kaidah-kaidah yang mengarahkan penafsiran dapat diaplikasikan secara universal kepada teks apapun.

Pemahaman selalu lebih daripada sekedar mengetahui makna atau menandai kata-kata yang digunakan dalam ujaran—pendengar, atau pembaca, harus berpartisipasi, idelanya, dalam “bentuk hidup” yang sama dengan pembicara atau penulis sehingga memungkinkannya memahami bukan hanya kata-kata yang digunakan melainkan juga “beranjak bersama-sama menuju penyatuan pikiran yang ditawarkan padanya”. Memahami diarahkan kepada sebuah keseluruhan dan mengisyaratkan keterlibatan total—akal, emosional, moral—sebagai subjek.

Kesalahpahaman, dari perspektif ini, merupakan sebuah peristiwa yang memerlukan pembenaran. Ini merupakan ruang aktivitas hermeneutic:”Interpretasi, berdasarkan tugasnya, adalah membuat sesuatu dapat dipahami”. Kemiripan kesalahpahaman—dari perverse interpretari, yakni pemahaman yang tidak akurat, menuju non intellegere, yakni hilangnya makna secara bersama-sama—meningkatkan jarak dalam ruang dan waktu antara pembicara dan pendengar.  (Josef bleicher, 2003:39)

Penekanan sistematis atas kemampuan-berbahasa dan komunitas pembicara ini mengindikasikan sebuah tema yang tidak pernah disadari secara cukup eksplisit dalam rumusan Dilthey, yang tampaknya memang tidak menyadari hubungan paralel teori hermeneutikanya dengan pragmatisme. Betti menggunakan konsep ini, untuk menyangkal pandangan materialistik yang berpusat pada kesamaan-kesamaan eksternal individualisasi pikiran. Pandangan ini tidak dapat lari dari lingkaran setan, karena ia harus menjelaskan proses komunikasi dengan bantuan kategori-kategori yang telah mengisyaratkan eksistensi dan efektivitasnya. Komunitas pembicara menghadirkan sebuah entitas supra-individual dengan sebuah karakter transedental.

Jadi, Emilio Betti merumuskan metode serta kaidah dalam penafsiran yang akan mengantarkan seseorang untuk meraih objektifitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, Emilio Betti melakukan 2 hal, (pertama) ia mengklarifikasi persoalan pemahaman dengan memeriksa, secara detail proses penafsiran; (kedua), memformulasi sebuah metodologi yang menghalang gangguan-gangguan subjektifis masuk ke dalam penafsiran objektif dari objektifasi akal.

(Adnin Armas, 2008, diakses tanggal 04 Oktober 2008;Pukul 21.00 WIB, http//:www.hotlinkfiles.com/files/Hermeneutika).

 

Prakondisi-Prakondisi Pemahaman Yang Benar

            Betti mengatakan ”topikalitas” (Aktualitat) makna, yaitu keterkaitan dengan pendirian dan kepentingan penafsir dalam situasi sekarang, yang dilibatkan dalam setiap pemahaman. Pada sisi subyektif, tidak ada yang melepaskan diri dari pemahaman dan pengalaman seseorang. Betti jauh dari sekedar membayangkan bahwa pemahaman merupakan persoalan penerimaan pasif; pemahaman selalu merupakan proses rekonstruktif yang melibatkan pengalaman penafsir tentang dunia. Betti mengatakan,

Teks di mana pra-pemahaman memberikan arti bukan sesederhana memperkuat opini kita sebelumnya; kita harus berasumsi bahwa teks memiliki makna untuk dikatakan pada kita, yang belum kita ketahui dan yang ada terpisah dari tindakan pemahaman kita. Jelas di sini hal yang dapat dipertanyakan tentang fokus subyektif harus dicuatkan, baik yang secara nyata dipengaruhi oleh filsafat eksistensial kontemporer, dan yang berusaha memberi penjelasan (Auslegung) dan pemahaman (Sinngebung) bersama-sama, dengan harapan bahwa obyektivitas hasil-hasil proses interpretasi dalam studi manusia secara keseluruhan masih dipertanyakan” (Richard E Palmer, 2005:63-64)

            Betti menekankan syarat-syarat bagi intepretator jika ingin memperoleh seluruh kepekaannya. Di bawah rubrik ”kondisi-kondisi metateoritis bagi proses interpretasi” Betti menguraikan ketertarikan dalam memahami, memperhatikan, keterbukaan-pikiran dan penghapusan-diri. Sebuah ketertarikan noetik khusus dalam memahami derajat tertentu yang padanya orang terlibat dalam pemahaman; pada titik tertinggi inilah hasrat untuk memahami muncul dari sebuah kebutuhan aktual.

Betti menuntut agar sejumlah rintangan dihilangkan supaya ”yang lain” dapat diterima dalam roh yang benar. Dengan menunjuk pada penghalang-penghalang utama menuju pemahaman yang benar, akan menjadi jelas mengapa Betti perlu menambahkan nilai pendidikan pada pemahaman hermeneutika, yakni pengembangan sebuah sikap toleransi, yakni dibantu dengan penyadaran atas prasangka-prasangkanya sendiri dan kekurangan yang hanya akan terlihat dalam usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami sebuah ”yang lain” dan yang harus mampu menaklukannya sebelum berhasil pemahaman. Rintangan-rintangan tersebut yaitu (Pertama), kemarahan yang disadari atau tidak atas ide-ide dan posisi-posisi yang berbeda pada umumnya, dan khususnya bagi mereka yang diyakini oleh pengamat; yang membawa pada, (kedua) pencemaran dan distorsi; (ketiga) sikap ”pembenaran diri” yang melihat persoalan hitam putih dan tidak menyadari adanya dialektika antara kebaikan dan keburukan; (keempat) konformisme menuju konsepsi yang dominan dan penerimaan membuta terhadap ”bias konvensional” dalam menilai yang lain; (kelima) kurangnya ketertarikan pada budaya-budaya yang lain, sama seperti sempit atau bodohnya intelektual dan moral—yang menunjukkan dirinya sendiri ketika menumbuhkan kecenderungan untuk melalaikan diskusi-diskusi teoritis yang sungguh-sungguh dan sebuah pertukaran opini yang terbuka pada umumnya. Betti menambahkan bahwa ”Intoleransi politis dan propaganda budaya adalah akar dari segala sesuatu yang dapat menindas dan mencekik sikap kritis”(Josef Bleicher, 2003:42-43)

Ada dua pendapat yang memunculkan ketidaksenangan Betti terhadap konsep ini, yaitu: pertama, terungkap dalam pandangan Jaspers mengenai Verstehen sebagai ”sekedar pemahaman atas apa yang telah dimengerti”: hal ini hanya terkait dengan hasil-hasil yang benar; merupakan tanda bagi jenis kognisi ini bahwa semakin kurang efektif maka ia semakin netral, dengan kata lain ”bebas-nilai”. Hanya ”pemahaman fundamental” saja yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang indah dan yang jelek. Kedua, tidak hanya mengubah pemahaman metodis menjadi reproduksi ”antik” masa lalu, namun juga menolak kemungkinan mengenai pengetahuan historis yang objektif. Postulasi pra-pemahaman sebagai kondisi untuk pemahaman interpretatif dan ”pengalaman hidup”, dan menekankan pada keniscayaan sebuah relasi eksisensial antara interpretator dan objek (teks) dimana objek mengarah pada interpretator dan membuka jalan kemungkinan baru atas eksistensi. Betti menjadikan topik ini tertutup dengan mengacu kembali pada distingsinya antara interpretasi objektif dan spekulatif; karena interpretasi eksistensial gagal mengikuti maksim bahwa ”makna harus berasal dari teks dan tidak dikaitkan padanya”, maka ia harus mengucilkan dirinya sendiri dan klaim interpretasi yang valid. (Josef Bleicher, 2005:44 – 45).

Betti memaknai pemahaman sebagai ‘sensus non est inferendus sed efferendus.’ Betti menganggap hanya Auslegung (penafsiran objektif) sebagai bentuk sah dari penafsiran. Ini berbeda dengan Deutung dan ‘spekulative Deutung.’ (penafsiran spekulatif). Bagaimanapun, objektifitas yang sempurna bagi Emilio Betti tidak akan pernah diraih. Emilio Betti menegaskan yang ada hanya objektifitas yang relatif (relative objectivity). Bagi Emilio Betti, hal ini disebabkan adanya hubungan yang dialektis antara aktualitas pemahaman (actuality of understanding) dan objektifasi akal (objectivations of mind). Maksudnya, subjek dan objektivasi akal, dalam proses penafsiran terkunci bersama dalam hubungan yang bertentangan.

Akal telah mengental ke dalam bentuk yang permanent dan berkonfrontasi dengan subjek sebagai yang lain (other). Namun, antara keduanya (subjek dan objektifasi akal) memiliki saling ketergantungan. Sebabnya, akal yang subjektif memerlukan objektifasi sebagai sokongan untuk membebaskan dirinya dengan meraih kesadaran. Sama halnya, objektifikasi yang terkandung dalam apa yang diwariskan tergantung sepenuhnya kepada akal untuk dibawa kepada pemahaman, yaitu diperkenalkan kembali kepada ranah pemahaman melalui proses penafsiran. Jadi, sekalipun penafsiran objektif dapat diraih, namun Betti meyatakan penafsiran tidak akan pernah bisa sempurna dan final. (Adnin Armas, 2008, diakses tanggal 04 Oktober 2008;Pukul 21.00 WIB, http//:www.hotlinkfiles.com/files/Hermeneutika)

 

 Implikasi Metodologis

            Prinsip objektivitas menjadi mungkin dengan meminjam pada otonomi pikiran, yakni eksistensi dalam dirinya sendiri; namun objektivitas mereka tidak penuh dapat menajdi absolut dengan meminjam pada jarak antara ujaran yang ditulis dan alamat yang ditujunya. Sebuah faktor yang lebih penting diperkenalkan juga kepada rekonstruksi objektif atas artefak manusia yang pada kenyataannya terlihat jelas dalam setiap pengertian yang diselidiki dan subjektivitas semua pemahaman, yakni spontanitas dan ”aktualitas” orang yang mengeyahui. (Josef Bleicher, 2003:46)

Karya Gadamer menurut Betti membahayakan legitimasi status objektif dari objek-objek tafsiran dan lebih luas lagi, membahayakan objektivitas penafsiran itu sendiri. Tugas hermeneutika bagi Betti adalah menjadi sebuah metodologi umum untuk menafsirkan Geisteswissenschaften dan sekaligus menetapkan standar objektif penafsiran terhadap teks atau objek Objektivitas penafsiran dimungkinkan dengan adanya empat kanon, yaitu

(1) kanon otonomi hermeneutis dari objek dan imanensi standar hermeneutis (hermeneutical autonomy of the object and immanence of the hermeneuticcal standard),        (2) kanon totalitas dan koherensi evaluasi hermeneutis (the canon of totality and coherence of hermeneutical evaluation),

(3) kanon aktualitas pemahaman (the canon of the actuality of understanding),

(4) kanon harmonisasi pemahaman “ korespondensi dan kesetujuan hermeneutis (the canon of the harmonization of understanding “hermeneutical correspondence and agreement).

Dua kanon yang pertama berkaitan erat dengan objek tafsiran, sementara dua kanon yang terakhir menyangkut subjek penafsir. Ringkasnya, tujuan hermeneutika adalah objektivitas penafsiran dan sejarah. Objektivitas pada prinsipnya menjadi mungkin karena ada otonomi, eksistensi pada dirinya sendiri, dari objek penafsiran (objectivations of mind). Dialektika antara subjektivitas penafsir dan otonomi objek (kanon tiga dan kanon pertama) memang berangkat dari ketegangan antara subjektivitas dengan objektivitas. Namun justru dengan metodologi yang ketat (yang dijaga oleh keempat kanon di atas), orang diharapkan bisa sampai pada hasil penafsiran yang tepat.

(Hendar, 2006, diakses tanggal 04 September 2008; 11.00 WIB, http://hendar2006.multiply.com/journal)

Betti mampu meletakkan dikotomi yang jelas ini pada pemanfaatan metodologis yang baik. Tegangan antara objektivitas dan subjektivitas merupakan sebuah pra kondisi bagi sebuah persepsi sebuah ”gaya” personal atau kultural dimana ”kecenderungan-kecenderungan” yang berlajut dan sebuah ”koherensi batin” menjadi kelihatan. Namun semua ini merupakan solusi epistemologis bagi persoalan pemahaman objektif atas makna yang menyediakan ini seluruh argumen. Dengan demikian, metodologi Betti terperangkap dalam suatu ikatan yang sama yang membatasi kontribusi sistematis Dilthey pada epistemologi Geisteswissenschaften. Betti mengatakan,”Dilthey mencampur-adukkan ”memahami” dengan ”pengalaman hidup”; keduanya berada di atas dasar pengalaman yang sama. Betti sangat tidak menyetujui konsepsi seperti ini, dengan merasakan bahwa hal ini juga mencakup transformasi relasi subjek-objek dimana pertama mempertanyakan yang kedua, menjadi satu titik persinggungan antara dua subjek dari sebuah interaksi komunikatif”. (Josef Bleicher, 2003:47-48)

Bukan Betti yang gagal menyadari momen perkembangan diri dalam proses dalam memahami; dalam ”pengantar” yang bersifat epistemologis, ia memberikan sebuah pembelaan dengan meyakinkan atas hal tersebut.: ”dengan menemukan kosmos nilai sebuah makhluk berpikir yang berkembang dalam sebuah proses komunikasi yang mengambil tempat di antara bermacam-macam subjek …, Penilaian aksiologis berada, sama seperti kognisi, di dalam sebuah kondisi pertumbuhan yang berkelanjutan…, sehingga pertumbuhan yang berkelanjutan dari satu titik secara pasti menerangi aspek-aspek baru dalam hal lainnya” (Josef Bleicher, 2003:50)

 

Jenis-jenis Interpretasi

Emilio Betti menyebutkan ada empat momen teoritis dalam proses interpretasi yang masing-masing mempresentasikan bentuk-bentuk penerimaan dan pendekatan intelektual, yaitu :

Pertama, Momen Filologis, menjadi efektif dalam usaha umum untuk memahami secara permanen simbol-simbol yang ada (teks, angka), yakni suatu rekonstruksi koherensi gramatis dan logis atas tuturan yang diucapkan atau ditulis; momen filologis bertujuan untuk merekonstuksi koherensi tata-bahasa dan logika dari tuturan lisan atau tertulis.

Kedua, Momen Kritis, yang terungkap dalam kasus-kasus yang memerlukan sebuah sikap bertanya, seperti munculnya ketidak-kongrunen, pernyataan-pernyataan yang tidak logis, atau jurang-jurang dalam sebuah garis argumen; lebih jauh lagi, pendekatan ini mengijinkan kita untuk membedakan di antara, sebagai contoh, unsur-unsur yang asli, otentik dan semacamnya, yang telah ditambahkan pada tahap berikutnya;

Ketiga, Momen Psikologis, menjadi aktif ketika kita mengikuti tugas yang meletakkan diri kita sendiri di tempat pengarang dan menyadari-kembali serta menciptakan kembali pribadi dan posisi intelektualnya;

Keempat, Momen Teknis-Morfologis,”yang bertujuan untuk memahami kandungan-makna dunia jiwa-objektif dalam relasinya dengan logika pertikular dan prinsip formatifnya; ini merupakan makna yang dapat dirasakan dalam ciptaan-ciptaan tersebut dan dapat direkonstruksi” di sini objek disadari dalam haknya sendiri tanpa mengacu pada faktor-faktor yang kontingen dan eksternal. (Josef Bleicher, 2005:51-52).

              Dari keempat momen teoretis yang bekerja secara tahap demi tahap ini, Betti lalu membuat tiga kategori atau tipe tafsiran berdasarkan minat atau kepentingan yang memandu penafsir, yaitu: 1. Rekognitif (recognitive interpretation), 2 Reproduktif (reproductive interpretation) dan 3. Aplikasi Normatif (normative interpretation).   Rekognitif bersifat autotelic, artinya: Pemahaman bagi dirinya sendiri. (2) Reproduktif bertujuan untuk mengkomunikasikan pengalaman, dan (3) aplikasi normatif bertujuan untuk menjadi panduan bertindak. (Hendar, 2006, diakses tanggal 04 September 2008; 11.00 WIB, http://hendar2006.multiply.com/journal)

Interpretasi Historis

            Interpretasi rekonstruktif juga digunakan dalam invstigasi atas fenomena historis. Di sini tugas yang tersedia bukanlah menghidupkan kembali seluruh epos historis, melainkan untuk ”memperbesar, melengkapi dan mengoreksi konsep kita mengenai epos-epos ini yang terbatas, fragmenter dan selalu dapat dipertanyakan.

Betti membedakan dua jenis sumber; pertama, jejak-jejak, bekas-bekas, dan kedua materi representatif (tulisan, dokumen-dokumen bergambar) yang digunakan untuk memahami sebuah peristiwa. Kriteria bagi pemisahan dan penggunaan bermacam-macam sumber dirumuskan dalam kaitannya dengan empat kanon hermeneutik. ”imanensi standar-standar”. Sejarah merupakan locus classicus bagi kemungkinan interpretator memahami pengarang dengan lebih baik daripada ia memahami dirinya sendiri. Dengan mempertimbangkan kondisi sebuah sumber, dan dengan mengikuti perkembangan diakronik dan sinkronik yang lahir dalam peristiwa atau motif-motif pengarang yang diteliti, para sejarawan, kenyataannya, mematuhi kanon” totalitas dan koherensi evaluasi hermeneutik”. Ini merupakan konsekuensi dari persoalan apakah suatu sumber dapat dipercaya bahwa para sejarawan lebih suka berurusan dengan materi asli daripada bergantung pada catatan-catatan kontemporer atau bahkan terbaru; dengan cara demikian mereka mengungkapkan asumsi dasar bahwa mereka berada dalam sebuah posisi yang lebih baik untuk mengetahui.

Subjek diserukan ketika sejarawan berhasil ”merekonstruksi dalam dirinya sendiri mentalitas lainnya” dan ketika ia menggunakan kemampuannya untuk berempati dengan aktor masa lalu; dalam kedua contoh tersebut semuanya ini memungkinkan sejarawan memahami data historis dalam satu dasar intelektual dan moral. Schleiermacher yang pertama-tama menekankan sifat menyenangkan dari daya tarik jiwa semcam itu, mencakup juga sebuah momen teknis dalam metodologinya, dan Betti juga menekankan aspek interpretasi historis ini. (Josef Bleicher. 2003:55-56)

 

Interpretasi Teknis-Morfologis

Betti menunjuk pada momen teknis intepretasi di seluruh penjelasannya mengenai filologi dan khususnya sejarah yang kegunannya adalah mencegah studi sejarah tergelincir ke dalam sekedar Geistesgeschicte (sejarah pemikiran). Saat mempelajari karya orang-orang besar seperti Marx, Dilthey dan Weber dalam wilayah ini. Betti memberikan peringatan ketika membahas kreasi-kreasi pemikiran. Untuk mengganti keseimbangan, Betti tidak menentang sejarah intelektual dengan sebuah konsepsi yang ”naturalistik”. Namun dengan sebuah peralatan metodologis interpretasi teknis-morfologis komplementer. Betti menolak skema ”ini atau itu” rickert mengenai individualisasi dan ilmu nomotetik yang bergerak menuju sebuah skema umum yang berorientasi-historis. Sosiologi tidak dapat direduksi menjadi sebuah psikologi verstehen karena hanya bagian tertentu tindakan manusia saja yang sadar diperhatikan.

Interpretasi Teknis-Morfologis atas fenomena sosial, tentunya, berbeda secara signifikan dari objektivasi-objektivasi pikiran lainnya seperti karya-karya seni, karena pokok persoalan yang ada di sini bukanlah objek-objek yang telah sempurna melainkan hukum-hukum tindakan yang diobjektivasikan ke dalam norma-norma dan yang paling sering terjadi dari mulut ke mulut. Titik pijak idealis Betti membawanya pada pengabaian faktor-faktor kontingen dari relasi-relasi antara kuasa dan perkembangan ekonomi, dan dari sana menuju penekanan berlebihan atas transparansi diri aktor-aktor manusia; ia dapat, pada akhirnya, hanya memvisualisasikan mekanisme operatif dalam perkembangan sosial sebagai sesuatu yang linear yang digerakkan oleh hukumnya sendiri yang ditunujuknya sebagai ”noo-nomie”, atau ”logika pikiran”.

Betti juga menunjuk konsep Dilthey mengenai Struktur zusamimenhang dan Wirkungszusammenhang (”koherensi struktural” dan ”efektivitas struktural”) sehingga di sini kita juga memperoleh pandangan mendalam yang penting bagi investigasi fenomena sosial. Struktur-struktur terlihat berada pada tataran psikologis yang sama baiknya seperti pada tataran sosial, dan menyediakan konteks dimana peristiwa-peristiwa individual harus ditempatkan dan diacu kembali untuk memperoleh makna mereka.

Aspek-aspek yang disebutkan Betti di atas hanyalah ilustrasi, dan dalam sebah cara yang contrapunctual, sementara menguraikan perhatian utamanya atas rasionalitas tindakan yang teleologis seperti hal itu berhubungan dengan interpretasi teknis-morfologis. Di sini ia memberikan dukungan kepada pendekatan ideal Weber yang diakuinya sebagai ”analisis teknis atas situasi objektif dan ekonomi tindakan ”sifat hukum” tindakan yang diacu di atas ini masuk ke dalam skema interpretatif yang hanya memiliki status heuristik saja seperti ”tendensi” atau ”normalitas”.

Eksposisi Betti mengenai interpretasi filologis, historis dan teknis-morfologis dengan sebuah tanggung jawab historis—yang terakhir ini seringkali secara elliptical menggoda—dan diikuti oleh interpretasi-interpretasi”reproduktif” dan ”normatif”.

 

Interpretasi Reproduktif

Memahami pada hakikatnya bersifat reproduktif dimana ia menginternalisasi, atau menerjemahkan menjadi bahasannya sendiri, objektivasi-objektivasi pikiran melalui sebuah aktualitas yang analog dengan yang menghasilkan sebuah bentuk penuh-makna. Pemahaman yang terlatih secara hermeneutik mengenai penciptaan bahasa, drama atau musik menambahkan dimensi lainnya—dan dengannya sebuah tanggung jawab spesifik atas apakah yang dimaksud dengan, pada kenyataannya, sebuah proses ”penerjemahan yang dapat dimengerti”. Kesulitan penemuan wilayah ini terletak pada kebutuhan untuk mengekspresikan secara penuh atas apa yang dimilki pengarang, diinginkan atau tidak masih tetap remang-remang. Interpretasi rekonstruktif dengan demikian secara berbahaya dapat ditutupi oleh garis yang memisahkan interpretasi objektif dari interpretasi spekulatif.

Ketika mencoba untuk menyimpulkan teori umum Betti mengenai interpretasi, merupakan sesuatu yang berharga untuk diingat bahwa ia menganggap interpretasi sebagai alat menuju pemahaman. Interpretasi objektif adalah alat untuk membantu mengatasi rintangan-rintangan dalam pemahaman dan menjembatani pencocokan kembali pikiran objektif dengan subjek pemikiran lainnya; kebutuhan akan pengetahuan ”yang relatif objektif” memerlukan subjek interpretasi masuk ke dalam sebuah relasi-relasi subjek-objek dengan sebuah teks tempat objek merepresentasikan ekspresi subjek lainnya. Pemahaman yang tepat hanya berkembang di atas dasar pengetahuan yang benar.

Betti telah berada cukup dekat pada tradisi Kulturwissenchaften neo-Kantian untuk menegaskan sebuah analisis atas fenomena yang diselidiki yang terhubung dengan kuat, dengan tidak memperbolehkannya menjadi sebuah akhir di dalam dirinya sendiri: tujuan ultimat investigasi hermeneutik adalah penjelasan atas makna mereka, menuju sebuah pemahaman yang lebih baik. Sejauh ini ”pemahaman” telah digunakan untuk; pertama, menunjuk pada pemahaman secara umum, sebagai hasil dari sebuah ketajaman pengetahuan dalam ruang apapun, dan kedua menunjuk pada sebuah prosedur metodis, di sini di pahami sebagai verstehen. Metode verstehen atau ”pemahaman motivasional” ”dilihat oleh pendukungnya sebagai sebuah metode yang dengannya dapat menjelaskan tingkah laku manusia”. Betti menganggap pendapat ini salah, sebab verstehen menurut Betti tidak pernah dijadikan oleh para ahli hermeneutika sebagai sebuah bentuk penjelasan kausal atau bahkan sebuah pengganti. Dalam kenyataannya, dalam kondisi apapun, justru ia menjadi kebalikannya: penjelasan kausal seringkali dianggap sebagai suatu yang mendesak hanya ketika verstehen terbukti mustahil untuk meminjam kepadatan objek. (Josef Bleicher, 2003:65)

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s