analisis filsafat, Analisis Politik

PENGANTAR FILSAFAT*

             Mungkin sebagian orang memandang filsafat itu sulit. Namun kenyataannya, semua orang pasti berfilsafat. Sesungguhnya apa yang dicari dari filsafat adalah kebijaksanaan. Prinsip dasar dari filsafat ini berasal dari terminologi (Philo-Shophia) yang berarti cinta kebijaksaan. Banyak para filsuf mendefinisikan cinta kebijaksaan sebagai pedoman hidup. Pemikiran tentang kebijaksaan tentu sudah ada pada era “Sebelum Masehi”. Perkembangan ilmu filsafat dibawa oleh para pemikir (filosof) dengan ajaran kebijaksaannnya. Para filosof zaman Yunani Kuno mengajarkan pemahaman tentang “apa” dan “bagaimana” hakikat, sifat, serta kedudukan ilmu pengetahuan kebijaksanaan dalam cakrawala pengetahuan manusia. Tujuan berfilsafat adalah memperluas wawasan ilmiah sebagai kesiapan utnuk menghadapi perkembangan secara tepat, mendasar, spektakular ilmu pengetahuan yang menyentuh semua segi dan sendi kehidupan secara ekstensif.

Tidak dapat dipungkiri bahwa “berfilsafat” sebagai manifestasi kegiatan intelektual yang meletakkan dasar-dasar pragmatik bagi tradisi dalan kehidupan kehidupan mansyarakat ilmiah ala Barat yang dirintis oleh orang-orang Yunani Kuno abad VI SM. Pada kelahiran filsafat identik dengan corak mitologi. Mitologi diasumsikan dari kepercayaan terhadap dewa-dewa atau keberagamaan. Mitologi juga terjadi akibat gejala-gejala kealaman (kosmogoni) dan kemudian terkonstruksi menjadi sumber pengetahuan yang berasal dari alam (kosmologi). Bagaimanapun corak mitologi ini mendorong upaya manusia untuk berani menerobos lebih jauh dunia pergejalaan untuk mengetahui adanya sesuatu yang eka, tetap, abadi.  Para filsuf pun Yunani Kuno mengajar suatu asas “nihil ex nihilo” (tiada sesuatu yang lahir dengan ketiadaan- sesuatu yang lahir pasti ada dasar sebab atau dasarnya).

Zaman kedua dalam era filsafat adalah adalah zaman pertengahan. Zaman pertengahan diisi dengan pengetahuan yang bersifat logis (rasional). Zaman rasionalisme ini dikembangkan oleh filsafatnya Aristoteles. Pemikiran yang dibangun oleh Aristoteles tentu dibangun dari para filsuf sebelumnya yang sangat mempengaruhi Aristoteles, seperti Socrates dan Plato. Teori yang dibangun oleh Aristoteles membuktikan bahwa semua kegiatan dapat dipertanggung-jawabkan secara akaliah, dan membaginya menjadi ilmu pengetahuan poietis (terapan) dan ilmu pengetahuan teoritik. Ilmu pengetahuan toritik inilah yang dikatakan sebagai hal yang terpenting, dan membaginya menjadi ilmu alam, ilmu pasti (logika atau ilmu mantiq) dan filsafat pertama yang dikenal sebagai metafisika atau ontologi. Zaman pertengahan ini adalah zaman dimana transformasi ilmu pengetahuan begitu pesat. Bahkan dunia Islam juga terpengaruh filsafat. Tak sedikit filosof Islam yang mengembangkan filsafat dalam ajaran agama Islam, sepert Ibnu Sina, Ibnu Rushd, Omar Khayam, dan Al Khawarizmi.

Zaman ketiga adalah zaman modern. Zaman modern atau atroposentrisme Antroposentrisme adalah zaman dimana manusia adalah pusat segalanya. Pada zaman ini melanjutkan sekaligus mengembangkan dua zaman sebelumnya. Era ini dimulai pada era revolusi Industri dan penemuan teknologi mesin, kompas, sehingga era ini adalah zaman awal disebut pada era imperialisme dari Barat kepada Timur.  Melalui penemuan teknologi itu juga terjadi gejala sosial yang cukup meningkat.

Dalam tradisi filsafat, zaman modern ditekankan pada tiga asumsi dasar. Pertama, subjek yang reflektif sebagai pengakuan atas rasionalitas dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan. Kedua, subjektivitas yang kritis sebagai bentuk kemampuan untuk menyingkirkan kendala-kendala yang menghalangi kebebasan berpikir dalam tradisi sejarah masa lampau. Ketiga, kesadaran historis yang menunjukkan sikap optimistik bahwa waktu berkembang secara linier untuk menuju kemajuan.

Kelahiran zaman modern tentu membuahkan pemikir  dunia yang membangkitkan semangat revolusi, seperti Hegel dan Marx. Kedua filsuf tersebut mampu mengubah dunia. Dari dua pemikir tersebut filsafat sudah mampu mendunia. Filsafat mampu merubah dunia. Filsafat tidak diasumsikan menjadi ilmu yang secara teoritis saja, namun pada ilmu praksis.

Para filsuf revolusioner yang menjadi motor gerakan sosial ini bekerja secara sistematis. Bahkan melahirkan para aktivis-aktivis sosial. Sikap kritislah yang ditekankan dalam intelektualitas manusia. Sikap kritis itu adalah asas dalam filsafat. Maka tidak mungkin manusia “normal” tidak berfilsafat”. Karena berfilsafat tidak harus dimulai dari yang sulit. Maka teruslah berfilsafat kawan….

*Tulisan ini adalah Term of Reference untuk acara LK I HMI Komisariat Ilmu Budaya UGM, 7 Oktober 2012.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s