analisis filsafat

Pentingkah (Ber) Filsafat ?

Ahmad Sidqi, S. Fil *

 

           IMG-20121209-00452 Terkadang bila kita mendengar kata “Filsafat” di dalam benak kita selalu berasumsi negatif. Gosip negatif dari kalangan masyarakat kita menganggap bahwa orang yang belajar filsafat, berfilsafat, dan para filsuf dianggap sesat. Kesesatan yang terjustifikasi oleh masyarakat tidak berdasar pada argumen yang jelas. Kalangan tertentu yang menganggap filsafat itu sesat, identik dengan ateis, orang liberal, komunis, bahkan ada pula yang menganggap filsafat itu mempelajari “perdukunan”. Semua paradigma yang salah tersebut harus didekonstruksi total.

Semua orang pasti berfilsafat. Berfilsafat sudah kodrat manusia. Mengapa? Alasanya adalah manusia pasti berpikir, dan berpikir adalah epistemologi dari filsafat. Manusia yang pasti berfilsafat dari mulai yang sangat termudah, hingga mulai dari yang tersulit. Contoh berfilsafat yang termudah;

Seorang balita bertanya pada orangtuanya, “Ayah itu apa” ? (menunjuk pada kursi). Sang ayah menjawab; “itu namanya kursi nak”. Sang balita melontarkan pertanyaan lagi: “Kursi terbuat dari apa ayah? Dan fungsinya kursinya apa ayah?”. Sang ayah menjawab lagi; kursi itu terbuat dari kayu, kursi berfungsi sebagai tempat duduk.

Contoh di atas menggambarkan filsafat secara mudah, yang ‘tidak tersadarkan’ oleh kita. Kemudian dari cerita singkat diatas, diperkuat dengan pertanyaan anak kecil yang sederhana namun filosofis.

Di dalam ilmu filsafat dikenal dengan tiga asas filsafat. Pertama adalah ontologi. Ontologi adalah asas filsafat yang menegaskan “hakikat sesuatu dibalik sesuatu”. Kedua adalah epistemologi. Epistemologi diartikan kerangka berpikir (cara berpikir) untuk menelaah suatu objek. Ketiga, adalah aksiologi. Aksiolologi diartikan pada nilai (value) objek.

Ilmu filsafat memiliki aliran-aliran (mazhab). Rasionalisme, empirisme, intuisionisme. Rasionalisme adalah aliran filsafat yang mengunggulkan akal (rasionalitas) manusia untuk menjustifikasi sebuah kebenaran. Aliran rasionalisme sudah diproklamirkan Socrates di zaman yunani kuno. Socrates memandang kejadian pada saat itu di Yunani mengalami krisis pemikiran, mengapa? Karena Socrates melihat gejolak sosial yang “tidak beres”, masyarakat Yunani menyembah dewa-dewa yang mereka buat sendiri. Melalui mitologi Dewa Zeus, Dewa Atlas, dll yang bagi masyarakat itu adalah Tuhan. Socrates menilai, mana mungkin Tuhan diciptakan oleh mereka  sendiri dalam bentuk seni rupa (patung). Penyebaran ajaran rasionalisme oleh Socrates dianggap menyesatkan oleh otoritas raja Yunani. Akhirnya, Socrates dihukum minum racun hingga wafat.

Aliran kedua adalah empirisme. Empirisme adalah sebuah aliran dalam filsafat yang mengunggulkan pengamatan inderawi (common sense). Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.

Aliran Ketiga adalah aliran intuisionisme. Intuisionisme adalah suatu aliran filsafat yang menganggap adanya satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Tokoh aliran ini diantaranya dalah Henri Bergson. Intuisionisme selalu berdebat dengan rasionalisme.

Ketiga aliran dalam ilmu filsafat tersebut. Menyebar secara sporadis dengan berbagai pisau analisis kehidupan. Agama, Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, dll. Penyebaran filsafat untuk mengalisis segala bentuk sendi kehidupan manusia. Perkembangan pemikiran multidisipliner ilmu pengetahuan, baik dari yang begitu besar hingga sekarang ini. Para filsuf dari zaman Yunani kuno, hingga zaman posmodernisme (zaman sekarang ini) merupakan perkembangan dari campur tangan filsafat. Mungkin tak banyak yang diketahui orang kalangan masyarakat bahwa filsafat memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Karakteristik dalam filsafat yang begitu bervarian dikarena paradigma pemikir tersebut dengan konteks (lingkungan) yang mempengaruhinya. Pemikir Yunani kuno seperti Socrates tentu tidak sama dengan pemikiran Konfucius di China. Konfucius sangat mengedepankan etika dan moralitas.

 

 

Apa Kontribusi Filsafat Untuk Indonesia ?   

Jas Merah! Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah ! Begitu kata Bung Karno. Indonesia menjadi sebuah negara yang merdeka tidak instan, Indonesia bukan negara common wealth seperti Malaysia, Singapore, dll. Indonesia berdiri sendiri atas perjuangan bangsa Indonesia yang kritis, rasional dan bertumpah darah.

Filsafat menjadi ujung tombak perjuangan bangsa Indonesia. Para founding father kita membaca karya-karya filsafat dari para filsuf. Bung Karno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Sutan Takdir Alisyahbana, dll merupakan cetakan filsafat. Walaupun mereka tidak membidangi filsafat dibangku sekolah. Soekarno dalam karya-karyanya seperti; Indonesia menggugat Di bawah Bendera Revolusi, dll  sangat dipengaruhi oleh Plato dalam karyanya “The Republic” dan Karl Marx dalam karyanya “Das Capital. Tidak hanya itu, Hatta turut menganalisis dalam filsafat ekonomi keynesian dan Adam Smith yang beraliran kapitalisme. Hatta sangat anti terhadap kapitalisme yang menjadikan Indonesia objek dari eksploitasi sumberdaya alam dan manusia demi income dari negarapenjajah.

Inilah sebabnya mengapa para pahlawan kita disebut sebagai founding father, karen mereka bukan hanya berjiwa pejuang, tepi juga pemikir. Melalui landasan kritis, filsafat mampu merubah dunia.

 

Filsafat Dalam Titik Lemah

Penulis mengakui filsafat memiliki titik kelemahan. Apa ya mendasari kelemahan filsafat adalah bahasa. Bahasa dalam filsafat memiliki makna yang luas, asing di dengar orang. Tidak dilepaskan dari mana asal bahasa tersebut. Misalkan Yunani, German, Amerika Serikat, Inggris, Arab dll. Untuk memahami bahasa filsafay dari berbagai negara, tentu kita harus menguasai bahasa tersebut. Konsekuensi itu bukanlah sebuah kendala atau hal yang menyulitkan bagi penggiat filsafat. Akan tetapi, anggap saja sebagai sebuah tantangan demi meningkatkan intelektualitas kita.

Kesulitan terakhir, adalah mentransformasikan filsafat dalam kehidupan. Caranya, ambil filsafat sesuai dengan basic bidang keilmuan kita, misalkan mengambil jurusan ilmu budaya, maka ambillah filosofi dari kearifan lokal suatu suku/ budaya tertentu. Dengan demikian wawasan keilmuan kita akan bertambah dan kebijaksaan dalam hidup.

 

 

Salam hangat, Yakusa !!

 

 

 

 

 

 

 

Term of reference ini untuk LK HMI Komsat FIB (9 Desember 2012)

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s