Islamic Article

Bagian I: Kontemplasi dalam Tasawuf, Adakah itu?

Ahmad Sidqi

dscn0184Kita tahu, bahwa pengalaman mistik/tasawuf tumbuh di dalam nilai keagamaan. Kontemplasi yang dimaksudkan oleh Ibnu Atha`illah adalah dengan menggunakan akal ketika melakukan refleksi atas keberadaan manusia dimuka bumi, bagaimana peran dan sikap yang harus dijalani. Artinya bahwa Ibnu Atha`illah tidak mengesampingkan adanya peranan cerapan inderawi dalam proses spiritual, melainkan menempatkan akal dan cerapan inderawi sebagai dasar kontemplasi-intutif yang diperankan hati. Ibnu Atha`illah membagi dua jenis tafakur, yaitu: tafakur dalam pembenaran (tashdiq) beserta keimanan dan tafakur dalam penyaksian beserta penglihatan. Yang pertama adalah untuk golongan mereka yang mengambil pelajaran, dan yang kedua adalah untuk golongan yang telah menyaksikan (penyaksian batin) dan melihat (penglihatan batin) (Atha`illah, tt[b]: 76).

            Akal yang digunakan dalam mistisisme ialah akal intuitif atau intuitus mysticus (intuisi mistikus). Tujuan akal intuitif ialah menyatukan apa yang dilihat kalbu, sehingga rahasia ketuhanan atau wujud terpahami sampai hakikatnya terakhir. Tentu berbeda dengan akal bersifat analitik yang bertujuan memilah-milah segala hal sampai dijumpai ciri terakhir dari sesuatu yang membedakannya dari sesuatu yang lain, meskipun dalam keberangkatannya akal jenis ini juga digunakan. Ibnu Atha`illah meyakini peringkat yang dicapai melalui pengetahuan intuitif lebih tinggi dibanding peringkat pengetahuan yang dicapai oleh pemahaman rasional, sebab pengetahuan intuitif mampu “mentransendensikan kebenaran”.

Ibnu Atha’illah juga membedakan antara uzlah dan kholwah. uzlah adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara selalu mengontrol dirinya dan menjauhi kecintaan terhadap dunia. Ketika seorang mistikus/sufi sudah mantap dengan uzlah dan nyaman dengan kesendirian, maka kemudian memasuki tahapan khalwah yang dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT secara maknawi.

            Dalam pandangan Ibnu Atha`illah, segala sesuatu yang ada dalam alam semesta dianggap sebagai satu kesatuan. Bahkan kejahatan pun dipandang sebagai kebaikan jika itu merupakan pemberian Tuhan. Artinya bahwa terkadang kejahatan atau keburukan membawa kebaikan jika itu menjadi lantaran seorang mistikus/sufi lebih mengenal dirinya, juga Tuhannya. Namun untuk memperoleh makna yang demikian dalam dari kejahatan maupun kebaikan, mistikus/sufi diharuskan selalu introspeksi diri dengan jalan kontemplasi. Bahkan kedirian atau egoisme manusia yang menjadi musuh utama dalam pembersihan diri seorang mistikus/sufi pun dianggap sebagai hal yang baik ketika dapat membangkitkan gairah untuk menjalani proses spiritual menuju Tuhan.

            Sebagaimana yang telah diungkapkan diatas bahwa Ibnu Atha`illah mengolongkan sufi/mistikus dalam dua kategori yang berkebalikan, yaitu: majdzub dan salik. Mistikus/sufi majdzub adalah orang yang menggalami mabuk Tuhan, menggalami kefana`an (ekstase), mencapai pengetahuan Tuhan (ma`rifat) secara langsung dan tiba-tiba, tanpa disangka-sangka. Karena memang Tuhan berkehendak untuk memberikan karunia ma`rifat kepadanya. Ini merupakan hak mutlak Tuhan yang tidak bisa diganggu-gugat. Sedangkan salik adalah orang yang menempuh jalan spiritual dengan usahanya. mistikus/sufi golongan salik yang harus menempuh jalan spiritual untuk mengenal Tuhan.Penting untuk ditegaskan bahwa metode ini tidak bersifat hierarki sebagaimana proses yang selalu berkelanjutan, melainkan selalu berjalan beriringan. Hanya saja terkadang beberapa diantaranya mendapat porsi yang lebih besar dibanding yang lain. Metode-metode mistik tersebut, yaitu; pembersihan diri,kebangkitan diri, pencerahan diri dan kontemplasi.

            Pembersihan diri berarti bahwa ketika seseorang memutuskan untuk menempuh jalan spiritual dan harus mempersiapkan dirinya untuk perjalanan tersebut. Pada tahap ini seorang mistikus/sufi memulai dengan mempertebal rasa tauhid dalam dirinya, ini berarti membuang segala prasangka yang tidak benar tentang Tuhan. Mereka juga sekaligus membersihkan hatinya dari gambar apapun selain Tuhan. Ibnu Atha`illah menyatakan seorang mistikus/sufi harus memahami bahwa Tuhan adalah maha segalanya yang tahu akan kebutuhan hambanya dan bijaksana atas segalanya, termasuk dalam menentukan tempat (maqam) dan karunia spiritual untuk hambanya. Jadi dalam tahapan ini, mereka pun juga harus tahu tempat pemberangkatan (maqam) dirinya, sebagai mistikus/sufi salik ataukah majzdub, tajrid ataukah asbab.

            Pada tingkatan ini juga, mereka harus mengosongkan diri dari sifat-sifat manusiawi yang tercela, seperti riya`, sombong dan bangga atas diri. Serta berusaha melepaskan ketergantungan terhadap selain Tuhan, karena hal ini dipandang sebagai hambatan yang besar dalam perjalanan. Pembersihan diri ini memuat dua tema utama, yaitu pelepasan diri dari ketergantungan ciptaan. (makhluk/selain Allah) dan pembersihan hati dari anggapan-anggapan buruk terhadap Tuhan.

Standar

One thought on “Bagian I: Kontemplasi dalam Tasawuf, Adakah itu?

  1. Djajot Adhi berkata:

    Ass..
    Di akhir akan teradopsi :

    Dengan tangan-Mu, aku menyentuh
    Dengan kaki-Mu, aku berjalan..

    Denagn mata-Mu, ku memandang
    Dengan telinga-Mu, ku mendengar
    Dengan lidah-Mu, aku bicara
    Dengan hati-Mu, aku merasa..

    Kusebut nama-Mu, disetiap hembusan nafasku.. Kusebut nama-Mu…

    Wassalam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s