Tak Berkategori

NOKTAH BERDARAH NEGERI KINANAH

GambarTeringat seruan Nabil Qoshari, seorang kritikus kondang Mesir pada tahun 1920; “Bersiaplah bersembunyi di balik kuburan bila tokoh politik pujaan andda tersingkir dari arena politik atau dihalang-halangi” . Pekikan Qoshari itu secara tiddak langsung menyentil massa penddukung Saad Zaghul, pendiri ddan tokoh sentral partai al-Wafd. Dalam bukunya Qoshari yang berjudul “Al-harakah al-Siyasyah fi Mishr” (Gerakan Politik Mesir), Qoshari mengisahkan betapa tergila-gilanya masa pendukung al-Wafd pada Saad Zaghul.

Saat Zaghul adalah seorang artsitek revolusi kemerdekaan Mesir tahun 1919 dalam perjuangan mengusir penjajahan Inggris dari negeri Kinanah itu. Seperti kebanyakan tokoh politik dan pejuang kemerdekaan yang lainnya, Zaghul berulang kali keluar-masuk penjara dan diasingkan di beberapa negara jajahan Inggris, seperti Yaman dan Jabal Thariq, (sekarang daerah Gibraltar).
Berkat keuletan Zaghul dalam memimpin revolusi Mesir pada tahun 1919. Inggris mengakui secara resmi mengakui Mesir sebagai negara berdaulat pada tanggal 22 Agustus 1927. Menariknya, Zahgul merupakani seorang Azhari (Alumni Al-Azhar), ia juga seorang hafiz Quran yang berkiprah di ideologi nasionalisme, bukan pada ideologi Ikhwanul Muslimin.

Secara sepintas, analisis Qoshari menyangkut era kejayaan partai al-Wafd pimpinan Zaghul di seperempat abad, setelah wafatnya Zaghul . Putra ideologis Zaghul, Abbas Akkad yang akan melanjutkan kepemimpinan al-Wafd. Di mata para pendukung al-Wafd, antara Zaghul dan Akkad tidak ada bedanya. Keduanya memiliki mental revolusioner. Meskipun Zaghul memiliki nilai yang lebih tinggi. Menurut seorang sejarawan Mesir, Rizq Shalabi kedua tokoh tersebut memiliki karakter yang sama dan dengan menerapkan asas kerakyatan dan keadilan untuk rakyat Mesir.

Kejayaan partai al-Wafd harus turun dari tampuk kekuasaan. Saat mesir bergejolak revolusi oleh kolonel Gamal Abdul Nasser, yang merubah sistem kerajaan menjadi sistem republik di Mesir. Semenjak tahun1952 tersebut partai al-Wafd terpuruk. Dan pada tahun 1953, Mesir secara sah berubah menjadi negara republik.

Semenjak sistem republik diterapkan di Mesir, presiden pertama dan kedua Mesir Muhammad Naquib (1953-1954) dan Gamal Abdul Nasser (1954-1970) tidak mengalami percaturan partai politik. Pada tahun 1961, barulah Mesir membuka kembali percaturan partai politik di rezim Gamal, walaupun hanya satu partai yaitu partai Uni Sosialis Arab, yang dikendalikan oleh Gamal. Memang agak lucu, ketika militer memegang sistem politik yang akhirnya Mesir menjadi berhaluan otokrasi.

Tahun 1977, Gamal digantikan Anwar Sadat. Sadat mulai menerapkan sistem multi partai, termasuk parta Ikhwanul Muslimin (Partai Islam), al-Wafd (partai nasionalis), partai Demokratik Nasional, partai Komunis Mesir. Namun tetap, yang dominan adalah Partai Uni Sosialis Arab.

Nasib buruk menimpa Sadat, terjadi gejolak revolusi berdarah yang menembak mati Sadat oleh kelompok garis keras Mesir pada tahun 1981. Kala itu tampuk kepemimpinan Mesir dipegang oleh Husni Mubarak hingga tahun 2010. Mesir bergejolak lagi yang mana revolusi ini dibangun atas dasar isu KKN oleh Mubarak dan antek-anteknya. Pemilihan umum Mesir tahun 2011 dimenangkan oleh partai Ikhwanul Muslimin dengan presiden Muhammad Morsi, namun lagi-lagi Mesir terjadi revolusi. Kini, Mesir dipegang kendali sementara oleh Al-Sisi.

Negeri Kinanah, yang cantik dengan penuh sejarah peradaban sekaligus luka berdarah….

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s