Islamic Article

Bishri bin Harist al-Hafy Sang Wali Abdal

Syaikh+Abdul+Halil+MahmudBishri bin Harits al-Hafy. Sosok wali abdal yang populer dalam tasawuf. Ia bergelar al-Hafy, yang artinya (bertelanjang kaki ). Bishri dulunya adalah mantan preman, pemabuk, penjudi, juga pernah membunuh (kalau dikatakan sebenar-benarnya begundal) di Merv, kota kelahirannya (sekarang daerah Soviet/Rusia). Bagaimana ia bisa berubah drastis? Suatu hari Bishri ingin pergi ke sebuah pasar untuk melakukan pekerjaan haramnya. Di perjalanan, Bishri menginjak sebuah secarik pelepah lontar, kakinya tidak bisa diangkat untuk melangkah ke depan, sungguh terasa berat kaki kanannya. Akhirnya Bishri mengecek apa sebenarnya pelepah lontar itu. Mengejutkan! Bishri menginjak ayat basmallah. Tersedak Bishri terdiam, berpikir. Ia membawa pelepah kurma yang berukir basmallah tersebut dan melanjutkan perjalanannya ke pasar. Di pasar Bishri membeli wewangian. Tujuannya untuk membersihkan pelepah kurma yang berukir ayat Allah tersebut, kemudian ia pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Bishri membersihkan pelepah lontar tersebut dengan wangi-wangian yang dibelinya di pasar, dan setelah selesai dibersihkan dan diwangikan , ia simpan dalam kotak dan diletakkan dalam lemarinya.

Malampun berlalu, Bishri sangat mengantuk lalu ia tertidur pulas. Saat tertidur ia bermimpi sebuah cahaya dengan suara yang lantang “Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah menyucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti”. Mimpi itu tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Bishri merasa takut, gelisah, dan hasrat was-was yang tak terkira yang membuat Bishri terngiang-ngiang dalam pikirnya. Akhirnya, ia bertanya apa makna mimpi itu kepada seorang ulama, siapa orang yang ada dalam mimpi itu? Darimana asalnya orang itu?. Ulama itu tidak menjawab, hanya menunjukkan jari ke arah Barat, “disana”.

Bishri pun berangkat ke utara tanpa tahu siapa yang dicarinya. Perjalanan panjang, dengan bekal seadanya dan juga ia membawa pelepah lontar yang ia temukan itu.
Mulailah ia berjalan pada pengembaraannya. Suatu hari dalam perjalanannya, perbekalan Bishri habis, semuanya makanan, dan hartanya telah habis. Yang tersisa hanya baju kotor yang dikenakannya dan sendal terompah dan pelepah lontar yang berisi Kalamullah itu. Malampu datang dengan dingin di gurun sahara. Bishri bermimpi lagi dengan orang itu. Sekali lagi, orang dalam mimpi Bishri itu juga berkata sama. Namun reaksi ketakutan Bishri saat bangun dari mimpi itu benar-benar dahsyat, seakan terjadi gempa bumi. Ia benar-benar menggigil ketakutan. Tengah malam gelap gulita ia melanjutkan lagi perjalanan ke Barat .

Tibalah ia di Baghdad, dengan rasa lapar yang luar biasa. Ia tak mampu bekerja mencari uang karena fisiknya yang amat lelah. Akhirnya Bishri menjual sendal terompah bututnya untuk sepotong roti kecil dan juga setengah kantong air (itupun diberi secara percuma karena belas kasih orang). Dalam hatinya, Bishri mengatakan; “Biarlah aku bertelanjang kaki, ini atas dasar penghukumanku yang telah menzalimi asma’ Allah dan atas dosa-dosaku sebelumnya”.

Di baghdad, ia hidup benar-benar sederhana. Bekerja sebagai kuli panggul dan pekerjaan berat lainnya. Ia juga belajar al-Quran dan Hadist di Baghdad dibimbing oleh para ulama. Setiap hari ia bertelanjang kaki, menapaki jalan yang panas, berdebu, dan pasir yang panas saat kemarau, dan becek dikala hujan. Orang-orang yang melihat Bishri menertawainya, menghinanya; “ Lihat, ia Majnun (orang gila), berpakaian compang-camping”. Terdengar oleh Bishri, ia menemui orang mengatakannya. “Aku malu pada Allah, saya sombong. Aku pernah menginjak Kalamullah, biarlah aku menapaki bumi Allah tanpa alas, sebagai hukumanku pada diriku yang telah menghina Kalamullah. Lagipula bumi Allah ini adalah permadani-Nya yang indah dan suci. Aku tak mau menapaki dengan kesombongan”. Mereka yang menertawai Bishri, kontan tertegun dan menangis. Menangis atas kesombongaan mereka. Mereka tersadarkan, bahwa Bishri adalah Majzub (orang yang gila cinta Ilahi). Mereka meminta maaf dan meminta bimbingan Bishri. Namun Bishri menolak, ia hanya berpesan; “mintalah ke pada Sang Pembimbing melalui hatimu”.

 

Kisah ini diringkas dari buku Dr. Abdel-Halim Mahmoud, yang berjudul “ Bishri bin Harits al-Hafy, Cetakan Daar Ma’arif, Cairo

 

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s