Islamic Article

Kontroversi Sang Sufi Hulul: Mansur Al-Hallaj

Islamic_Mystic_and_Martyr_al_HallajNamanya Husein bin Mansur al-Hallaj, seorang sufi yang terkenal akan teori sufisme al-Hulul (kesatuan antara manusia dan Tuhan). Bangunan dasar sufisme berangkat dari tiga aspek epistemologi sufisme, diantaranya Wahdlat ul-Wujud (Kesatuan Wujud), Haqiqat ul-Muhammadiyah (Hakikat Nabi Muhammad), dan Wahdlat ul-Diniyyah (Kesatuan Agama). Konsep ini tidak diterima oleh para ulama, dan para ahl fuqoha. Bagi mereka Al-Hallaj telah keluar dari koridor keislaman dan melanggar batas-batas syariat. Perlu kita ketahui juga, aspek kehidupan lain juga ikut mempengaruhi, seperti aspek sosial politik kala itu.

Keadaan sosial di masa Al-Hallaj dipimpin oleh khalifah Al-Muqtadir yang memerintah di usia muda. Al-Hallaj ditahan dengan alasan dia telah zindiq, ia juga pernah mengatakan, “Ana Al-Haqq, Ana Al-Haqq, Ana Al-Haqq (Akulah Kebenaran, Akulah Kebenaran, Akulah Kebenaran)” di depan masyarakat umum. Tentu ini merupakan kegelisahan yang membuat sampai tingkat kesultanan. Perlu diketahui, bahwa Al-Haqq adalah bagian dari Asma’ ul-Husna (nama lain dari Tuhan). Asma’ul-Husna merupakan citra Tuhan, bukan Dzat Tuhan itu Sendiri. Tentu berbeda antara Asma Tuhan dan Dzat. Asma’ Tuhan dapat diberikan oleh Allah kepada manusia. Terminologi ini dalam tasawuf adalah yang dikatakan sebagai an-Nasuth.

Delapan tahun lamanya Al-Hallaj mendekam di dalam penjara , tibalah saatnya Al-Hallaj menjalani pengadilan yang dipimpin oleh qodi sekaligus wazir yang bernama Al-Hamid bin Abbas. Para sejarawan Islam menyimpulkan bahwa wazir ini bukanlah seorang yang kompeten dan ahli dalam bidang hukum, wazir Al-Hamid seakan mengikuti perintah para ulama, tanpa memberikan hak berbicara kepada Al-Hallaj, mengapa ia mengatakan “Ana Al-Haq”. Kaum sufi yang mendukung Al-Hallaj membela dengan tegas, bagi pendukung Al-Hallaj harus membuka dialog tentang ketauhidan, terutama dengan tema Asma’, Sifat, dan Dzat Allah sebelum jatuhnya keputusan pengadilan. Namun wazir menolaknya dengan mentah-mentah. Dan Al-Hallaj dijatuhi hukuman mati.

Kalau kita perhatikan dalam sejarah Bani Abbas di zaman pemerintahan Al-Muqtadir, terjadi korupsi yang besar-besaran oleh para wazir sehingga rakyat sengsara. Ulama yang seharusnya dapat menjernihkan manusia menuju akhirat ikut terlena oleh duniawi.
Pada hari eksekusi Al-Hallaj masyarakat beramai-ramai datang ke lapangan istana untuk menonton eksekusi mati. Al-Hallaj di bawa kelapangan dengan wajah ditutup, kaki dan tangan di rantai dengan besi. Menuju lapangan, Al-Hallaj diantar oleh dua sahabatnya yang sekaligus sufi juga, ialah Abu Bakar As-Syibli dan Abil Hasan Al-Washiti dan juga kepala tentara kerajaan (askar) yang bernama Muhammad bin Abdus-Shamad.

Tepat ditengah lapangan dan kerumunan masyarakat yang menonton. Wazir memberikan kesempatan permintaan terakhir untuk Al-Hallaj. Al-Hallaj hanya meminta 2 permintaan. Permintaan pertama adalah meminta dilepaskan tutup kepala dan semua borgol yang membelenggu kaki dan tanganya, “aku berjanji pada Dzat yang terdapat di dalam tubuhku, aku tidak akan kabur”. Permintaan kedua, aku hanya ingin Sholat di tengah lapangan ini. Panas teriknya di bumi Abbasiyah tak menggentarkan Al-Hallaj untuk solat dalam menghadapi kematian yang tinggal menunggu menit demi menit. Kedua permintaan ini dikabulkan oleh wazir Al-Hamid. Tutup kepala dan borgol dilepaskan, ia melihat dunia yang terakhir kalinya.

Al-Hallaj membisikkan sesuatu kepada sahabatnya, As-Sibly, “wahai saudaraku apakah engaku memiliki kain bersih untuk alas sujudku? As-Sibly membuka surban kepalanya, dan memberikan kain. “Saudaraku, surban ini tidak pernah lepas dari kepalaku untuk menyembah kepada Tuhan Semesta Alam, sebagai penghormatanku padamu, kuberikan ini untuk sujudmu”, kata As-Sibly. Al-Hallaj lalu melakukan solat zuhur dan solat taubat untuk yang terakhir kalinya. Saat solat taubat, al-Hallaj di rakaat pertamamembaca surah al-Fatihah dan ayat ” Walanabluwannaku bisya’i minal khaufi wal- ju’i “ artinya dan akan diberikan cobaan kepada kamu dari ketakutan dan kelaparan (QS Al-Baqarah 155) dengan sangat pelan, namun semua masyarakat yang menonton mendengar dengan keras, hingga sultan Al-Muqtadir mendengarnya dari istana dalam ruangan kamarnya. Rakaat kedua, Al-Hallaj membaca surat al-Fathihah dan ayat “Kullu Nafsin Dzaa-iqotul Maut” artinya: Setiap orang pasti akan menghadapi kematian (QS Ali Imran: 85). Sekali lagi suara syahdu shalat Al-Hallaj menggetarkan seantero istana.

Selepas shalat, Al-Hallaj berdoa dengan syi’ir keluar dari lisannya. Syair doanya begini;
كيف اشكو الى الطبيب لمابى…والذي قد اصابني من الطبيبي…ليس راحة ولا لى شفاء….من سقامى الآ بوصل حبيبي….
“Aku mencari tempat yang tenteram di atas bumi…..Tahulah aku, bukan di bumi yang tenteram….Kuiikuti saja apa mau-Ku, aku diperbudak-Nya….kalau kucukupkan yang ada, akupun merdeka dengan kerinduan Kekasihku! “
(Syair Al-Hallaj dalam Kitab Tawasin)

Detik pengeksekusian akan terjadi. Al-Hallaj, diangkat dari tempat sujudnya yang terakhir. Ia diseret bangun ke arah kiblat. Wazir memerintahkan untuk mecambuk al-Hallaj dengan lima puluh cambukan dengan dengan lima pencambuk, masing-masing pencambuk dengan 10 cambukan. Hukuman ini atas berdasarkan hukuman telah mengganggu ketenangan masyarakat kesultanan Abbasiyah Hukuman kedua adalah pemenggalan kepala.

Al-Hallaj menerima saja hukuman itu. Tiba-tiba Al-Hallaj melakukan takbiratul ihram, seperti sedang shalat (beberapa versi Al-Hallaj memang melakukan shalat lagi) dan pencambuk melakukan cambukannya sebanyak lima puluh kali cambukan. Darah keluar dari tubuh Al-Hallaj, dipunggung, dada, paha dan kaki. Begitu derasnya darah yang mengalir jatuh ke tanah. Gamis kumal yang dikenakan Al-Hallaj penuh dengan darah. Al-Hallaj seakan mati rasa. Kemudian Al-Hallaj melakukan ruku’, dan algojo dengan tangkas menebas batang leher Al-Hallaj dengan sekali tebasan. Badan Al-Hallaj tersungkur dan tergeletak ke kanan.

Kepala Al-Hallaj terpental beberapa meter, dan lagi, darah dari urat leher menyembur amat deras. Anehnya, darah yang seharusnya berbau amis, darah Al-Hallaj amat wangi. Darah yang menetes ke tanah tiba-tiba membentuk huruf Allah. Sontak, semua orang yang menyaksikan keheranan, takut, termasuk juga algojo. Saat mayat Al-Hallaj akan diangkat dan dikebumikan, ada peristiwa aneh lain. Tubuh Al-Hallaj yang lebih diangkat, dan kemudian kepala al-Hallaj. Anehnya, kepala Al-Hallaj yang akan diangkat tiba-tiba dari kepala Al-Hallaj ada suara “Assalamualaikum ya Ayyuhannas” sebanyak tiga kali. Sontak semuanya terdiam, ada yang takut, dan ada juga yang menangis.

Abil Hasan Al-Washiti yang menyaksikan kepergian sahabatnya, menangis dan meneriakkan “Subhanallah, Allahu Akbar…..Allahu Akbar…Allahu Akbar !”

Cerita Al- Hallaj ini diringkas dari buku yang berjudul “Kitab Akhbar Al-Hallaj”, karya Ali bin Anjabi As-Saa’i Al Baghdadi, cetakan Haquq at-Tab’ah Al-Mahfudzah, Suriyah. Dan Kitab “At-Thawasin”, Karya Mansur Al-Hallaj

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s