Tak Berkategori

MARBOT ; SUFISME AHL MASJID DAN SERBA-SERBINYA

crop idul fitriSepulang pengembaraan panjang di tanah Yogyakarta dan Amerika Serikat, aku kembali ke kampung halaman. Jakarta, kota megapolitan adalah kampung halamanku. Kota yang digempur oleh segala bentuk globalisasi dan modernitas. Tulisan ini kubuat atas dasar fenomena yang kulihat dan baru tersadarkan betapa pentingnya merbot bagi umat Islam.

Merbot atau takmir masjid adalah seorang yang menjaga masjid, merawat dan memelihara masjid, baik dari bangunan dan inventaris masjid, maupun kebersihan masjid. Kalau kita perhatikan dengan seksama, mungkin kita akan menyepelekan tugas seorang merbot masjid. Aku baru menyadari betapa pentingnya seorang merbot di masjid.
Di dalam sejarah Islam di zaman Nabi Muhammad (SAW) tidak termaktub secara verbal bahwa adanya seorang merbot atau tugas seorang merbot baik itu masjid Nabawi (yang ketika itu di rumah Nabi Muhammad), maupun di Masjid Haram. Namun ada hal yang tersirat dari kisah merbot seorang muslimah yang suka menyapu pelataran masjid Nabawi. Muslimah tersebut dahulunya adalah seorang hamba sahaya berkulit hitam yang dimerdekakan oleh sahabat Usman bin Affan (RA). Beliau bernama Ummu Mihjan.

Ummu Mihjan menjadi seorang merbot atas dasar pengabdiannya kepada Allah SWT dan itu bukanlah merupakan tugas pokok seorang muslim atau muslimah. Namun itu merupakan kesadaran yang terbangun atas dasar cinta pada Islam dan nilai-nilainya. Ada kisah lain yang hidup Di zaman Rasulullah yang mengabdikan dirinya untuk Allah SWT di masjid Nabawi. Dulu ada kaum fakir miskin difabel, menggunakan pakaian kain wol yang usang. Mereka adalah Kaum Suffah. Suffah berasal dari kata ‘shuf’berarti wol dan juga bisa bermakna lembut. Ketika Rasul, para sahabat, dan mujahidin akan berperang Khandak (kota Madinah akan diserang oleh kafir Quraisy). Kala itu, kaum suffah ingin ikut jihad berperang. Namun Rasulullah melarangnya berjihad . Rasul meminta untuk tetap di masjid Nabawi untuk berjaga. Tentu bila kita ambil hikmahnya, Rasulullah melarang dengan alasan yang pokok, bahwasannya masjid adalah benteng islam sekaligus benteng akidah. Bila benteng islam itu rusak, kemungkinan akan rusak juga benteng akidah.
Berdasarkan dua kisah itu tersebut, kita patut mengambil pelajaran betapa pentingnya masjid dan para marbotnya.Tentu pula dengan adanya marbot, umat muslim dapat terfasilitasi dalam rumah ibadah.

Zawiyah, Marbot dan Sufisme

Bila kita memperhatikan bagian masjid, ada beberapa masjid yang terdapat ruangan khusus yang biasanya digunakan untuk kesekertariatan pengurus masjid. Ruangan ini juga digunakan oleh para merbot dan juga para sufi untuk berzikir, tadarus al-Qur’an, berkhalwat dan kegiatan ibadah sunnah lainnya.

Ruangan masjid ini disebut dengan zawiyah. Adanya zawiyah dalam sejarah Islam bermula dari jajaran tanah Afrika Utara, yang tersebar dalam daerah Maghrib/ Maghrob. (Mesir, Sudan, Libya, Maroko, Al-Jazair dan Tunisia) pada abad 13. Para ulama membangun masjid dengan tambahan ruangan zawiyah kepada para marbot dan juga para sufi yang menghidupkan agama Islam. Menurut Mohammed Arkoun dalam bukunya Le Islam Approach Critique tahun 1992, para marbot dan sufisme mengajarkan ajaran Islam melalui jalan sufi di zawiyah. Pandangan ini bagi Arkoun adalah dengan melepaskan diri dari urusan politik (kekhlifahan). Para guru sufi (mursyid) mengajarkan laku mistik kepadda murid-muridnya di zawiyah tersebut. Beberapa mursyid yang berhasil mengajarkan jalan sufi kepada murid-muridnya diantaranya, Syekh Rifa’i (Thariqah Rifa’iyah), Syekh Ahmad Tijani (Thariqah Tijaniyah), dan juga Syekh Abul Hasan Sadzaliy (Thariqah Sadzaliyah).

Berkaca pada ajaran-ajaran sufisme di masjid tidak dapat melepaskan ajaran Islam, Iman, dan Ihsan. Mursyid mengajarkan hal ini dengan metode zikir, dan menghidupkan amalan sunnah. Tujuannya adalah mengggapai cinta Allah. Dengan menggapai cinta Allah, maka setiap insan akan menebar cinta kepada manusia dengan akhlak yang mulia, mengikuti akhlak junjungan nabi Muhammad SAW.

Maka tidak salah bila kita perlu mengapresiasi dan mencontoh para marbot yang menghidupkan masjid, melayani ibadah umat muslim di masjid. Sebuah pengabdian yang istiqomah dari pada marbot.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s