Islamic Article

PELAJARAN DARI MAULANA JALALUDDIN AR- RUMI

IMG-20140601-01420Perhatianku yang cukup besar pada setiap pemikiran sufisme membuka suatu hal yang amat besar bersinggungan dengan peradaban. Khususnya aku memberikan perhatian lebih pada sufistiknya Jalaluddin Ar-Rumi. Rumi menolongku dalam memahami peta konflik antara alam materi dan alam non materi.Rumi hidup di masa yang sangat sulit. Masa yang sarat akan banyaknya perselisihan, dan pertikaian antar manusia, bahkan banyak terjadi pertumpahan darah. Tentu hal ini terjadi karena situasi ekonomi, sosial, dan politik yang sangat buruk. Pada masa itu juga, terjadi penyerbuan pasukan Hulagu (pasukan yang dipimpin oleh Jenghis Khan dari kerajaan Mongol). Penyerbuan pasukan Hulagu dan Jenghis Khan menghancurkan pusat penyebaran agama Islam di dataran Romawi Timur, termasuk Konya, tempat kelahiran Rumi. Memang semua tentara di belahan dunia segan terhadap pasukan Hulagu yang memang berani mati, tanpa ampun kepada musuh. Namun, Rumi dan umat muslim di tanah Romawi Timur percaya akan kekuatan Allah yang lebih besar daripada tentara Hulagu.

Perang, kezaliman, perebutan kekuasaan adalah hal yang biasa dalam faktor keduniawian. Bagi Rumi, kedamaian dalam rohani adalah sebuah nilai keutamaan yang dalam menghadapi problematika kehidupan. Karya Rumi yang berjudul “Fîhi Mâ Fî” dan “Matsnawi” mengantarkan kita pada kesusasteraan ontologis. Dua karya tersebut mencerita keadaan yang dirasakan Rumi, ya kesakitan dalam sisi lahiriah. Sejarah mengajarkan pada kita suatu kesederhanan, yaitu kita dapat menyelesaikan segala kesulitan yang dihadapi dengan cara berpegang teguh pada prinsip rohani (spiritual). Sayangnya sebagian besar manusia saat ini berpura-pura kenyataan yang sederhana itu.

Hingga kini aku berkeyakinan bahwa apa yang dalam pikiran Rumi seiring dengan zaman yang mana kita hidup. Misalnya zaman sekarang ini ditantang oleh modernisme, globalisasi dan segala bentuk kenyamanan yang membentuk manusia menjadi profan. Aku memperhatikan banyak umat beragama yang bekerja diperkantoran. Berpenampilan eksekutif, namun ia masih menyempatkan diri untuk ‘memegang tasbih untuk bertasbih’ dan membaca kitab suci Al-Quran di Masjid pada saat sibuknya urusan duniawi. Urban sufisme, memang sangat jarang tampak di tengan kota megapolitan di Jakarta.

Pada tahun 2012 aku berangkat ke Washington DC untuk belajar dalam kelas internasional riset di George Washington University untuk mengkaji Islamic di Amerika. Muslim di Amerika Serikat lebih mendapatkan tantangan besar daripada Muslim di Indonesia. Semenjak kasus terorisme yang terjadi di gedung WTC, yang isunya dilakukan oleh oknum dari organisasi Islam radikal (al-Qaeda). Wajah Islam kian memburuk. Akupun tak surut dari hantaman rasial karena namaku berasal dari nama Islam (Ahmad Sidqi). Rumi mengajarkan aku banyak kesabaran, dan mengendalikan ego. Terutama ego untuk memberontak dan marah.

Kesusasteraan Rumi Tiada Berhenti

Pertama kita membedah Rumi melalui karya “Fîhi Mâ Fî”. Karya “Fîhi Mâ Fî” adalah karya yang sangat filosofis, mengandung kajian ontologi. Tentu ruang lingkup karya ini menggunakan pisau analisa Islam sebagai basis teoritis. Singkatnya, Rumi sering menggunakan kata ’Dzat’ sebagai ‘As-Sholat ul-Wujud’ atau wujud yang mutlak, berdiri dengan sendirinya. Ia menegaskan bahwa Dzat adalah realitas utama yang dapat menyebar (prinsip emanasi) ke dalam bentuk manifestasi-Nya. Kedua, membedah Rumi dalam karya “Matsnawi” yang di dalamnya terdapat implementasi dari kitab “Fîhi Mâ Fî”, yaitu bentuk kecintaan terhadap Dzat yang menciptakan.

Dalam ekspresi sastranya ia tunjukkan dalam bentuk tarian Darwish. Tarian Darwish diiringi lantunan musik dengan syair kecintaan kepada Ilahi dan Nabi Muhammad. Dan penampilan (kostum) dan topi (torbush) yang memiliki simbol-simbol spiritual, kelahiran, kematian, dan keabadian bersama-Nya. Dua karya rumi tersebut menghasilkan kesimpulan terhadap karakter Rumi yang sebenarnya, bahwa Rumi adalah orang yang amat optimis bukan orang yang pesimis. Sebagian orang menganggap bahwa sufi selalu miskin, pesimis. Walaupun ditengah guncangan probematika kehidupan yang amat besar.

Bila sebagian besar sufi membatasi karya dan sastra mereka untuk menyingkapkan berbagai keburukan dan kekelaman dunia, Rumi justru mengambil sukap selangkah lebih maju ke depan untuk mencari jalan keluarnya. Meskipun ia juga mencam dan menyingkapkan berbagai keburukan dunia. Inilah pelajaran besar yang aku timba dari Rumi

 

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s