analisis filsafat

Paradoks Antara Sains dan Agama

Foto 0780

Di Indonesia, pengajaran kepada siswa kadang dibingungkan oleh dua spectrum besar pengetahuan, yakni berupa sekolah formal yang lebih banyak mengajarkan sains, dan sekolah agama (madrasah) yang lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama. Tentang penciptaan misalnya: saat pagi anak dihadapkan pada pelajaran untuk percaya pada evolusionisme, namun ketika sore hari tiba di madrasah, ia mesti mengubur dalam-dalam pelajaran pagi tadi, karena agama mengajarkan kreasionisme.

Tentu hal tersebut berakibat pada kekacauan berpikir jika, secara epistemologis, tidak diterangkan dengan baik.

Idealnya, penjelasan secara memadai, bagaimanapun, mesti tetap dilakukan. Tetapi hal itu hingga saat ini belum bisa dilakukan, lantaran di antara masing-masing “pegiat” pengetahuan tersebut jarang melakukan proses mediasi pengetahuan. Sehingga, dampak terburuknya menghinggap pada obyek pendidikan, yakni siswa.

Proses mediasi yang saya maksud ialah: hendaknya seorang pengajar, di wilayah manapun, memberi arahan bahwa pengetahuan yang sedang digeluti tersebut, walau bagaimanapun, masih bersifat hipotesis. Demikian pula dalam ilmu-ilmu agama. Hal ini penting untuk menjamin bahwa di antara dua wilayah tersebut tidak terjadi semangat “–isme” pengetahuan, yang kemudian menjadikannya menutup diri dari siraman model pengetahuan yang lain.

-isme pengetahuan—saintisme, religisme, filsafatisme, dan isme-isme yang lain—dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan. Pengetahuan apabila berada dalam derajat –isme, berarti ia tak lagi terbuka, ia sudah absolute, mengabsolutkan dirinya sendiri. Pertanyaan sederhananya, bagaimana mungkin suatu pengetahuan dapat berkembang dengan baik jika ia tidak mau membuka diri dari referensi pengetahuan yang lain?

Karena upaya pengabsolutan pengetahuan tidak lagi sesuai, maka jika kembali ke perbicangan awal, mengabsolutkan pengetahuan formal saja, atau pengetahuan non-formal saja tentu juga tidak benar—baik itu berupa produknya (ijazah, gelar dll), maupun materinya (evolusionisme, kreasionisme, dll). Yang mesti dilakukan adalah mendamaikan keduanya.

Lantas, pertanyaannya, di level mana rekonsiliasi itu diupayakan?

Jawaban atas persoalan ini masih dilema. Tetapi saya berpendapat, persandingan antara sains dan agama hanya mungkin dilakukan di wilayah praktis. Selagi ia berada di wilayah metodologis, tentu itu tidak bisa dilakukan. Pasalnya, sains dan agama, masing-masing memiliki karakter penyelidikan yang khas. Secara metodologis, tak bisa saling melengkapi.

Akhirnya, untuk persolan peniadaan dikotomi antara sains dan agama, maka secara policy, pemerintah hendaknya lebih peka terhadap gejala-gejala hilangnya lilin-lilin religiusitas akibat terlalu terdesak oleh lilin-lilin produk sains, yakni diantaranya, bernama teknologi.
Peka disini, bukan kemudian mencampuri urusan religi individu, namun lebih pada menegaskan garis demarkasi, sekali lagi secara praktis, antara sains dan agama, supaya kebingungan yang dialami oleh siswa tadi tidak terjadi lagi. Berupa kebijakan yang seperti apa dan bagaimana? Dari sini, saya belum menemukan jawabannya.

 

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s